تسجيل الدخولHai halo guys masih nungguin cerita om eja dan tata nya Sansa? Life after break up om eja, lembur lembur lembur. Eh nggak break up juga sih kan nggak pacaran, cuma hts dalam pernikahan dan statusnya sekarang masih nikah-nikahan malah hahah intinya masa galau om Eja ini dan masanya Tata mikir keras. Dia ini udah lama jadi backburner jadi masih ada was-was masih sama takut kalah. Apalagi imej manipulatif dan penuh intriknya Geza tuh masih nempel jadi Tala pilih jalur aman. Cerai katanya terus otw Papua wkwkwk Selamat menikmati perjalanan maju mundurnya nikah demi ponakan ini. Enjoy
Malam itu, Geza masih duduk di kursi makan ketika Tala selesai mencuci piring sisa makan malam. Sudah dua bulan mereka berada dalam dinamika seperti ini—tetap bisa berbicara jika ada yang perlu dibicarakan, tetapi selebihnya hanya hening dan jarak canggung.Tala mengeringkan tangannya, lalu duduk di seberang pria itu. Geza masih sibuk dengan ponselnya, wajahnya tenang dan sikapnya formal seperti biasa.Ada sesuatu yang memang harus mereka bicarakan. Soal Janitra. Jadi mau tak mau Tala membuka percakapan.“Soal Janitra... kamu yakin bisa beresin semuanya dalam sepuluh bulan ini?”Geza mengangkat pandangan dari ponselnya. “Kenapa nanya gitu?”Tala mengetuk-ngetukkan ujung jarinya di meja sebelum akhirnya melanjutkan maksudnya.“Kemarin Raga datang ke ruangan aku. Dia minta dikasih kesempatan dan mau berdiri di pihak kita.”Geza mengangguk pelan, seolah kedatangan Raga memang sudah masuk dalam perhitungannya.“Perusahaan Mbak Nadira makin goyah. Jelas dia mulai bergerak sendiri di luar k
“Bunda Yaya cantik banget, Tata. Ayah Yaya juga ganteng… kayak Om Eja.”Sansa menunjuk foto di layar tablet Tala. Di sana terpampang foto pernikahan Jani dan Arka.Tala tersenyum kecil.Di usianya yang baru empat tahun, Sansa mulai mengerti bahwa Ayah dan Bundanya sudah tidak ada. Kata Tala, mereka sekarang berada di tempat yang tenang.“Yayanya mana, Tata? Kok nggak ada?”“Yaya masih jauh,” jawab Tala lembut. “Ayah sama Bunda Yaya kan baru menikah.”Sansa mengangguk-angguk, lalu menatap foto itu lagi.“Tata…”“Iya?”“Kalau Yaya peluk fotonya… Bunda tahu nggak?”Tala tersenyum tipis. “Tahu.”“Kalau Yaya bilang ‘Yaya kangen’?”“Bunda juga tahu.”Sansa mengangguk puas.“Berarti Yaya nggak sendirian, ya, Tata?”Seketika mata Tala memanas, ia langsung menarik Sansa ke dalam pelukannya.“Nggak. Yaya nggak pernah sendirian.”Sansa hari ini begitu cerewet sekaligus pengertian. Geza tidak menyukai sesuatu yang kotor atau berantakan, dan ajaibnya, Sansa tumbuh menjadi anak yang sangat tertib. T
Geza terdiam beberapa detik mendengar jawaban Tala. Tatapannya tak beranjak dari wajah perempuan itu.“Why?” tanyanya pelan.“You really don’t love me?”“Kamu yang nggak cinta aku,” sahut Tala pelan.Geza mengembuskan napas kasar. Ada frustrasi yang akhirnya lolos dari ketenangannya.“Apa yang saya tunjukkan selama ini nggak cukup buat bikin kamu paham kalau saya secinta itu sama kamu?”Itulah kalimat yang selama ini ingin Tala dengar dari mulut Geza—validasi yang begitu jelas, tanpa ruang untuk disalahartikan. Namun kini justru kalimat itu membuatnya semakin gelisah, terlebih saat Geza mengatakannya dalam situasi seperti ini, ketika Tala sedang berusaha diyakinkan.Membuat kalimatnya makin terasa ambigu, apakah ini ketulusannya atau bentuk manipulasinya agar Tala setuju. Sebagaimana dulu, ketika Geza memainkan situasi dan emosinya sampai Tala bertindak impulsif dan menyetujui pernikahan kontrak mereka.“Za, mungkin yang kamu rasain ke aku bukan cinta.” Suaranya melemah.“Mungkin itu k
Nama itu berhasil membuat Tala berbalik.Geza menyeringai tipis. “Kayaknya cuma nama itu yang bisa bikin kamu mau natap saya.”Sengaja sekali menikmati ekspresi waspada di wajah perempuan itu.“Gini...””...jujur Ta, malam itu kamu memang nggak bilang apa-apa soal perasaan kamu . Kamu cuma bilang cerai berkali-kali sampai saya muak dengernya dan pengen cium kamu saat itu juga,” beber Geza.“Dan kamu cium aku?” sahut Tala.“Ya menurut kamu?” Geza balik bertanya.Tala mendengkus.Ingatan tentang malam itu memang datang dalam potongan-potongan yang tidak utuh. Terlalu banyak bagian yang hilang, menyisakan rasa malu setiap kali satu fragmen tiba-tiba muncul di kepalanya.“Malam itu saya bilang, Kinan cuma masa lalu saya. Saya udah nggak punya hubungan apa-apa sama dia di luar pekerjaan,” terang Geza.“Tapi kamu masih sering teleponan sama dia di luar jam kerja, bahkan pas weekend sekalipun,” sahut Tala.“Membahas pekerjaan.” Geza mengembuskan napas berat. “Ada proyek yang Bhuwana mau gara
Pengakuan Adrian tempo hari cukup memengaruhi Tala. Ia jadi banyak berpikir. Pria yang dulu terasa mustahil menyukainya ternyata bersedia menunggunya sampai kontraknya selesai, bahkan tak mempermasalahkan jika nanti Tala berstatus janda.Secara logika, hidup bersama Adrian terasa lebih aman. Ia terbuka soal perasaannya, tak banyak menyimpan siasat, dan Tala tak pernah merasa harus menebak-nebak maksudnya setiap kali mereka berbicara.Tanpa sadar, Tala tenggelam menatap maket pemberian Adrian di meja kerjanya.Sampai suara Geza yang sejak tadi memanggilnya tak juga ia gubris.“Segitu berharganya itu maket?” sindir Geza.Tala baru menoleh. “Kamu ngapain ke sini, Za?”“Tidur, lah. Ada Bude Sinta. Saya nunggu kamu di kamar, nggak dateng-dateng.” Geza mengeluh.“Iya, sorry. Aku tadi kelarin kerjaan dulu.”“Pekerjaan atau ngelamunin Adrian?” todong Geza.“Kamu mau ngajak debat kusir lagi?”“Iya, kalau kamu respons saya sambil jutek kayak gitu,” ujar Geza sambil berlalu. Suaranya datar, cende
Tala membuka bingkisan yang sebenarnya sudah tiba sejak Sabtu pagi. Ia baru menyadarinya karena sibuk dengan rangkaian persiapan ulang tahun Sansa.Begitu dibuka, Tala langsung terdiam.Di dalamnya ada maket rumah singgah yang pernah ia rancang untuk proyek studio perancangan semester tiga. Desain yang membuatnya begadang lantaran terus dirombak hanya karena ia bersikeras taman rumah singgah itu harus memiliki satu pohon besar, sampai akhirnya Adrian membantu menyelesaikan desain tersebut.Tala mengusap permukaan maket itu pelan. Kenangan lama berkelebat begitu saja. Lalu matanya jatuh pada secarik catatan yang diletakkan di sampingnya.Ia mengambilnya dan membuka lipatannya.“Di hari ulang tahun seorang anak, bukan cuma anaknya yang harus dirayakan. Ibunya juga. Karena itu adalah momen pertama seorang perempuan punya peran baru. Dan setiap momen pertama selalu punya cara untuk mengingatkan kita pada siapa diri kita dulu.Selamat bertumbuh lagi, Tala. Semoga kamu selalu menemukan jalan
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k







