Di pinggir kerumunan, Arsenia berdiri dengan tubuh yang bergetar hebat, persis seperti daun yang diterpa angin topan. Awalnya, saat melihat foto-foto itu tertempel di mading, ia merasakan kemenangan besar yang manis—manis seperti madu yang baru saja dipanen. Ia mengira Callista akhirnya benar-benar hancur karena skandal asusila yang memalukan ini. Namun, begitu mendengar pengakuan Rayden yang begitu terang-terangan dan penuh kepemilikan, hatinya terasa seperti diremas oleh tangan besi yang dingin, berkarat, dan tidak berperasaan.Wajah Arsenia berubah menjadi pucat pasi, lalu perlahan memerah karena amarah yang tak tertahankan, mirip seperti kepiting rebus yang sedang marah besar. Orang yang selama ini ia puja, orang yang seharusnya menjadi tunangannya dan melindunginya seperti kesatria dalam dongeng, justru dengan bangga mengumumkan di depan umum bahwa ia menghabiskan malam di hotel bersama perempuan yang paling ia benci di seluruh dunia.Arsenia merasa dikhianati
Read more