MasukChoa Hok berteriak. Minta dibebaskan. Suaranya menggema di dalam tombak. Tapi tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang bisa membebaskan dirinya.Dia sudah tidak punya tubuh. Sudah dikremasi. Abu-nya ditaruh di kelenteng keluarga Tan. Sekarang dia hanya arwah yang tidak bisa apa-apa. Dari mata tombak ular dia berteriak.Sehari setelah tombaknya hilang, Yo Lan datang di malam hari.Malam itu, Choa Hok sedang duduk di pondokan. Menatap bulan. Kacang rebus di tangan. Teh jahe di sampingnya. Sudah dingin. Dia belum sempat minum.Pintu pagar berderit. Tidak ada angin. Tidak ada hujan. Tapi pintu itu terbuka sendiri. Yo Lan berdiri di ambang. Cadar masih menutupi wajahnya. Tapi malam ini, matanya—matanya menyala. Hijau. Bukan merah. Bukan hitam. Hijau giok."Yo Lan," kata Choa Hok, tanpa menoleh. "Masih belum puas?"Yo Lan melangkah masuk. Tidak bicara. Tangannya memegang sesuatu. Tombak. Tombak Darah Ular.Choa Hok menoleh. Matanya menyipit. Tidak kaget. Dia sudah tahu tombaknya hilang pagi
Musim berganti. Tahun bertukar. Daun-daun berguguran di musim gugur, lalu tumbuh lagi di musim semi. Begitu seterusnya. Seperti siklus kehidupan yang tak pernah berhenti.Anak-anak Choa Hok telah dewasa. Bun Kiat—putra sulungnya—kini menjadi pejabat administrasi seperti ayahnya. Bun Kian—yang dulu kawin dengan Teratai Bintang—kini mengelola bisnis kosmetik keluarga. Bun Kiong—yang dulu bikin Choa Hok pingsan delapan hari—kini menjadi saudagar rempah yang disegani. Mereka semua sudah menikah. Mereka semua sudah punya anak.Choa Hok sudah menjadi kakek tua rasa om-om. Rambutnya putih di pelipis. Wajahnya berkerut. Tapi matanya—matanya masih tajam. Masih waspada. Tidak semua yang tua itu lemah. Bahkan Pejabat Kelurahan yang baru selalu terpeleset memperkenalkan dia sebagai Ah Cek Choa Hok walaupun Ah Pa si pejabat dia tersinggung karena usia Choa Hok jauh di atasnya… harusnya yang pantas adalah panggilan Ah Pek.Demikian juga anak-anak Yo Lan. Tiga pangeran yang ambisius. Yang satu akhi
Choa Hok akhirnya bisa menikmati hidup. Bukan hidup mewah. Bukan hidup bergelimang harta. Tapi hidup normal. Hidup yang tidak perlu terus-menerus waspada, tidak perlu terus-menerus berpura-pura.Sebagai Diplomat yang mengutamakan kedamaian, ternyata lebih cuan dan untung. Bukan karena dia korup. Tapi karena diplomasi yang baik membuka peluang bisnis yang lebih luas. Hubungan dengan kerajaan tetangga yang baik membuat perdagangan lancar. Perdagangan yang lancar membuat pajak naik. Pajak yang naik membuat kesejahteraan rakyat meningkat.Dan Choa Hok tetap menekankan agar spionase tidak kendor. Dia tahu bahwa kedamaian bukan berarti tidak ada musuh. Kedamaian hanya berarti musuh sedang menunggu.Tapi kali ini, dia tidak lagi yang bertugas menjaga. Dia cukup memberi arahan. Cukup mengawasi dari jauh. Cukup menikmati hasil kerja timnya.Hari itu sore. Matahari mulai condong ke barat. Angin sore membawa bau tanah basah dari kebun belakang.Eng Hwa pulang dari istana. Biasa. Anter teh ke Per
Dari pagi subuh, istana ricuh. Para Kasim dan Mentri rebutan. Suara mereka bergema di lorong-lorong istana, mengganggu burung pipit yang sedang sarapan di pohon beringin.“Gak bisa, gua tua… yang muda bantu yang tua. Choa Hok ikut gua! ” kata Mentri Administrasi. Tangannya gemetar—bukan karena tua, tapi karena semangat.“Bunga Anggrek melayang di Padang rumput, pokoknya ikut gua! ” balas Kasim Tio gak mau kalah walaupun pantunnya ga nyambung.Choa Hok duduk di kursi kayu di pojok ruangan. Minum teh jahe. Makan kacang rebus. Tersenyum kecil.Ya, dia mengundurkan diri jadi Tiongkun. Resmi.Kaisar sudah ga ada. Kaisar baru—Ong Kiat Seng—lemah di bidang tata negara. Dia tahu itu. Dia membutuhkan Choa Hok. Tapi dia juga takut Choa Hok terlalu dekat dengan Yo Lan.Maka perjanjian itu dibuat.Choa Hok mengangguk ketika Kiat Seng menyodorkan surat perjanjian. Dibaca. Diteliti. Tidak ada yang janggal.“Ho, Lah! ” kata Choa Hok. “Syaratnya: gua ga mau ketemu Permaisuri kecuali Permaisuri berdua
Lima tahun berlalu. Choa Hok dan timnya kesal. Bukan kesal biasa. Kesal kronis. Kesal yang mengendap di tulang, di otak, di setiap rapat evaluasi kasus yang tidak pernah menghasilkan apa-apa.Tiongkun Hok—dulu Prajurit Hok, teman ke wismanya, sekarang kepala intelijen markas cabang—menatap tumpukan kertas di depannya. Laporan. Catatan. Kesaksian. Semua tidak jelas.“Lima tahun begini! ” bisiknya. Suaranya pelan, tapi penuh kekesalan. “Lima tahun ngumpulin bukti, nggak ada hasilnya. Lima tahun ngawasi Yo Lan, nggak pernah ketahuan. Lima tahun hidup dalam ketidakpastian. Ah Pa Kaisar harus ditutup kasusnya. ”, kata Choa Hok.Matanya sayu. Stempel itu terasa berat. Setiap langkah ke lemari “kasus tak terpecahkan” terasa seperti 10 ribu Li.Di lemari ruangan itu dia ingat surat “menjilat ludah sendiri” yang dia kirim ke Kiat Seng. Dia terpaksa mau kerja di Intelijen lagi. Lima tahun. Khusus kasus Kaisar. Kiat Seng yang oportunis pun bikin perjanjian: “Choa Hok dilarang menginvestigasi ka
Ritual hari keenam mau dimulai. Matahari setinggi tombak. Sinar putih terang menembus jendela kamar tamu istana, jatuh tepat di atas wajah Choa Hok yang masih terbaring. Dia tidak bangun.Eng Hwa teriak-teriak. Bukan teriak panik. Tapi teriak kencang, khas perempuan yang sudah terbiasa mengatur puluhan karyawati di depot teh.“Hok! Hok! Bangun! ”Choa Hok tidak bergerak.Eng Hwa meraba keningnya. Dingin. Bukan demam. Bukan keringat. Dingin kayak orang yang kehabisan energi.Dia memanggil prajurit. “Tolong! Bawa suami gue ke klinik! ”Dua prajurit mengangkat Choa Hok dengan tandu darurat. Eng Hwa mengikuti di belakang. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Tangannya gemetar—bukan takut, tapi marah.Marah karena tidak tahu harus marah kepada siapa. Tapi mata Eng Hwa selalu ngeliat Yo Lan. Seolah-olah hatinya tau sesuatu hal yang otaknya ga paham.---Di klinik istana, Sinseh Ong memeriksa Choa Hok. Nadi. Mata. Lidah. Kening. Lama.“Ini kelelahan, ” katanya pelan. “Bukan kelelahan fisik. Tapi
Kepala Choa Hok terasa seperti dihantam palu godam. Bukan palu biasa. Palu yang panas. Palu yang berdentum-dentum di pelipis kiri, merambat ke kanan, lalu berhenti di belakang mata. Nyeri.Dia buka mata. Samar.Langit-langit kayu. Bukan langit-langit baraknya. Langit-langit ini lebih rendah, lebih
Malam itu, bulan bersinar terang. Terlalu terang buat suasana hati yang kacau.Choa Hok berjalan tanpa tujuan. Kakinya membawanya ke arah selatan, ke pasar malam yang biasanya ramai. Tapi malam ini dia gak berhenti di pasar. Dia lewati toko jimat. Lewati kedai mie yang masih buka. Lewati jembatan b
Jendela itu terbuka pelan. Tanpa suara. Kayak hantu. Tapi Choa Hok udah tahu siapa di baliknya sebelum siluet pria berkerudung itu muncul.Pria itu melangkah masuk. Membuka kerudungnya dengan gaya sok keren. Protokol: Kaisar dan Pangeran harus tampak gagah di depan Kepala Intelijen. Choa Hok berwaj
Choa Hok membuka pesan itu. Kertasnya masih hangat—entah kena sinar matahari atau kena panasnya panah yang nembak ke papan.Kadang dia merasa kesal. Bukan sama isi pesannya. Tapi sama kebiasaan tentara kampung ini. Kenapa pesan mesti ditembak pake panah ke papan ga jelas di tiap ruangan? Sombong am







