Begitu bunyi selot pintu yang mengunci terdengar, ruangan VVIP ini mendadak terasa begitu sunyi, menyisakan deru napas kami yang mulai memburu. Aku berbalik lambat-lambat, menjatuhkan pandangan pada Samuel yang masih menatapku dengan sorot mata elangnya—tatapan mendamba yang selalu sukses membuat lututku lemas. Dengan gerakan pelan dan penuh keraguan, aku mulai melangkah mendekatinya.“Emelia, ayo kemari, Sayang,” panggilnya parau, memecah keheningan yang kian menyengat.Aku mengangguk pelan. Sembari mengikis jarak, jemariku bergerak membuka satu per satu kancing bajuku, lalu membiarkan helai pakaian itu jatuh begitu saja di atas lantai rumah sakit yang dingin. Tanpa sekat yang menghalangi, aku mulai naik ke atas ranjang rumah sakit, merangkak perlahan untuk bergabung bersamanya.“Samuel...” panggilku lirih.“Iya, kenapa, Sayang?” jawabnya dengan lembut, tangannya yang kekar bergerak naik untuk mengusap pipiku dengan penuh kasih sayang.
Read more