"Ini Nagendra Wisesa, Koh," ujar Pak Baskoro seraya menepuk bahu cucunya dengan penuh kebanggaan. "Buah hati Satria dan Liana. Cucu kesayanganku, kebanggaan klan Himawan!"Pak Baskoro terus menepuk bahu Nagendra, seolah ingin memperlihatkan kepada seluruh dunia betapa bangganya dia memiliki cucu seperti ini. Nagendra berdiri tegak di samping kakeknya, postur tubuhnya sudah mulai menyerupai ayahnya—tinggi, tegap, dengan bahu yang mulai melebar. Rambut hitamnya sedikit berantakan ditiup angin sore, sementara sepasang mata keemasannya yang biasa tenang kini menatap sopan ke arah Koh Asun."Selamat, ya, Pak Baskoro. Sayang sekali saya baru tahu soal ini," kata Koh Asun sambil mengangguk-angguk, matanya memerhatikan Nagendra dengan rasa kagum yang tidak disembunyikan."Semua sudah berlalu 16 tahun yang lalu, Koh!" sahut Pak Baskoro tertawa kecil.Koh Asun mengangguk pelan, lalu menatap Nagendra dengan senyum ramah. "Ayahmu dulu kerja di sini, Nak. Satria waktu muda sering bantu-bantu saya
Last Updated : 2026-08-20 Read more