Mag-log in“Selamat, Pak. Anak anda cowok, fisiknya lengkap dan yang ini mirip dengan Mamanya,” ucap dokter yang selama ini menangani Salsa selama hamil. “Terima kasih, dok,” balas Nathan. Dokter meminta perawat untuk segera membersihkan bayi itu sebelum nanti didekatkan di dada sang mama. Salsa masih tidak sadarkan diri dan sengaja di bius total oleh dokter setelah insiden yang menimpanya barusan. Nathan mengecup kening istrinya dan bibirnya. “Terima kasih, sayang. Terima kasih sudah berjuang melahirkan anak ketiga kita. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Ke depan hanya akan ada bahagia di antara kita,” ucapnya sambil berderai air mata. Meski Salsa dalam keadaan pingsan, dokter menempelkan bayi itu di dadanya. Tangan Nathan sampai bergetar saat mengambil alih Putra ketiganya. Benar kata dokter, dari bayi baru lahir saja sudah terlihat bahwa wajah sang anak mirip dengan istrinya.“Kamu tampan sekali, sayang,” bisik Nathan. Dia memberikan doa terbaik untuk anaknya karena sudah terlahir ke du
Suasana di halaman belakang yang tadinya penuh canda tawa atas kekonyolan yang terus dilontarkan oleh si kembar, kini berubah menjadi ketegangan yang tak pernah mereka sangka sebelumnya. Jerit tangis si kembar terdengar memenuhi tempat itu setelah melihat sang Mama terjatuh di depan mata mereka.Salsa terkapar di lantai. Darah segar mulai mengucur dari pangkal pahanya, membasahi betis hingga kakinya, membuat suasana semakin menakutkan.Nathan tidak punya waktu untuk berpikir. Otaknya benar-benar lumpuh dan tidak bisa diajak bekerja sama. Dia ketakutan melihat istrinya tak berdaya dan mengeluarkan darah. Ia takut anak dan istrinya kenapa-napa. Yang ada di benaknya adalah dia harus segera menyelamatkan anak dan istrinya sekarang juga.Ia bangkit dari duduknya, langsung merengkuh tubuh sang istri dan membawanya dalam gendongan. Yang ada di otaknya sekarang adalah mereka harus segera menuju ke rumah sakit; jangan sampai terlambat satu detik pun karena pasti akan membahayakan anak dan istr
Sore harinya, Nathan duduk di halaman belakang sambil memberi makan ikan koi. Dia baru saja bangun tidur, dan si kembar sedang berenang ditemani oleh kedua pengasuhnya. Salsa berjalan menuju taman belakang, sebelum mendekat ke arah sang suami, dia memilih berdiri di sisi kolam renang melihat anaknya yang sudah sangat pintar berenang. Tiba-tiba kepala si kembar muncul di pinggir kolam tepat di bawah Salsa berdiri. “Perut Mama besar banget dari sini,” pekik Kenzi. “Iya, apa selain ada adik bayi, di perut Mama juga ada bola?” Tanya Kenzo.Salsa terkekeh mendengarnya, “bahkan waktu hamil kalian perut Mama lebih besar dari ini,” sahut Salsa sambil mengusap perutnya. Nggak lama lagi bayi dalam kandungannya akan lahir dan kehidupan mereka akan semakin lengkap serta bahagia.“Boleh intip gak, Ma. Mau lihat adik lagi apa di dalam.” Kenzi mencoba mengintip dari dress ibu hamil yang dipakai oleh mamanya. Salsa hanya geleng-geleng kepala, lalu dia memilih berjalan mendekati suaminya. Sementara
Hari yang ditunggu oleh Nathan dan Salsa pun tiba. Hari ini adalah hari putusan hukuman untuk Aditya. Sejak melihat Nathan hadir di sidang dengan memakai kursi, Aditya terus menarik sudut bibirnya seolah puas melihat Nathan seperti itu. Tapi Salsa berhasil menenangkan sang suami, mereka datang hanya untuk mendengar putusan pengadilan atas kasus yang melibatkan Aditya. Ternyata dana yang dulu disimpan oleh Clara dan Mamanya lalu dibawa kabur oleh Aditya, juga dituntut oleh pengadilan dan dianggap membawa kabur barang bukti. Hukumannya benar-benar berlapis. Selain menjadi buronan dia juga menculik Salsa dan menyakiti wanita hamil itu dan sikapnya ternilai sangat kejam tanpa berperasaan. Belum lagi tuntutan dari Nathan sehingga membuat Aditya terkena pasal berlapis. Salsa dan Nathan juga sudah pernah datang ke pengadilan untuk menjadi saksi atas kebejatan Aditya. Dan hari ini dia mendengar dengan jelas keputusan pengadilan.Semua orang yang ada di pengadilan itu terdiam mendengar putus
David menyambut kedatangan mereka secara langsung. Dengan ramah, ia membantu mengarahkan Nathan menuju meja yang telah disiapkan khusus. Sebuah meja cantik dengan rangkaian bunga segar dan dekorasi romantis menghiasi sudut ruangan.“Selamat menikmati momen lamaran yang indah ini,” goda David membuat kedua sahabatnya tertawa. “Kamu tuh yang harusnya mikirin kapan melamar calon istrimu? Kerja aja dipikirin emang nggak bosen tiap malam meluk bantal guling terus?” Nathan mengejek David.“Sialan, kena lagi kan aku!” Umpat David, “Dahlah, silakan dinikmati. Aku nggak mau jadi obat nyamuk di sini,” tambahnya lagi langsung berbalik meninggalkan Nathan dari Salsa di meja itu.“Thanks, Bro. Ditunggu undangannya,” teriak Nathan.“Berisik! Bisa diam nggak!” Balas David lagi. Tak pernah ada yang menyangka hubungan mereka kini menjadi sangat baik. Dari awalnya menjadi musuh sekarang justru seperti keluarga sahabat. “Happy nggak aku ajak makan siang di sini, sayang?” tanya Nathan.Salsa mengangguk
Malam harinya setelah makan malam keluarga berakhir, Nathan mengajak keluarganya menuju ke ruang keluarga. Raka juga hadir di sana karena Nathan memintanya datang sepulang dari bekerja. Tapi pria itu sudah datang dalam keadaan rapi, bukan datang dengan memakai pakaian kantor. Seperti biasa si kembar kalau tidak merepotkan Raka harinya pasti terasa kurang. Alhasil ada saja yang mereka lakukan untuk membuat calon kakak iparnya itu sibuk bukan main.“Ka, sini,” panggil Nathan. Si kembar menatap ke arah sang papa, “anak gemoynya ini gak dipanggil, Pa? Kok Om Raka aja?” tanya Kenzi. Mata bulatnya menatap ke arah sang papa. “Anak kecil gak boleh ikut campur urusan orang gede. Nanti giginya makin ompong,” balas Alea. “Kak Al aja yang ompong,” omel kedua adiknya. Lalu Nathan meminta kedua pengasuh si kembar untuk menemani anak-anaknya bermain di ruang bermain. Mereka pun pamit pada keluarganya lalu menuju ruang bermain, mereka sudah selesai belajar. Nathan meminta anak-anaknya belajar se
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya
Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria







