Pengakuan Adrian tempo hari cukup memengaruhi Tala. Ia jadi banyak berpikir. Pria yang dulu terasa mustahil menyukainya ternyata bersedia menunggunya sampai kontraknya selesai, bahkan tak mempermasalahkan jika nanti Tala berstatus janda.Secara logika, hidup bersama Adrian terasa lebih aman. Ia terbuka soal perasaannya, tak banyak menyimpan siasat, dan Tala tak pernah merasa harus menebak-nebak maksudnya setiap kali mereka berbicara.Tanpa sadar, Tala tenggelam menatap maket pemberian Adrian di meja kerjanya.Sampai suara Geza yang sejak tadi memanggilnya tak juga ia gubris.“Segitu berharganya itu maket?” sindir Geza.Tala baru menoleh. “Kamu ngapain ke sini, Za?”“Tidur, lah. Ada Bude Sinta. Saya nunggu kamu di kamar, nggak dateng-dateng.” Geza mengeluh.“Iya, sorry. Aku tadi kelarin kerjaan dulu.”“Pekerjaan atau ngelamunin Adrian?” todong Geza.“Kamu mau ngajak debat kusir lagi?”“Iya, kalau kamu respons saya sambil jutek kayak gitu,” ujar Geza sambil berlalu. Suaranya datar, cende
Read more