Sayang, tenang dulu. Jangan—" "Jawab aku, Rey!" sentak Elara menepis tangan Reygan dengan kuat. Ringisan pelan sempat lolos dari bibirnya akibat gerakan mendadak itu, namun tatapan matanya menuntut jawaban. Reygan terkejut. Napasnya tertahan sejenak sebelum sorot matanya berubah tajam, menatap lurus ke wajah Elara yang masih pucat. "El, kamu baru saja pulih. Jangan bicarakan soal ini dulu," tegur Reygan dengan tajam, mencoba menekan emosi demi menjaga kondisi fisik Elara. "Aku mau kita bicara sekarang," tuntut Elara tanpa ragu, dadanya naik-turun menahan guncangan di dalam dirinya. Dokter Sekar berdehem pelan, memecah ketegangan di antara keduanya. Ia melangkah lebih mendekat, menatap Reygan dengan raut wajah tenang. "Maaf, Tuan Reygan. Bukan saya ingin ikut campur, tapi... kondisi ini memang harus diketahui Elara," sela Dokter Sekar dengan suara tenang namun tegas, menatap Reygan dan Elara secara bergantian. "Secara medis, pasien dengan kondisi psikologis yang sed
Last Updated : 2026-08-23 Read more