Tali gaun sutra yang membalut bahu Elloist merosot perlahan. Ditarik turun oleh jemari Thomas yang terasa sedingin es, namun membakar kulitnya.Hembusan napas pria itu yang beraroma bunga plum memabukkan, mengurung setiap inci kewarasan sang Putri Mahkota.Di atas ranjang bertabur kelopak bunga yang teramat empuk itu, janji akan surga duniawi ditawarkan secara cuma-cuma.Bagi tubuh Elloist yang tengah disiksa habis-habisan oleh demam Masa Estrus Kedua, godaan ini adalah oase di tengah padang pasir.Logika biologisnya menjerit, memohon agar ia membiarkan dirinya tenggelam.Thomas di hadapannya ini begitu sempurna, ia menatap Elloist dengan pemujaan mutlak, memanjakannya, dan menyerahkan dominasi sepenuhnya tanpa ada lagi teka-teki memuakkan atau caci maki."Tinggallah di sini bersamaku, Sayangku," bisik Thomas, mengecup pelan perpotongan leher Elloist."Lupakan rasa sakit di dunia nyata. Lupakan monster-monster
Read more