تسجيل الدخولDi dalam ruang tengah rumahnya, amarah Clara meluap tanpa terkendali. Barang-barang pecah belah, alat make up, hingga vas bunga mahal berserakan hancur di atas lantai."Seharusnya, aku tidak menuruti nasihat kalian berdua!" teriak Clara dengan napas memburu. Matanya menatap tajam pada Simon dan Beatrice yang berdiri mematung di sudut ruangan. "Gara-gara ide kalian, aku malah terlihat seperti orang bodoh! Aku gagal mendapatkan Roman!”Beatrice berusaha mendekat dengan raut cemas. "Clara, tenanglah dulu, Sayang... Masih ada banyak kesempatan untuk—""Diam!" potong Clara kasar, menepis tangan ibu tirinya. "Aku muak dengan sikapmu yang munafik. Kau malah membuatku tampak murahan di depan Roman!"Diselimuti kekesalan yang membara, Clara mengambil kunci mobil dan menyambar tasnya. Wanita itu keluar dari rumah tanpa mengindahkan panggilan orang tuanya. Meski tak tahu hendak ke mana, Clara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.Baru beberapa kilometer ia berkendara, tepat di sebuah
Hawa dingin terasa di lorong bawah tanah markas utama klan Valeriano.Di dalam ruang rapat berdinding beton kedap suara, belasan pria bertubuh tegap sedang melingkari meja mahoni panjang. Mereka adalah para pimpinan sektor, yang mengendalikan pilar-pilar bisnis klan Valeriano.Di ujung meja, Roman sebagai pemimpin tertinggi duduk di kursi utama. Wajahnya dingin bagai porselen, sementara mata elangnya menyapu satu per satu raut para bawahan yang menunduk patuh."Selama satu bulan ke depan, seluruh operasional harus berjalan lancar," tegas Roman, suara baritonnya menembus keheningan ruangan.Roman lantas memajukan tubuh tegapnya, menatap lurus pada pimpinan sektor logistik persenjataan. "Pastikan seluruh pengiriman yang mendarat di Dermaga Tujuh telah disaring bersih sebelum masuk ke gudang utama.”"Siap, Tuan," sahut pimpinan sektor persenjataan.Pandangan Roman bergeser ke arah pria bertubuh kekar di sebelahnya, penguasa pelabuhan dan ekspor-impor. "Perketat pengawasan jalur peti ke
Mendengar Sabiya menolak persyaratan darinya, Jetro membisu. Atmosfer di sekeliling mereka kini terasa hening dan lebih mencekam.Raut wajah pria dari Monela itu tampak kian tegang, sebelum akhirnya ia beranjak dari posisi duduk dan menghampiri Sabiya.Dengan sebuah gerakan yang tak terduga, pria itu membungkukkan tubuh jangkungnya. Jetro menyangga kedua lengannya yang kekar di sandaran sofa untuk mengurung Sabiya. Jarak di antara mereka pun terkikis habis dalam sekejap.Sabiya terkejut saat merasakan usapan lembut ibu jari Jetro di sudut matanya yang basah. Ia hanya bisa membisu di bawah kurungan tubuh tegap itu, dengan pikiran yang mendadak kosong.Berbagai perasaan kini saling bertabrakan di dalam dadanya. Sabiya tidak tahu bagaimana harus merespons atau bersikap menghadapi Jetro dalam situasi yang rumit ini. Jujur, ia sangat merindukan hubungannya yang dulu dengan Jetro, di mana mereka bisa saling mengasihi dan memahami, tanpa adanya beban asmara maupun kesalahan masa lalu.Sabiy
Mendengar permintaan Jetro mengenai anak-anaknya, Sabiya belum mampu merespons. Bagi Sabiya, persyaratan ini terasa mengekang dan terkesan sangat tidak adil bagi masa depan si kembar. Memang, untuk saat ini, ia belum berniat menceritakan kepada Altair dan Ares mengenai sosok ayah kandung mereka. Luka akibat masa lalu yang kelam masih terlalu berdarah untuk diungkit. Akan tetapi, seburuk apa pun kelakuan Roman di masa lalu, sebesar apa pun rasa sakit yang pernah pria itu goreskan, ia tidak boleh menggunakan dendam pribadi untuk memutus hubungan ayah dan anak. Bagaimanapun juga, ketika si kembar telah dewasa, mereka perlu mengetahui darah siapa yang mengalir di dalam tubuh mereka. Ini adalah bentuk tanggung jawab moralnya sebagai seorang ibu, yang melahirkan mereka ke dunia. "Kak Jetro, permintaanmu ini menyangkut seluruh masa depan Altair dan Ares. Aku tidak….”"Aku belum selesai bicara, Sabiya," potong Jetro. "Masih ada hal lain yang perlu kau tahu."Jetro menghentikan ucapannya s
Kendaraan beroda empat yang membawa Sabiya, akhirnya berhenti di area Terminal Bandara Internasional Aldena. Begitu mesin mobil dimatikan, Jetro tidak membuang waktu. Ia lekas merogoh ponselnya untuk menghubungi sang asisten."Luca, siapkan menu sarapan untuk Altair," titah Jetro.Sesudah memutus sambungan telepon, Jetro melangkah keluar dari mobil. Tanpa bersuara, ia kembali mengangkat Altair ke dalam gendongannya. Pria itu memboyong sang bocah menyusuri koridor terminal khusus, menuju landasan penerbangan jet pribadi. Sementara itu, Sabiya mengekor di belakang dengan patuh.Di atas landasan pacu, sebuah jet pribadi berlogo elang sudah bersiaga dengan tangga penumpang. Mereka bertiga menaiki tangga tersebut, dan disambut hangat oleh seorang pramugari.Suasana di dalam jet pribadi itu terasa mewah dan privat. Jetro mendudukkan Altair di salah satu kursi empuk, membiarkan sang bocah meluruskan kakinya.Tak berselang lama, pesawat mulai bergerak perlahan di atas runway lantas melakuka
Pasokan udara di dalam paru-paru Sabiya seolah tersedot habis. Kedatangan Jetro yang tanpa pemberitahuan membuatnya terperanjat bukan main. Dalam sekejap, memori percakapan telepon dengan Jetro berputar ulang di kepala Sabiya. Saat itu, Jetro bertanya mengenai nama hotel tempatnya menginap dengan nada suara yang ganjil.Kini, puzzle tersebut telah terpasang utuh. Jadi ini maksud Jetro—sengaja terbang belasan jam melintasi batas negara, hanya untuk menjemput dirinya dan Altair.Sebelum Sabiya sempat menyusun kalimat, Altair yang berdiri di sampingnya sudah berlari ke arah Jetro tanpa ragu."Papa? Kenapa Papa datang kemari?" tanya Altair penasaran. Ia mendongakkan kepala, menatap mata pria dewasa di hadapannya. "Bukankah Papa sudah pulang ke kota Monela?"Jetro menunduk. Raut wajahnya yang semula tegang, sedikit melunak kala pandangannya jatuh pada Altair. "Papa ke sini karena ingin menjemput kalian."Di belakang Sabiya, Andreas menyaksikan pemandangan itu dengan takjub. Sepanjang b
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me







