Lima tahun berlalu. Choa Hok dan timnya kesal. Bukan kesal biasa. Kesal kronis. Kesal yang mengendap di tulang, di otak, di setiap rapat evaluasi kasus yang tidak pernah menghasilkan apa-apa.Tiongkun Hok—dulu Prajurit Hok, teman ke wismanya, sekarang kepala intelijen markas cabang—menatap tumpukan kertas di depannya. Laporan. Catatan. Kesaksian. Semua tidak jelas.“Lima tahun begini! ” bisiknya. Suaranya pelan, tapi penuh kekesalan. “Lima tahun ngumpulin bukti, nggak ada hasilnya. Lima tahun ngawasi Yo Lan, nggak pernah ketahuan. Lima tahun hidup dalam ketidakpastian. Ah Pa Kaisar harus ditutup kasusnya. ”, kata Choa Hok.Matanya sayu. Stempel itu terasa berat. Setiap langkah ke lemari “kasus tak terpecahkan” terasa seperti 10 ribu Li.Di lemari ruangan itu dia ingat surat “menjilat ludah sendiri” yang dia kirim ke Kiat Seng. Dia terpaksa mau kerja di Intelijen lagi. Lima tahun. Khusus kasus Kaisar. Kiat Seng yang oportunis pun bikin perjanjian: “Choa Hok dilarang menginvestigasi ka
Read more