เข้าสู่ระบบMikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menjadi pasangan klien Kama.
Setelah selesai, mereka dipanggil. Duduk dengan anggun di samping para bos besar. Kini acara lebih santai, pesta minum. Ada juga yang ke lantai dansa, menari melepas penat.
Dengan suara lembut dan manja, Mikha menyapa, "Om, mau tambah minum?" Kama hanya menoleh sebentar lalu menggeleng, tanpa melepas pandangan dari lawan bicaranya.
Mikha tahu, perhatian Kama lebih tertuju pada urusan bisnis daripada dirinya. Namun ia tak patah semangat. Ia harus bisa membuat Kama memilihnya lagi jika ada acara butuh plus one.
Saat pembicaraan semakin serius, Mikha dengan sengaja menggeser tubuhnya mendekat dan mengelus pelan paha Kama. Sentuhan itu begitu ringan, tapi cukup membuat Kama menoleh cepat dan berbisik dingin, "Jauhkan tanganmu." Wajah Mikha tetap tersenyum tipis, tanpa sedikit pun menampakkan rasa tersinggung atau malu. Keberanian dan sikap santainya malah membuat aura Mikha semakin menggoda.
Ketika musik mulai mengalun, Kama menyeret Mikha berdansa. Dalam irama yang pelan dan penuh ketegangan, Mikha memanfaatkan kesempatan untuk mencondongkan wajahnya, mencoba mengecup rahang Kama. Reaksi Kama spontan, matanya melebar dan suaranya bergetar, "Lancang sekali kau!" Tapi Mikha hanya terkekeh kecil, tahu betul dirinya dibayar untuk menemani, meski sikapnya terlalu berani untuk seorang pendamping biasa.
Di balik senyuman itu, Mikha menyimpan niat yang lebih dalam—mencuri perhatian dan membuka jalan menuju tujuan yang ia impikan.
*
*
Mikha berdiri di kamar Kama, mereka sudah selesai berpesta. Dengan senyum penuh arti, tangannya sudah hampir menyentuh kancing kemeja Kama. Matanya menyala-nyala, menunggu reaksi yang diharapkan.
"Om, mau aku menginap? Kalau iya, bayarannya mahal. Itu belum termasuk aku jadi plus one om di pesta tadi," suaranya menggoda, mencoba membuka pintu negosiasi dengan percaya diri.
Namun, Kama hanya menatapnya dingin, wajahnya tampak lelah dan sinis sekaligus.
"Kau pikir aku tertarik dengamu?" ucap Kama dengan nada kasar, suaranya tajam seperti pisau yang mengiris udara.
Ia menarik napas panjang, menepis tangan Mikha dengan kasar. Tubuhnya menolak, jelas tidak ingin disentuh, apalagi oleh wanita yang menurutnya berasal dari dunia malam yang penuh tipu daya. Matanya menatap lurus ke Mikha tanpa belas kasihan, memperlihatkan jarak yang nyata di antara mereka.
Mikha yang awalnya penuh harap, kini merasakan gelombang kekecewaan menyapu wajahnya. Bibirnya mengerucut, alisnya berkerut kesal. "Gagal lagi, ya?" pikirnya, sambil berdiri dengan pijakan yang berat.
“Pergilah, tugasmu sudah selesai!” usir Kama.
Mikha menatap Kama dengan senyum yang dipaksakan, matanya menyembunyikan perasaan malu yang mendalam. "Apa tidak ada tip untukku malam ini, Om?" suaranya terdengar manja namun penuh kepaksaaan.
Kama mengerutkan kening, bukannya dia sudah membayar mahal lengkap dengan tip. Dengan tidak tahu malunya wanita muda ini masih meminta lebihan bayaran.
Kama diam, dengan wajah dingin tanpa sedikit pun keraguan, meraih jasnya yang tergantung dan membuka dompet tebal berisi dolar. Tanpa berkata apa-apa, ia melemparkan beberapa lembar uang tepat di depan Mikha, suara kertas bergesekan memenuhi ruang itu seperti tamparan halus namun menusuk.
Degh!
Mikha terdiam sejenak, merasakan panas merayap di pipinya. Kesombongan Kama menusuk lebih dalam daripada uang yang baru saja dilemparkan.
Namun, kebutuhan mendesak mengalahkan harga dirinya. Dengan tawa yang pahit, ia merunduk dan meraih uang itu, suaranya bergetar saat berkata, "Terima kasih, Om." Di balik tawa itu, Mikha menyesali keadaan yang memaksanya menerima kemurahan hati yang terasa seperti hinaan.
Jika bukan karena biaya rumah sakit ibu yang terus menumpuk, dia pasti takkan pernah mau berada di posisi ini.
Suara pintu yang tertutup keras menandai berakhirnya negosiasi yang gagal, meninggalkan Kama dalam keheningan dan rasa lega yang tak bisa diungkapkan.
*
*
Mikha sudah pergi.
Menyisakan Kama duduk di sudut ruangan hotel, yang remang. Matanya tak lepas mengamati lokasi di mana beberapa jam lalu, Mikha yang dengan santainya memunguti lembar uang dolar tergeletak di lantai, lemparan kasar Kama tadi.
Masih Kama ingat, bagaimana wanita muda itu menunduk, meraih uang itu sambil tersenyum tipis, tapi tawanya terdengar aneh, seperti dipaksakan. Suara itu mengusik ketenangan Kama, membuat dadanya sesak tanpa alasan jelas.
Kama menggeleng pelan, berusaha menenangkan pikirannya yang mulai bergejolak. Apakah dia benar-benar keterlaluan? Atau hanya mood yang buruk yang membuatnya begitu sinis?
Rasa tidak nyaman itu terus menggerogoti, membuat Kama menyesali sikapnya sendiri. Namun, ia tetap menahan diri, menelan amarah yang ingin keluar. Dalam keheningan yang tegang, hanya terdengar suara napasnya yang berat. Sampai ponselnya berbunyi, dari anaknya yang Kama tahu pasti hanya menghubunginya untuk meminta uang.
“Halo sayang..”
“Papaaaaa…”
*
*
Lampu neon merah-biru berkedip nggak sabaran di atas pintu _Velvet_. Bass dari dalam sudah ngebom dari luar, membuat dada bergetar duluan sebelum masuk.
Mikha keluar dari taksi, betis jenjangnya langsung jadi pusat perhatian. Dress hitam backless, belahan tinggi sampai paha, dipadu heels 12 cm yang bikin jalannya harus ekstra hati-hati. Rambutnya dibiarkan tergerai, lipstik merah menyala.
Di sampingnya, Rara tidak kalah. Crop top silver berkilau cuma nutup dada, dipadu rok mini kulit yang tiap gerak bikin kilau. Rambut pendeknya diwarnai pink, makeup smokey bikin matanya makin tajam.
Satpam di pintu melirik dua kali, lalu langsung buka jalan.
“Malam, Kak. Selamat bersenang-senang,” katanya, suara sedikit tercekat.
Begitu masuk, hawa panas, keringat, dan aroma parfum mahal langsung nyamber. Lantai dansa udah penuh. Lampu strobo bikin semua orang kelihatan setengah nyata.
Rara langsung narik tangan Mikha.
“Udah lama nggak liar begini. Malam ini nggak ada kerjaan, nggak ada deadline, nggak ada cowok nyebelin. Cuma kita, musik, dan minuman mahal,” katanya sambil teriak di atas dentuman bass.
Mikha ketawa, mengangkat dagu. Mata mereka menyapu seisi club.
“Deal. Tapi kalau ada yang berani ganggu, biarin gue yang duluan,” bisiknya, senyumnya nakal.
Rara mengacungkan gelas yang baru diambil bartender. Keduanya memilih bersenang-senang usai menemani klien yang tidak beruntung. Gagal menarik perhatian klien, yang tidak berujung ‘dipelihara’.
Kemarin malam, sampai kamar hotel Mikha langsung mandi, dibawah deru air shower, air mata menetes. Bayangan bagaimana dia memungut lembaran uang dolar, masih tersita di bekanya.
Mikha merasa tidak punya harga diri.
Kalau saja dia masih mementingkan egonya, dijamin dia akan memilih untuk keluar, setelah sebelumnya memaki-maki pria sialan tidak tahu diri itu.
Tapi tidak.. tidak dia lakukan. Karena Mikha.. butuh uang!
“Setuju. Kita masuknya seksi, pulangnya tetap angkuh.”
Dan lantai dansa pun menelan mereka berdua, di antara sorotan lampu dan desir musik yang nggak mau berhenti.
Mikha dan Rara berdiri di dekat bar, wajah mereka berseri-seri oleh sensasi kebebasan yang selama ini mereka rindukan di Bali. Suara tawa mereka bercampur dengan dentingan gelas dan teriakan pengunjung lain. Rara mengangkat gelasnya, meneguk minuman sambil melirik Mikha yang ikut tersenyum lepas.
Tiba-tiba, seorang pria tua dengan jas mahal mendekati mereka. Matanya menyapu Rara dengan tatapan genit yang membuat bulu kuduk keduanya meremang. "Malam yang indah, bukan? Boleh aku temani kalian?" suaranya berat namun penuh maksud tersembunyi.
Rara mengerjap, cepat menatap Mikha, keduanya saling mengerti tanpa perlu kata-kata.
"Kami nggak tertarik, Pak," jawab Mikha tegas, menempatkan diri di depan Rara. Rara menambahkan dengan nada dingin, "Makasih, tapi tolong jangan ganggu kami."
Pria tua itu tersenyum sinis, merasa harga dirinya terluka. "Jangan sombong, Nak. Aku bisa buat kalian berdua lupa dunia luar," katanya sambil mendekatkan wajahnya lebih dekat ke Rara. Rara mundur setapak, kemudian dengan suara keras ia berkata, "Pergi! Jangan ganggu kami, pak tua!"
Kemarahan pria itu meledak. Dengan cepat, tangannya melayang ke wajah Rara dan menamparnya keras. Suara tamparan menggema di antara dentuman musik. Rara terhuyung, matanya membelalak menahan sakit.
Mikha seketika marah. Ia merangsek maju, mendorong pak tua itu setelahnya merangkul bahu Rara dengan perlindungan. "Sudah cukup! Jangan sentuh dia lagi!" suaranya menggema, penuh kemarahan dan tekad.
“Sialan!” maki Rara marah.
Dengan emosi tinggi dia menerjang pak tua itu, menendang perut pak tua. Hingga satpam menghentikan mereka.
“Pak tua sialan, busuk kau di neraka!” maki Rara marah.Pria tua itu terdiam sesaat, menyadari perlawanan dari dua wanita muda itu, lalu dengan geram berbalik pergi meninggalkan mereka.
Rara mengusap pipinya yang merah, napasnya tercekat tapi matanya menyala penuh keberanian.
“Sabar ya Ra.” Mikha menggenggam tangannya erat, memberi kekuatan tanpa kata.
Di tengah keramaian klub malam, mereka tahu bahwa malam itu bukan hanya tentang kebebasan, tapi juga tentang batas yang tak boleh dilanggar. **
Malam itu, di dalam apartemen mewah dengan pemandangan gemerlap kota, Mikha berdiri kaku di pinggir ranjang. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara jarum jam yang seolah mengejek keraguannya. Di sudut matanya, tumpukan tagihan rumah sakit ibunya dan biaya terbayang dengan sangat jelas. Mikha butuh uang—bukan dalam hitungan minggu, melainkan besok pagi.Dan Kama, pria matang dengan setelan jas mahal dan wangi kayu cendana yang tenang, adalah satu-satunya pelariannya.Sebagai sugar baby, Mikha tahu betul konsekuensi dari perjanjian tak tertulis ini. Kama telah mentransfer sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan seluruh masalah finansialnya sore tadi. Jadi, ketika Kama melangkah mendekat setelah melepas jasnya, Mikha memejamkan mata. Ia sudah bersiap menyerahkan kepemilikan tubuhnya sebagai bentuk pambayaran yang pantas."Mikha," panggil Kama, suaranya dalam dan pelan, memecah hening.Mikha memaksakan senyum, jarinya yang gemetar mulai meraih kancing kemejanya
Setengah jam kemudian, motor berhenti di depan rumah sakit. Mikha segera turun. Begitu memasuki lobi, aroma khas antiseptik langsung menyambutnya. Tempat yang kini terasa seperti rumah keduanya. Langkahnya otomatis menuju lift, lalu ke lantai tujuh.Ruang perawatan penyakit dalam. Di depan kamar nomor 712, Mikha berhenti sejenak.Menghapus sisa emosi di wajahnya, menarik senyum. Lalu membuka pintu."Mama..."Seorang wanita paruh baya yang terbaring di ranjang langsung menoleh.Wajahnya pucat.Tubuhnya kurus.Namun senyumnya selalu hangat."Mikha."Seketika hati Mikha mencair. Semua kemarahan yang dibawanya dari kampus perlahan menghilang. Mikha menghampiri ranjang dan mencium tangan ibunya."Gimana hari ini?" tanya Mikha berusaha ceria seperti biasanya."Mama baik, nak.""Itu jawaban setiap hari."Ibunya tertawa kecil. "Karena memang Mama lebih baik."Mikha menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam tangan sang ibu.Hangat.Rapuh.Dan menjadi alasan terbesar Mik
Mikhayla Bintari berlari menuruni tangga gedung fakultas begitu dosen menutup kelas sore itu. Tas ranselnya bergoyang di punggung, sementara jemarinya sibuk mengecek waktu di ponsel.Setengah jam lagi jam besuk ibunya di rumah sakit berakhir.Dan malam ini, sebelum pukul tujuh, ia juga harus sudah berada di apartemen Kama.Pria yang menjadi sugar daddy-nya itu sudah mengirim pesan sejak siang."Dinner di apartemen. Jangan telat."Singkat. Dingin. Khas Kama.Tidak mau telat, ini ATM berjalan Mikha. Nanti merajuk, dia yang repot.Mikha mengembuskan napas panjang. Hidupnya terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Kuliah, rumah sakit, lalu apartemen Kama. Begitu terus setiap hari.“Begini banget sih hidup sugar baby,” gumam Mikha sedikit mengeluh.Saat berjalan cepat melintasi koridor kampus yang mulai sepi, tiba-tiba seorang mahasiswa laki-laki menubrak punggungnya cukup keras.Bruk!"Aduh!"Mikha hampir kehilangan keseimbangan ketika seorang mahasiswa laki-laki buru-buru mundur."Ma
Keheningan kembali memenuhi kamar mandi, Mikha sudah selesai menggosok punggung Kama. Sekarang ia duduk di kursi kecil dekat bathtub sambil memainkan ponselnya.Sesekali melirik saldo rekeningmya, kebiasaan orang miskin yang mendadak kaya."Kau menginap malam ini." Suara Kama terdengar begitu saja.Mikha yang sedang menghitung bunga deposito hampir menjatuhkan ponselnya."Hah?""Menginap."Mikha menoleh. Kama masih santai di dalam bathtub.Seolah baru saja meminta tambahan sendok, bukan meminta seorang wanita menginap.Mikha langsung memasang ekspresi pebisnis."Om." Suara manjanya mulai terdengar manis di telinga Kama."Hm.""Itu layanan premium."Kama menatapnya, tatapan datar. Tatapan yang biasanya membuat bawahan perusahaan berkeringat. Sayangnya Mikha kebal, yang penting rekeningnya gemuk."Premium?""Iya."Kama tertawa sinis, "Kau sedang menjual paket?""Tentu."Mikha berdiri lalu menghitung dengan jari. "Temenin makan, satu paket. Temenin ngobrol, paket regular-""Kalau mengina
Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata memandang padanya. Mikha mahasiswa cantik, jurusan bisnis memang sudah dikenal di kalangan mahasiswa lainnya.Dari arah berlawanan, Viola Debby datang. Berjalan kelewat santai dengan dua dayang-dayangnya Priska dan Citra. Entah apa yang mereka bicarakan sambil tertawa cekikikan tidak jelas. Tas Chanel nyantol di bahu, HP di tangan. Tidak melihat depan.Bugh..Tabrakan kecil. Buku Mikha menyenggol bahu Vio. Kopi di tangan Vio tumpah ke blouse putih yang ia kenakan.Vio berhenti mendadak. Lihat noda di baju. Langsung meledak.Arkh..“Anjin*! Lo buta apa, hah?!”Mikha berhenti, tidak panik. Tidak angkat suara, hanya menatatap Vio, tenang.“Jalan lihat ke depan, lo. Kopinya mahal, sayang kalau keb
Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberapa teman Kama tak henti memuji, “Gadismu cantik sekali,” suara mereka terdengar berbisik penuh kekaguman.Kama hanya membalas dengan senyum tipis, lalu dengan langkah ringan mendekat, meraih tangan Mikha dan mengajaknya berdansa.Mikha yang sedang berdiri di dekat stand minuman terkejut, namun juga tak kuasa menolaknya. “Om ngagetin deh,” bisiknya dan menerima tangan Kama.Di tengah irama musik yang mengalun lembut, Kama mencondongkan tubuhnya ke dekat telinga Mikha, suaranya berbisik hangat namun penuh peringatan, “Jangan terlalu lama tersenyum. Semua orang akan mengira kamu menggoda pria mereka.”Tatapan Mikha membeku sekejap, matanya melebar karena terkejut. Dia tidak pernah bermaksud sepe
Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini mauny
Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah set
Masih di Beach Club, Seminyak-Bali.“Kesana saja yuk,” ajak Mikha, lebih baik mereka cari angin dulu.Toh mereka sampai minggu depan di Bali, jadi aman kalau hari ini mereka tidak dapat mangsa.Mikha berdiri tegap di tepi pantai, angin laut menerbangkan helai rambut keritingnya yang terurai panjang
“Ra, yakin aman?” tanya Mika mendadak gugup masuk ke sebuah beach club di Bali.Biasanya dia rajin ke night club, tapi berbeda. Jika biasanya bersenang-senang, kali ini dia akan mencari mangsa.“Amanlah,” ujar Rara, teman malam Mika.“Lo yakin kan, nggak ada yang kenal kita?” sambung Mikha lagi, ma







