“Jawab, Kak. Kenapa malah diam aja?” tuntut Alya ketika Revan masih terdiam mendengar pertanyaan yang diiringi isak tangis itu.Pria itu menundukkan wajahnya sejenak, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Dia menarik tangannya dari wajah Alya. Perlahan diletakkan sapu tangan yang kini sudah kotor oleh noda darah itu ke atas meja belajar.Revan tidak membalas tuduhan Alya. Dia justru menarik selimut yang di pinggang gadis itu dan menaikkannya kembali hingga menutupi batas leher Alya. Gerakannya sangat perlahan, seolah sedang menidurkan seorang anak kecil yang bermimpi buruk.Tanpa banyak bicara, dia menepuk pelan bahu Alya dari balik selimut, memastikan napas gadis itu mulai teratur kembali."Kak, jawab saya. Jangan diam aja," tuntut Alya, suaranya masih bergetar.Alya merasa frustrasi. Pria ini selalu bertindak seenaknya. Mulai dari mengusirnya, memakinya, lalu sekarang datang merawatnya seolah-olah Alya adalah satu-satunya hal yang penting di dunia ini.Revan mena
続きを読む