(POV: Emelia)Aku sendiri tidak tahu kenapa malam itu aku mendadak begitu menginginkan sentuhan dan kehangatan Samuel. Mengingat sepanjang sembilan bulan usia kehamilan kedua ini, aku sama sekali tidak bisa berada dekat-dekat dengannya. Bahkan, jika Samuel nekat mendekat, kepala ini langsung pusing dan perutku mendadak mual luar biasa.Namun malam itu, tembok pembatas hormon yang menyiksa suamiku selama berbulan-bulan seolah runtuh tanpa sisa.“Ah, Samuel... aku benar-benar merindukanmu,” lenguhku panjang setelah berhasil meraih pelepasan yang begitu intens di dalam dekapannya.Akan tetapi, tepat ketika hembusan napas lega baru saja terlepas dan aku hendak menyandarkan kepala di dada bidangnya, sebuah desakan dahsyat mendadak menghantam perut bawahku. Rasa mual yang selama ini mengangguku berganti menjadi gelombang cengkraman hebat yang mencengkeram rahimku tanpa ampun.“Ahhh! Sakit...!” teriakku seketika sembari mencengkeram lengan kekar Samuel dengan sangat kuat.“Sakit?! Sayang, k
Read more