Aurelia menggigit bibir. “Kamu nggak lelah setelah berperang seharian?”“Lelah,” jawab Nagendra rendah. “Tapi lebih lapar.” Ia mencium Aurelia dalam, lidah masuk perlahan, sementara pinggulnya mulai bergerak lagi—lambat, dalam, sengaja menggesek setiap inci. “Boleh?”Aurelia menjawab dengan mengangkat pinggulnya, menerima. “Boleh… pelan dulu.”Nagendra menurut. Ia keluar hampir seluruhnya, lalu masuk lagi sangat lambat, menikmati bagaimana Aurelia meremasnya. Satu tangan meraih kaki Aurelia dan menekannya ke dada wanita itu, membuka lebih lebar. Sudutnya langsung berubah menjadi lebih dalam.Aurelia mengerang panjang. “Nagendra… ahh, dalam banget…”“Suka?” tanya Nagendra di telinga Aurelia, suaranya serak.“Suka… terus…”Nagendra mulai mempercepat sedikit. Setiap hentakan dalam, basah, dan terukur. Ia menunduk, menghisap leher Aurelia, meninggalkan jejak kemerahan baru. Tangan bebasnya meremas payudara Aurelia, ibu jari memainkan puting yang sudah mengeras.“Kamu sempit sekali malam i
Terakhir Diperbarui : 2026-10-14 Baca selengkapnya