Cengkeraman tangan Marcus di pergelangan tangan Elloist terasa sekuat borgol besi. Napas Jenderal Leopard itu memburu, menghembuskan udara panas yang menerpa wajah pucat sang istri. Di bawah mereka, tubuh Pangeran Alexander semakin mendingin, darah segar masih merembes dari luka tusuk di dadanya, membawa pergi detik-detik terakhir kehidupan Sang Naga Hitam. "Marcus, kumohon! Lepaskan tanganku!" isak Elloist, berusaha menarik tangannya dengan sia-sia. "Kau adalah seorang jenderal yang menjunjung tinggi kehormatan! Alexander adalah rekanmu! Jika kita membiarkannya mati sekarang, kau akan menyesalinya seumur hidupmu!" "Kehormatan?!" Marcus tertawa getir, sebuah tawa yang sarat akan ego yang terluka parah. Sepasang netra zamrudnya menatap Elloist dengan kilatan posesif yang luar biasa kelam. "Persetan dengan kehormatan! Di medan perang, menyingkirkan musuh adalah sebuah kewajiban. Dan saat ini, Alexander bukan lagi rekanku, Elloist. Dia adal
Read more