Início / Young Adult / Dekapan Hangat Papa Rivalku / 4. Menyentil Harga Diri Mikha

Compartilhar

4. Menyentil Harga Diri Mikha

Autor: Miss Nonce
last update Data de publicação: 2026-05-12 17:48:11

Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menjadi pasangan klien Kama.

Setelah selesai, mereka dipanggil. Duduk dengan anggun di samping para bos besar. Kini acara lebih santai, pesta minum. Ada juga yang ke lantai dansa, menari melepas penat.

Dengan suara lembut dan manja, Mikha menyapa, "Om, mau tambah minum?" Kama hanya menoleh sebentar lalu menggeleng, tanpa melepas pandangan dari lawan bicaranya.

Mikha tahu, perhatian Kama lebih tertuju pada urusan bisnis daripada dirinya. Namun ia tak patah semangat. Ia harus bisa membuat Kama memilihnya lagi jika ada acara butuh plus one.

Saat pembicaraan semakin serius, Mikha dengan sengaja menggeser tubuhnya mendekat dan mengelus pelan paha Kama. Sentuhan itu begitu ringan, tapi cukup membuat Kama menoleh cepat dan berbisik dingin, "Jauhkan tanganmu." Wajah Mikha tetap tersenyum tipis, tanpa sedikit pun menampakkan rasa tersinggung atau malu. Keberanian dan sikap santainya malah membuat aura Mikha semakin menggoda.

Ketika musik mulai mengalun, Kama menyeret Mikha berdansa. Dalam irama yang pelan dan penuh ketegangan, Mikha memanfaatkan kesempatan untuk mencondongkan wajahnya, mencoba mengecup rahang Kama. Reaksi Kama spontan, matanya melebar dan suaranya bergetar, "Lancang sekali kau!" Tapi Mikha hanya terkekeh kecil, tahu betul dirinya dibayar untuk menemani, meski sikapnya terlalu berani untuk seorang pendamping biasa.

Di balik senyuman itu, Mikha menyimpan niat yang lebih dalam—mencuri perhatian dan membuka jalan menuju tujuan yang ia impikan.

*

*

Mikha berdiri di kamar Kama, mereka sudah selesai berpesta. Dengan senyum penuh arti, tangannya sudah hampir menyentuh kancing kemeja Kama. Matanya menyala-nyala, menunggu reaksi yang diharapkan.

"Om, mau aku menginap? Kalau iya, bayarannya mahal. Itu belum termasuk aku jadi plus one om di pesta tadi," suaranya menggoda, mencoba membuka pintu negosiasi dengan percaya diri.

Namun, Kama hanya menatapnya dingin, wajahnya tampak lelah dan sinis sekaligus.

"Kau pikir aku tertarik dengamu?" ucap Kama dengan nada kasar, suaranya tajam seperti pisau yang mengiris udara.

Ia menarik napas panjang, menepis tangan Mikha dengan kasar. Tubuhnya menolak, jelas tidak ingin disentuh, apalagi oleh wanita yang menurutnya berasal dari dunia malam yang penuh tipu daya. Matanya menatap lurus ke Mikha tanpa belas kasihan, memperlihatkan jarak yang nyata di antara mereka.

Mikha yang awalnya penuh harap, kini merasakan gelombang kekecewaan menyapu wajahnya. Bibirnya mengerucut, alisnya berkerut kesal. "Gagal lagi, ya?" pikirnya, sambil berdiri dengan pijakan yang berat.

“Pergilah, tugasmu sudah selesai!” usir Kama.

Mikha menatap Kama dengan senyum yang dipaksakan, matanya menyembunyikan perasaan malu yang mendalam. "Apa tidak ada tip untukku malam ini, Om?" suaranya terdengar manja namun penuh kepaksaaan.

Kama mengerutkan kening, bukannya dia sudah membayar mahal lengkap dengan tip. Dengan tidak tahu malunya wanita muda ini masih meminta lebihan bayaran.

Kama diam, dengan wajah dingin tanpa sedikit pun keraguan, meraih jasnya yang tergantung dan membuka dompet tebal berisi dolar. Tanpa berkata apa-apa, ia melemparkan beberapa lembar uang tepat di depan Mikha, suara kertas bergesekan memenuhi ruang itu seperti tamparan halus namun menusuk.

Degh!

Mikha terdiam sejenak, merasakan panas merayap di pipinya. Kesombongan Kama menusuk lebih dalam daripada uang yang baru saja dilemparkan.

Namun, kebutuhan mendesak mengalahkan harga dirinya. Dengan tawa yang pahit, ia merunduk dan meraih uang itu, suaranya bergetar saat berkata, "Terima kasih, Om." Di balik tawa itu, Mikha menyesali keadaan yang memaksanya menerima kemurahan hati yang terasa seperti hinaan.

Jika bukan karena biaya rumah sakit ibu yang terus menumpuk, dia pasti takkan pernah mau berada di posisi ini.

Suara pintu yang tertutup keras menandai berakhirnya negosiasi yang gagal, meninggalkan Kama dalam keheningan dan rasa lega yang tak bisa diungkapkan.

*

 *

Mikha sudah pergi.

Menyisakan Kama duduk di sudut ruangan hotel, yang remang. Matanya tak lepas mengamati lokasi di mana beberapa jam lalu, Mikha yang dengan santainya memunguti lembar uang dolar tergeletak di lantai, lemparan kasar Kama tadi.

Masih Kama ingat, bagaimana wanita muda itu menunduk, meraih uang itu sambil tersenyum tipis, tapi tawanya terdengar aneh, seperti dipaksakan. Suara itu mengusik ketenangan Kama, membuat dadanya sesak tanpa alasan jelas.

Kama menggeleng pelan, berusaha menenangkan pikirannya yang mulai bergejolak. Apakah dia benar-benar keterlaluan? Atau hanya mood yang buruk yang membuatnya begitu sinis?

Rasa tidak nyaman itu terus menggerogoti, membuat Kama menyesali sikapnya sendiri. Namun, ia tetap menahan diri, menelan amarah yang ingin keluar. Dalam keheningan yang tegang, hanya terdengar suara napasnya yang berat. Sampai ponselnya berbunyi, dari anaknya yang Kama tahu pasti hanya menghubunginya untuk meminta uang.

“Halo sayang..”

“Papaaaaa…”

*

*

Lampu neon merah-biru berkedip nggak sabaran di atas pintu _Velvet_. Bass dari dalam sudah ngebom dari luar, membuat dada bergetar duluan sebelum masuk.

Mikha keluar dari taksi, betis jenjangnya langsung jadi pusat perhatian. Dress hitam backless, belahan tinggi sampai paha, dipadu heels 12 cm yang bikin jalannya harus ekstra hati-hati. Rambutnya dibiarkan tergerai, lipstik merah menyala.

Di sampingnya, Rara tidak kalah. Crop top silver berkilau cuma nutup dada, dipadu rok mini kulit yang tiap gerak bikin kilau. Rambut pendeknya diwarnai pink, makeup smokey bikin matanya makin tajam.

Satpam di pintu melirik dua kali, lalu langsung buka jalan.

“Malam, Kak. Selamat bersenang-senang,” katanya, suara sedikit tercekat.

Begitu masuk, hawa panas, keringat, dan aroma parfum mahal langsung nyamber. Lantai dansa udah penuh. Lampu strobo bikin semua orang kelihatan setengah nyata.

Rara langsung narik tangan Mikha.

“Udah lama nggak liar begini. Malam ini nggak ada kerjaan, nggak ada deadline, nggak ada cowok nyebelin. Cuma kita, musik, dan minuman mahal,” katanya sambil teriak di atas dentuman bass.

Mikha ketawa, mengangkat dagu. Mata mereka menyapu seisi club.

“Deal. Tapi kalau ada yang berani ganggu, biarin gue yang duluan,” bisiknya, senyumnya nakal.

Rara mengacungkan gelas yang baru diambil bartender. Keduanya memilih bersenang-senang usai menemani klien yang tidak beruntung. Gagal menarik perhatian klien, yang tidak berujung ‘dipelihara’.

Kemarin malam, sampai kamar hotel Mikha langsung mandi, dibawah deru air shower, air mata menetes. Bayangan bagaimana dia memungut lembaran uang dolar, masih tersita di bekanya.

Mikha merasa tidak punya harga diri.

Kalau saja dia masih mementingkan egonya, dijamin dia akan memilih untuk keluar, setelah sebelumnya memaki-maki pria sialan tidak tahu diri itu.

Tapi tidak.. tidak dia lakukan. Karena Mikha.. butuh uang!

“Setuju. Kita masuknya seksi, pulangnya tetap angkuh.”

Dan lantai dansa pun menelan mereka berdua, di antara sorotan lampu dan desir musik yang nggak mau berhenti.

Mikha dan Rara berdiri di dekat bar, wajah mereka berseri-seri oleh sensasi kebebasan yang selama ini mereka rindukan di Bali. Suara tawa mereka bercampur dengan dentingan gelas dan teriakan pengunjung lain. Rara mengangkat gelasnya, meneguk minuman sambil melirik Mikha yang ikut tersenyum lepas.

Tiba-tiba, seorang pria tua dengan jas mahal mendekati mereka. Matanya menyapu Rara dengan tatapan genit yang membuat bulu kuduk keduanya meremang. "Malam yang indah, bukan? Boleh aku temani kalian?" suaranya berat namun penuh maksud tersembunyi.

Rara mengerjap, cepat menatap Mikha, keduanya saling mengerti tanpa perlu kata-kata.

"Kami nggak tertarik, Pak," jawab Mikha tegas, menempatkan diri di depan Rara. Rara menambahkan dengan nada dingin, "Makasih, tapi tolong jangan ganggu kami."

Pria tua itu tersenyum sinis, merasa harga dirinya terluka. "Jangan sombong, Nak. Aku bisa buat kalian berdua lupa dunia luar," katanya sambil mendekatkan wajahnya lebih dekat ke Rara. Rara mundur setapak, kemudian dengan suara keras ia berkata, "Pergi! Jangan ganggu kami, pak tua!"

Kemarahan pria itu meledak. Dengan cepat, tangannya melayang ke wajah Rara dan menamparnya keras. Suara tamparan menggema di antara dentuman musik. Rara terhuyung, matanya membelalak menahan sakit.

Mikha seketika marah. Ia merangsek maju, mendorong pak tua itu setelahnya merangkul bahu Rara dengan perlindungan. "Sudah cukup! Jangan sentuh dia lagi!" suaranya menggema, penuh kemarahan dan tekad.

“Sialan!” maki Rara marah.

Dengan emosi tinggi dia menerjang pak tua itu, menendang perut pak tua. Hingga satpam menghentikan mereka.

“Pak tua sialan, busuk kau di neraka!” maki Rara marah.

Pria tua itu terdiam sesaat, menyadari perlawanan dari dua wanita muda itu, lalu dengan geram berbalik pergi meninggalkan mereka.

Rara mengusap pipinya yang merah, napasnya tercekat tapi matanya menyala penuh keberanian.

“Sabar ya Ra.” Mikha menggenggam tangannya erat, memberi kekuatan tanpa kata.

Di tengah keramaian klub malam, mereka tahu bahwa malam itu bukan hanya tentang kebebasan, tapi juga tentang batas yang tak boleh dilanggar. **

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   19. Panggilan Rahasia Dari Kota Mode

    Kama memenuhi janjinya mengajak Mikha jalan-jalan berdua di Paris, Perancis. Belanja menjadi destinasi pilihan Mikha ketika Kama mengajaknya keluar hotel. Angin sore Paris berhembus lembut, membawa aroma kopi hangat dari kafe-kafe pinggir jalan di kawasan Rue Saint-Honoré. Bagi kebanyakan orang, tempat ini adalah surga dunia. Deretan butik jenama mewah dunia berjejer rapi, memamerkan kemewahan yang sanggup membuat mata siapa saja terbelalak.Dan di sinilah Mikha sekarang—berjalan anggun dengan tangan kiri menenteng tiga kantong belanjaan berukuran besar dari butik desainer ternama, sementara tangan kanannya menggandeng lengan kokoh Paizani Kama Kanigara.Kama menepati janjinya. Apapun yang Mikha tunjuk, berapapun harganya, pria matang itu tidak pernah melarang. Kartu kredit black card miliknya bergesek mulus tanpa butuh waktu lama. Bagi Kama, uang bukanlah masalah besar jika itu bisa membuat sugar baby kesayangannya tersenyum puas.“Bagus tidak?” tanyanya pada Kama.Di tangan Mikha du

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   18. Batas Seorang Simpanan

    Mikha menggeliat kala merasakan hentakan di atas ranjang. Membuka mata yang sepat, ia melihat Kama duduk di tepi ranjang seraya mengancingkan kemeja diujung tangannya.“Beb..”Kama menoleh, tersenyum tipis. “Tidur saja, kalau masih mengantuk.”Mikha beranjak duduk dengan pelan, matanya masih mengantuk efek semalam tidak bisa tidur.“Beb, sudah mau jalan?”“Humm..”Kama berdiri lalu memakai jasnya. Mikha melirik, diatas meja sudah siap sarapan pagi di Kota Paris.“Kamu yang siapin sarapannya?”“Humm, kamu sarapan di sini saja.”“Oke,” sahut Mikha.Kama lalu mengambil ponselnya, menoleh ke Mikha. “Hari ini kamu di kamar saja.”“Kenapa? Kan aku mau jalan-jalan,” kata Mikha.“Besok saya temani, hari ini dikamar.”“Babe_”“Menurut Mikha,” potong Kama tegas.Mikha bisa apa selain manyun, dia mengangguk patuh. Kama mendekat dan membelai rambutnya.“Good girl,” ucapnya dan mengecup kening Mikha lembut.Tanpa pamit Kama meninggalkan kamar, Mikha hanya menatap punggung pria itu hingga menghilan

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   17. Kehangatan Semu di Kota Paris

    Baru kali ini Mikha keluar negeri dan naik pesawat pribadi, dengan fasilitas lengkap. Semua ada, Mikha sampai terpukau. Sekaya apa sugar Daddy-nya ini, hingga memiliki pesawat pribadi.Saat ini Mikha berada di sebuah suite room hotel mewah di Kota Paris, dengan pemandangan indah. Duh, rasanya Mikha tidak sabar untuk jalan-jalan berdua dengan Kama. Di luar negeri tidak ada yang mengenal mereka, Mikha rasa harusnya aman ya. Sayangnya, baru hari pertama Kama menyuruh tinggal di hotel saja.Kama baru saja keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi satin hitam yang agak terbuka di dada. Rambutnya masih sedikit basah, menyebarkan aroma sandalwood dan expensive taste yang langsung memenuhi ruangan suite Le Meurice.Mikha yang sedang duduk bersila di pinggir tempat tidur, mendadak tidak fokus. Matanya tanpa sadar memindai penampilan Kama.Gila ya, batin Mikha gusar. Udah tau gue lagi ngambek, dia malah pamer tembok dada sama papan gilasan premium begitu. Mana itu bahu lebar penopang masa depan

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   16. Kunjungan Kenegaraan di Istana Merah Muda

    Mikha mengeratkan selimut di dadanya, usai percintaannya dengan Paizani Kama Kanigara, sugar Daddy kesayangannya. Menyunggingkan senyum menggemaskan, Mikha menggigit bibir bawahnya teringat bagaimana Kama menerjangnya dari ruang tamu menuju kamar, dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.Kama yang menaiki tubuhnya, memberikan kecupan sehangat sutra. Begitu lembut hingga Mikha hanya bisa memejamkan matanya, tatapan Kama yang penuh damba padanya. Membuat Mikha tertunduk lemas, sugar daddynya ini tidak kaleng-kaleng pesonanya.Kini, sugar daddynya itu tengah berdiri dengan ponsel di tangan seraya melihat pemandangan malam di apartemen mewah mereka yang terletak di lantai 25.Kama berdiri dengan wibawa yang tak bisa dibantah, meski usianya sudah di akhir empat puluhan, tapi justru di situlah letak pesonanya. Rambut hitam pekat yang kini diselingi warna perak di sekitaran pelipis, tidak banyak. Tapi justru itu yang membuat pemilik perusahaan teknologi, FnB dan perhotelan itu terlihat se

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   15. Alasan Menjadi Sugar Baby

    Mikha melangkah masuk ke ruang kuliah dengan langkah pelan, matanya masih sembab akibat kurang tidur. Kemarin dia terpaksa bolos kuliah, karena Om nakalnya tidak berhenti mengajarnya dengan kenikmatan dunia. Tapi tidak masalah, selesainya Mikha diberi hadiah mewah. Sebuah kalung dengan liontin bunga, cantik sekali.Tiba-tiba, suara tawa cempreng memecah keheningan. Vio muncul bersama tiga gadis yang selalu menempel bak parasite, lengkap dengan senyum sok cantik mereka."Ada yang bolos nih, dua hari nggak kuliah Kerja rodi banget nih," sindir Citra, salah satu dayang-dayang Vio, sambil melirik tajam ke arah Mikha.Vio ikut tertawa, suaranya penuh ejekan, "Buat apa sih?”Priska, salah satu dari mereka tidak ketinggalan. “Tuntutan hiudp kali, Cit. Kalau nggak banting tulang begitu, mau makan apa coba?"“Kalau buat makan, kalau cuma buat gaya fashion kelas atas tapi nggak sampai atas gimana,” celetuk Citra lagi mneyindir keras.“Pengan nggak nethink, tapi kok nggak bisa!” Priska tertawa s

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   14. Sarapan Mikha (21+)

    Esok paginya, Mikha sudah berkutat di dapur minimalis apartemen mewah Kama. Aroma harum mentega yang meleleh di atas wajan memenuhi dapur, aroma yang memubuat orang tergoda. Mikha berdiri santai mengenakan kemeja putih longgar, dengan cekatan mengocok telur dan menyiapkan roti tawar. Sarapan yang sangat sederhana—hanya scrambled eggs gurih dan roti panggang hangat—tapi cukuplah untuk memulai hari di apartemen megah berlantai tinggi tersebut.Di tempat ini, Mikha memang tak perlu pusing memikirkan hal-hal rumit. Segala kebutuhan hidupnya, mulai dari bahan makanan segar yang selalu diisi ulang, tagihan bulanan, hingga fasilitas kelas atas, semuanya sudah terjamin dengan sempurna.Saat Mikha sedang membalik roti panggangnya, dua lengan kekar tiba-tiba melingkar lembut di pinggangnya dari belakang. Kehangatan langsung menyapu punggung Mikha saat Kama menyandarkan dagunya di bahu wanita itu."Selamat pagi," bisik Kama dengan suara serak khas bangun tidur, menyapa tepat di dekat telinga Mik

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   7. Benci, Dendam, dan Seorang Sugar Daddy

    Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata me

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   6. Gadis Bayaran Om Kama

    Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberap

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   5. Temani Saya Selama di Bali!

    Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini mauny

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   3. Plus One om Duda

    Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah set

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status