Dua pasang mata itu saling mengunci. Waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar perawatan Elara. Gadis itu membeku. Jemarinya yang memegang erat tangan Kinan mencengkeram tangan sahabatnya itu semakin kuat, meluapkan perasaan sedih, syok, bahagia, yang tak mampu ia rangkai dengan kata-kata. Pria yang berdiri di ambang pintu itu—pria yang memiliki rahang tegas, alis tebal, dan sorot mata tajam yang ada di ruangan ini setelah ia sadar pasca operasi beberapa hari lalu, ternyata adalah saudara kembarnya yang terpisah sejak napas pertama mereka di dunia. Sementara itu, Zheydan melangkah maju satu demi satu. Setiap pijakan kakinya terasa begitu berat, akhirnya, Elara mengetahui status mereka. Sorot matanya melunak, berkaca-kaca menatap sosok wanita mungil yang terbaring kaku di atas ranjang. Di belakang Zheydan, Moreno von Graffenried melangkah dengan tubuh sedikit gemetar. Matanya yang merah menahan air mata menatap Elara dengan tatapan penuh penyesalan, keharuan, dan kebahagiaan y
Last Updated : 2026-08-24 Read more