"Biar aku saja," cegah Nathan saat melihat Salsa bersiap bangkit dari kursinya. Pria itu melangkah tenang menuju pintu depan. Begitu selot diangkat dan pintu terayun terbuka, sosok Raka berdiri di sana dengan raut wajah agak tegang. Nathan menghembuskan napas berat. "Kenapa ketuk pintunya kasar begitu, Ka?" tegurnya tanpa basa-basi. Raka meringis, menyatukan kedua tangannya. "Maaf, Pak. Saya terpaksa melakukannya karena ponsel Bapak tidak bisa dihubungi dari tadi." Ia kembali melanjutkan tujuannya datang menemui sang atasan malam-malam begini, “Klien dari luar negeri baru saja sampai dan langsung menghubungi saya. Mereka mengajak bertemu malam ini juga sekalian makan malam bersama." Nathan menaikkan sebelah alisnya. "Aku baru saja selesai makan," sahutnya datar. "Tapi kurang enak kalau ditolan, Pak. Mereka sudah menunggu di restoran," desak Raka hati-hati, tahu betul atasannya paling tidak suka jadwalnya diacak-acak. Nathan berdecak merasa tak punya pilihan lain. "Ya sudah, aku ga
Leer más