แชร์

Bab 120

ผู้เขียน: Hisa NK
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-11 20:36:13

***

Sementara itu, di lantai rahasia bawah tanah Penthouse...

BAMMM-BAMMM!

Debu dan serpihan batu runtuh dari atap beton lantai bawah. Liana memeluk Nagendra erat-erat di sudut ruangan terlindung, sementara Larasati berdiri siaga di depan pintu baja rahasia dengan pedang perak tersarung setengah bilah.

Baskoro yang memegang gagang kerisnya menatap ke atas dengan raut wajah sangat cemas.

"Guncangan di atas mendadak berubah..." gumam Baskoro hampir seperti bisikan, manik mata tuanya yang penuh pe
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 120

    ***Sementara itu, di lantai rahasia bawah tanah Penthouse...BAMMM-BAMMM!Debu dan serpihan batu runtuh dari atap beton lantai bawah. Liana memeluk Nagendra erat-erat di sudut ruangan terlindung, sementara Larasati berdiri siaga di depan pintu baja rahasia dengan pedang perak tersarung setengah bilah.Baskoro yang memegang gagang kerisnya menatap ke atas dengan raut wajah sangat cemas."Guncangan di atas mendadak berubah..." gumam Baskoro hampir seperti bisikan, manik mata tuanya yang penuh pengalaman menangkap getaran aura suci. "Pendar energi Satria... memang persis seperti pendar aura mendiang ayahnya puluhan tahun lalu."Liana menoleh cepat pada ayahnya. "Maksud Papa? Pendar Satria semakin kuat?""Bukan cuma kuat, Li," sahut Baskoro dengan nada amat serius. "Itu pendar Klan Naga murni... pendar kebangkitan. Benar adanya mantuku dari keturunan yang lebih tinggi dari klan Himawan.""Ya, Pa. Aku bersyukur kami dipersatukan!"BZZT... CRACKLE...Suara Vanya mendadak bergetar hebat di

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 119

    Tanah di luar gedung mendadak ambles sejauh puluhan meter! Dari balik lubang raksasa itu, cakar merah berukuran belasan meter milik Naga Merah keluar merayap, menghantam dinding luar Penthouse dan siap meratakan seluruh gedung Kediaman Utama beserta isinya. Di detik yang sama, Vanya menjerit dari radio dengan nada yang teramat sangat ketakutan."Den Satria! Terjadi anomali gaib di bawah gedung! Pendar cermin giok yang retak itu memicu Segel Pembantaian Klan... energi Trah Sangkala berniat meledakkan inti tanah Jakarta bersama seluruh penghuninya!""Den Satria! Mbak Laras!" jerit Vanya dari balik radio komunikator dengan nada panik luar biasa. "Goncangan di bawah tanah semakin masif! Retakan cermin giok di tangan Tetua Utama menyerap pasokan energi gaib dari seluruh penjuru kota! Ini bukan sekadar ajian pelindung, mereka berniat meruntuhkan Penthouse ini ke dalam kawah racun!"Larasati mengusap keringat di keningnya, mempererat genggaman pada gagang pedang perak Lembah Kelabu. "Satria

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 118

    Satria masih diam. Tapi tangannya mulai bergerak—perlahan, seperti sedang meraba sesuatu yang tidak terlihat. Liontin giok di dadanya berdenyut semakin kencang, dan untuk pertama kalinya, Satria mendengar suara di dalam kepalanya. Suara yang tidak dia kenali, tapi terasa akrab."Bangkitlah, putraku..."Suara itu lembut, tenang, dan penuh kasih. Dan Satria tahu, tanpa perlu bertanya, bahwa itu adalah suara ayahnya.Tetua Kedua menambahkan dengan suara sinis, "Ayahmu dan ibumu, kakak-kakakmu, seluruh kerabatmu—kami bantai dalam satu malam. Kami membakar istana Naga Murni hingga rata dengan tanah. Hanya satu bayi yang lolos... dan kami mengira dia mati terbawa arus sungai."Tetua Utama menatap Satria dengan mata yang penuh kebencian. "Ternyata kau selamat. Dan kau tumbuh menjadi duri yang sekarang mengganggu kami lagi. Secepatnya, Satria. Secepatnya duri itu akan kami cabut. Untuk selamanya."Satria terdiam. Dunia di sekelilingnya terasa berputar. Semua yang dia tahu tentang dirinya—tent

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 117

    KRAAAKKK-BOOOMM!Lantai tanah Kediaman Utama mendadak berguncang hebat akibat gempa ghaib dahsyat. Dari balik tanah yang terbelah di luar gedung, membubung raungan mahluk purba raksasa yang membuat aura Naga Murni milik Satria bergetar hebat. "Satria! Jangan biarkan cermin giok di tangan Tetua Utama meledakkan segel tanah!"Jeritan Larasati memecah keheningan. Dengan kecepatan penuh, Larasati melesat membelah asap reruntuhan, mengibaskan pedang peraknya membentuk tiga tebasan hawa es yang lurus mengincar pergelangan tangan Tetua Utama!TRANGGG-BOOOMM!Namun, sebelum bilah perak Larasati menyentuh sasaran, Tetua Ketiga dan Tetua Keempat Sangkala melompat menghadang serentak. Dua tongkat tulang berkepala tiga di tangan mereka menghantam lantai marmer, melepaskan benteng aura darah raksasa yang menangkis tebasan Larasati hingga memercikkan api gaib setinggi lima meter. Larasati terdorong mundur tiga langkah, telapak tangannya bergetar menahan tekanan hawa panas terlarang. "Kuat sekali.

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 116

    "Vanya! Kunci koordinat Pindah Dimensi Blood-Gate itu sekarang!" bentak Satria dengan suara bariton rendah yang menggetarkan dinding batu Benteng Tengkorak Merah.BZZZZZT... CRACKLE...Suara ketikan papan ketik Vanya terdengar beradu kencang bercampur bunyi sirene peringatan bahaya di markas siber Jakarta."Sinyal ritual yang dipakai Tetua Ketujuh di benteng ini bukan untuk menyerang Den Satria!" jerit Vanya cepat lewat komunikator. "Itu adalah jangkar pengalih perhatian! Begitu pendar Naga Murni Den Satria meledak menghancurkan gerbang utama, getarannya memicu simpul racun Sangkala Purba di tanah Jakarta untuk membuka gerbang dimensi secara paksa!"Larasati seketika mencabut pedang peraknya penuh. "Satria! Kita harus kembali ke Jakarta detik ini juga! Penthouse Kediaman Utama memang dilapisi ajian lima lapis, tapi menghadapi enam Tetua Sangkala sekaligus... Pak Baskoro dan para pengawal tidak akan sanggup bertahan lama!"Tetua Ketujuh tertawa melengking gila dari atas singgasana tula

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 115

    "Kamu yakin tidak mau membawa pasukan utama faksi Himawan, Satria?"Baskoro berdiri di samping pintu helikopter supersonik yang terparkir di landasan Puncak Kediaman Utama. Satria menyesuaikan posisi mantel hitamnya, berdiri tegap di tengah deru baling-baling helikopter yang mulai berputar kencang. Pendar keemasan murni di pupil matanya berkilat tenang, membias aura Penguasa Utama yang tak tergoyahkan."Tidak perlu, Pa," jawab Satria datar, suara baritonnya menembus suara gemuruh mesin. "Pasukan Himawan harus tetap berada di Jakarta untuk menjaga Kediaman Utama. Kalau Trah Sangkala memakai cara kotor untuk menyerang dari belakang, Papa dan Pak Hendra yang menjadi benteng pertahanan."Liana melangkah mendekat seraya mengepit Nagendra yang tertidur lelap dalam dekapan kain sutra. Tangan kirinya terangkat, meremas lembut jemari tegap Satria."Sat... janji sama aku," bisik Liana dengan mata jernih yang bergetar. "Jangan biarin racun Sangkala Purba itu nyentuh batinmu lagi. Aku sama Nagen

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status