ホーム / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 142- Satu Galon Bellini

共有

142- Satu Galon Bellini

作者: Sora Carita
last update 公開日: 2026-08-13 09:48:12

“Boleh nggak kalau aku suka kamu? Kalau aku cinta sama kamu?”

Tala menatap Adrian dengan mata yang mulai berat, seolah pertanyaan itu sudah terlalu lama ia simpan.

“Tapi kamu cuma lihat Kak Sara.” suaranya perlahan melemah. “Jadi aku mesti gimana?”

“Ta...”

“Aku udah move on, serius.” Tala buru-buru menyela. Ia mengangkat satu jari, lalu satu lagi. “Aku udah pacaran sama satu... dua...tiga.”

Ia tertawa puas melihat jarinya sendiri.

“Aku juga udah lupain kamu pake Bellini, tahu nggak sih, Kak? Ma
Sora Carita

Tala malu Tala, sumpel aja mulutnya gak sih Za? Apa gak makin naik darah tuh Geza liat Tala sekacau itu mana howek pula? Tapi nggak ding kan Geza di puji-puji sama Tala Enjoy ya guys menyaksikan gilanya Tala kalau lagi mabora xixixi

| 3
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
jumenah rahma
tala mabok nya bahaya bikin 2 pria matang terbang, kasih harapan dan abis ini pada minta kepastian......
goodnovel comment avatar
taqiyyanaura47
lanjut thorr....seru ini
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Sebelum Tiga Tahun   142- Satu Galon Bellini

    “Boleh nggak kalau aku suka kamu? Kalau aku cinta sama kamu?”Tala menatap Adrian dengan mata yang mulai berat, seolah pertanyaan itu sudah terlalu lama ia simpan.“Tapi kamu cuma lihat Kak Sara.” suaranya perlahan melemah. “Jadi aku mesti gimana?”“Ta...”“Aku udah move on, serius.” Tala buru-buru menyela. Ia mengangkat satu jari, lalu satu lagi. “Aku udah pacaran sama satu... dua...tiga.”Ia tertawa puas melihat jarinya sendiri.“Aku juga udah lupain kamu pake Bellini, tahu nggak sih, Kak? Malam itu aku lihat kamu cium Kak Sara. Pulangnya aku minum satu galon Bellini.”Tala menggeleng-geleng, lalu terkikik.“Atau satu jerigen? Atau satu tangki? Pokoknya banyaaaak. Biar aku lupa pernah suka kamu banget. Banget banget.”Sudut bibir Adrian terangkat melihat tingkah dan kalimat Tala yang seperti itu. Lucu.“Tala, nanti lagi kalau kamu mau bicara.”Ia hendak menarik lengan Tala, tetapi perempuan itu buru-buru menepis.“Jangan pegang tangan aku. Aku udah nikah.”Tala mengatakannya dengan

  • Sebelum Tiga Tahun   141- After Party

    Acara akhirnya selesai sekitar pukul sepuluh malam.Bude Sinta sudah lebih dulu naik ke kamar menemani Sansa. Geza memang sengaja memesan beberapa kamar di hotel yang sama untuk keluarga dan orang-orang yang mendampingi Sansa. Kamar dirinya dan Tala berada satu lantai dengan kamar Bude Sinta dan Sansa, serta Bi Yuni dan Sus Lia. Sementara itu Hanum ikut-ikutan ingin menginap jadi Geza menyewa satu suite tambahan.Taman yang beberapa jam lalu dipenuhi suara percakapan kini mulai lengang. Tinggal beberapa pelayan yang membereskan meja, sementara lampu-lampu taman masih menyala. Lingkaran teman kuliah Tala sudah bubar hanya tersisa Adrian, Amika, Fredy dan Seno.“Masih kuat, nggak kalian? After party yuk di rooftop.”Beberapa pasang mata langsung berbinar. Tak ada yang kaget mendengar ajakan Amika. Semua tahu, perempuan itu memang ratu untuk urusan begini. Terlebih, rombongan mereka memang sudah bertambah. Ada Bastian, Arvin, Rena, Sania, dan tentu saja Hanum. Jelas ia makin semangat.“Le

  • Sebelum Tiga Tahun   140- Lemparan Bola Panas

    Tala membelalak kaget.Hei, sejak kapan topik punya anak empat ini ikut menyebar sampai ke lingkungan pertemanannya?”Pelestarian gak tuh. Siamang kali ah.” celetuk Seno.Satu meja langsung terbahak.”Nggak gitu juga sih kak, buat sekarang serius aku nggak siap.” kilah Tala.Bicara soal kesiapan, Tala sendiri sebenarnya tak pernah merasa siap menikah, apalagi menjadi orang tua. Ia hanya mengambil peran itu karena keadaan memaksanya setelah Sansa kehilangan orang tua.Sampai sekarang pun, ia masih gagap menjalani peran sebagai istri maupun ibu. Namun semuanya tetap berjalan. Mungkin bukan karena Tala sudah siap tapi karena Geza sudah lebih dulu siap menanggung bagian yang belum mampu ia tanggung sendiri.Tiba-tiba saja, suami kontraknya itu terasa seperti suami ideal."Duh, kapan, ya, ketemu jodoh yang tiba-tiba datang terus ternyata nggak patriarkis?" Syifa menghela napas dramatis. "Sayangnya gue nggak punya kakak. Nggak bisa dapat jodoh lewat jalur adik ipar kayak Tala.""Ya udah, bli

  • Sebelum Tiga Tahun   139- Melestarikan Manusia

    Tala memilih mengabaikan alasan mengapa Geza bisa bertahan selama itu di Bhuwana. Lagi pula, tak akan ada habisnya kalau ia terus mengulik dan menebak-nebak pria serumit Geza. Lebih baik ia berhenti berpikir. Toh, pada akhirnya mereka akan bercerai.Karena itu, Tala memilih melipir ke meja teman-temannya."Bu Tala, akhirnya ketemu juga. Susah sekali sekarang bisa dapat waktu dari Ibu. Maklum, kesibukan Ibu di Janitra pasti sudah luar biasa."Seno, teman kuliah sekaligus rekan sesama arsitek, menyambutnya penuh candaan."Tolong deh, Sen. Ngolahnya jangan selebay itu." Tala mencebik protes.”Tahu nih Ta, ngolah mulu dia. Mau nyaingin Choky Sitohang lo?” Amika ikut menyambar."Justru karena itu. In this situation, cari kerja tuh susahnya hampir kayak cari jodoh. Kalau punya teman yang sekarang jadi komisaris, ya harus pinter-pinter di-approach, lah." Seno nyengir. "Bener nggak, Bang?"Adrian, yang malam itu tampil begitu sempurna, hanya tertawa kecil.Berada di meja sebelumnya ternyata cu

  • Sebelum Tiga Tahun   138- Dilimpahi Keberuntungan

    Setelah percakapan penuh sindiran itu, Tala belum juga berhasil melepaskan diri dari meja tersebut. Padahal, dari tadi matanya beberapa kali melirik ke arah meja lain, tempat Amika dan teman-teman kampusnya berkumpul. Ia ingin menyapa mereka, sekadar bernapas di tengah suasana yang tidak ada habisnya menguras energi.Kesempatan itu baru muncul ketika seorang pria paruh baya datang menghampiri meja bersama Suwandi.Pria tersebut diperkenalkan sebagai Wibowo, teman kuliah ibu Geza yang sejak dulu dekat dengan keluarga mereka. Berasal dari keluarga pengusaha lama, ia kini mengelola perusahaan keluarga yang jauh lebih besar dan sudah melantai di bursa. Dulu, Wibowo beberapa kali menjadi penyuntik modal ketika Janitra sempat goyah, sehingga hubungan bisnisnya dengan keluarga ibu Geza sudah terjalin sejak puluhan tahun lalu.Begitu percakapan bergeser ke urusan bisnis, beberapa wanita perlahan menyingkir, memberi ruang bagi para pria untuk berdiskusi. Tala ikut menggeser kursinya.Mungkin i

  • Sebelum Tiga Tahun   137- Belajar Jadi Kinan

    Sekitar delapan orang duduk mengelilingi meja bundar itu. Dharma, anak kedua dari enam bersaudara, duduk bersama adik-adiknya serta pasangan masing-masing, termasuk Hilman, adik keempatnya. Sementara kakak tertua dan adik paling bungsu bersama anggota keluarga lainnya memilih meja terpisah.Tala mengenali beberapa wajah dari urusan Janitra. Mereka adalah orang-orang yang selama ini ikut menikmati keuntungan dari perusahaan, tetapi justru paling mudah menyudutkannya ketika arah Janitra mulai berubah.Tak heran, baru duduk beberapa menit saja Tala sudah merasa seperti sedang menghadapi meja sidang—bedanya, para “hakim” kali ini datang lengkap bersama pasangan masing-masing.Seorang tante sudah lebih dulu melempar senyum penuh arti."Sudah hampir dua tahun, ya? Kok belum ada kabar baik?"Tala tersenyum kaku. "Iya, Tante. Belum waktunya mungkin.""Sudah periksa, Ta?" tanya yang lain. "Kalau memang mau promil, lebih baik dipersiapkan dari sekarang. Jangan sampai seperti almarhum orang tua S

  • Sebelum Tiga Tahun   11- Celah di Sofa Abu

    Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status