Di luar area pasar, konvoi kendaraan militer itu mulai bergerak menjauh. Mesin mobil terdengar berat, roda menghantam jalanan yang tidak rata.Di dalam salah satu mobil, Nada duduk di kursi belakang dengan wajah kesal. Tangannya terlipat di dada, rahangnya sedikit mengeras sejak tadi.“…orang aneh,” gumamnya pelan.Rudi yang duduk di depannya melirik hati-hati.“Dia… beda ya, Bu.”Nada langsung menjawab tanpa menatap.“Bukan beda. Nggak sesuai pola.”Ia akhirnya menoleh ke jendela, melihat keluar.“Biasanya, begitu dengar kita kelompok militer… langsung berubah. Minimal lebih hati-hati.”Nada mendecakkan lidah.“Ini malah nantang.”Rudi mengangguk kecil.“Tapi… walaupun dia begitu, belum tentu dia lemah.”Nada melirik sekilas lalu Rudi melanjutkan, sedikit ragu,“Bisa jadi dia punya kekuatan tempur yang besar. Jadi dia berani begitu.”Nada langsung menggeleng.“Yang saya lihat tadi? Cuma penjaga biasa.”Ia mengingat kembali suasana di pasar.“Disiplin, iya. Terlatih, iya. Tapi bukan a
Baca selengkapnya