“Bodoh banget gue,” bisik Alya di bantalnya.Alya memilih untuk kembali ke asrama pagi itu dan menghabiskan waktunya hingga siang hanya untuk tiduran seraya menangis karena sakit hatinya.Saat hari menjelang siang, dia kembali ke kampus. Bukan untuk mengikuti perkuliahan melainkan menuju gedung rektorat.Lantai marmer gedung rektorat terasa dingin saat Alya melangkah menuju ruang rapat utama. Di tangannya, amplop berstempel merah itu sudah sedikit lecek karena remasan tangannya yang gemetar.Begitu pintu kayu besar itu dibuka, Alya disambut oleh keheningan mencekam. Bau aroma pengharum ruangan yang menyengat langsung menusuk hidungnya.Dekan Iwary duduk di ujung meja panjang dengan wajah kaku, sementara di sampingnya ada Vanya sedang duduk dengan mata sembab yang Alya yakin dipaksakan."Duduk, Alya Senandika," perintah Iwary tanpa sedikit pun nada ramah.Alya duduk di kursi kayu yang keras dan berhadapan langsung dengan komite disiplin.Selama satu jam berikutnya, Alya merasa seperti
続きを読む