Share

Bab 49

Author: Hisa NK
last update publish date: 2026-07-24 07:26:16

Tepuk tangan membahana memecah keheningan. Di barisan depan tamu VIP, tampak tiga taipan Jakarta—Tirta Wijaya, Hasyim, dan Sofyan—ikut bertepuk tangan dengan raut wajah penuh kepatuhan. Kematian Ki Brojo dan ketegasan Satria di Hotel Kempinski telah memutus habis niat kotor mereka, menggantikannya dengan rasa hormat dan ketakutan mutlak pada sang naga pelindung.

Setelah prosesi sambutan resmi selesai, Satria dan Liana melangkah turun dari panggung utama untuk menyapa para tamu undangan di pelat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 50

    Gema gamelan dan gelak tawa tamu undangan di pendopo depan masih terdengar samar, namun di sudut taman belakang kediaman Himawan, keheningan mendadak terasa janggal.Angin sore yang semula berembus lembut tiba-tiba berembus kencang, membawa hawa dingin yang tak lazim. Wangi melati yang memenuhi area taman perlahan terkikis oleh aroma amis air laut dan bau kemenyan terbakar yang pekat.Liana yang sedang menyandarkan kepala di dada Satria refleks mendongak. Tubuhnya merinding hebat saat merasakan perubahan suhu yang drastis."Sat..." lirih Liana, cengkeraman tangannya di jas beskap Satria seketika mengencang. "Kenapa dadaku mendadak sesak banget? Angin ini... rasanya aneh."Satria tidak langsung menjawab. Sepasang mata hitam pekatnya memicing tajam menatap ke arah sudut dinding benteng tua di ujung taman. Tato naga emas di dada bidangnya yang semula berdenyut tenang kini membara panas, memancarkan pendar keemasan tipis yang menembus kain beskap hitamnya.Batin naga murni di dalam tubuh

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 49

    Tepuk tangan membahana memecah keheningan. Di barisan depan tamu VIP, tampak tiga taipan Jakarta—Tirta Wijaya, Hasyim, dan Sofyan—ikut bertepuk tangan dengan raut wajah penuh kepatuhan. Kematian Ki Brojo dan ketegasan Satria di Hotel Kempinski telah memutus habis niat kotor mereka, menggantikannya dengan rasa hormat dan ketakutan mutlak pada sang naga pelindung.Setelah prosesi sambutan resmi selesai, Satria dan Liana melangkah turun dari panggung utama untuk menyapa para tamu undangan di pelataran pendopo. Hendra berjalan beberapa tindak di belakang mereka dengan keperkasaan dan kewaspadaan penuh, menjaga ruang gerak sang calon majikan utama.Ki Samudro bersama belasan sesepuh adat Keraton Solo mendekati Satria. Pria paruh baya berbatik lurik itu membungkuk dalam-dalam dengan kedua telapak tangan terkatup di dada."Selamat, Den Satria, Mbak Liana," ucap Ki Samudro dengan suara bergetar haru. "Tanah Mataram tersenyum malam ini. Penyatuan Anda berdua bukan hanya menyatukan dua insan, m

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 48

    Mobil mewah yang membawa Satria dan Liana bergerak membelah jalanan Kota Solo yang mulai dibasahi rintik hujan sore. Di jok belakang, keheningan melingkupi mereka berdua. Bukan keheningan yang canggung, melainkan ketenangan mendalam dari dua insan yang baru saja melintasi berbagai badai besar bersama.Satria menatap ke luar jendela, memperhatikan deretan pohon asam tua dan bangunan bergaya arsitektur Jawa klasik yang melintas lambat. Di tanah inilah, petualangan mereka dimulai dari kesederhanaan. Kini, setelah melumpuhkan ancaman Ki Brojo, menundukkan pilar tiga taipan Jakarta, hingga menyelaraskan kembali nadi bumi Mataram, Satria merasakan gejolak energi di dalam dadanya tidak lagi membara liar. Energi naga itu telah berada pada titik keseimbangan mutlak—tenang, kokoh, dan berwibawa.Satria berpaling, mengamati wajah Liana dari samping. Putri tunggal konglomerat Baskoro Himawan itu tampak begitu anggun dengan sapuan rias tipis dan senyuman lembut yang menempel di bibirnya. Liana tid

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 47

    Liana tersenyum lebar mendengar bisikan Satria. Kehangatan yang mengalir dari pelukan pemuda itu seolah menyingkirkan hawa dingin dan lembap yang tersisa di dalam goa tua tersebut. Di sekeliling mereka, kilauan batangan emas berstempel kolonial dan deretan batu permata memantulkan cahaya senter dengan sangat indah."Bonus dari bumi yang nilainya bisa bikin Papa makin geleng-geleng kepala," kekeh Liana manja, jemari lentiknya bermain-main di kancing jaket kulit Satria. "Kalau Papa tahu kita nemuin harta karun ratusan miliar cuma gara-gara kamu kecium 'bau tanah' di Puncak, dia pasti langsung minta kamu patroli ke seluruh aset arsitektur Himawan Group."Satria terkekeh rendah, suara baritonnya bergema halus di dinding bata merah goa tua itu. "Pak Baskoro tidak perlu repot-repot sejauh itu, Li. Harta ini terkunci di sini selama hampir satu abad karena tanah di atasnya tersumbat oleh energi mati. Saya hanya membebaskan aliran nadinya, dan bumi menyerahkannya sebagai imbalan."Satria melet

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 46

    Malam makin larut di perbukitan Puncak. Suara gemercik air hujan gerimis yang menghantam kaca tebal vila membaur dengan suara letupan kecil dari kayu pinus yang terbakar di dalam perapian.Liana baru saja selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, mengenakan jubah mandi sutra longgar berwarna hitam yang kontras dengan kulit mulusnya. Namun, saat melangkah keluar dari kamar mandi, dia mendapati Satria tidak lagi berada di atas ranjang *king size* mereka.Pemuda itu berdiri tegak di tengah ruang tengah vila, tepat di atas karpet bulu tebal. Tubuhnya polos di bagian dada, hanya mengenakan celana panjang jins hitam. Matanya terpejam rapat, kedua telapak tangannya terbuka ke bawah, menggantung santai di sisi tubuhnya.Yang membuat Liana menahan napas adalah tato naga emas di dada Satria—pola itu tidak lagi sekadar berdenyut hangat, melainkan berpendar keemasan dengan ritme yang sangat cepat, seolah sedang merespons sesuatu dari dalam kedalaman tanah yang mereka pijak."Sat?" pangg

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 45

    Kata-kata tulus itu membakar sisa-sisa pertahanan emosi Liana. Tanpa menunggu lebih lama, Liana mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Satria, menjinjitkan kakinya, dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah pagutan yang dalam, hangat, dan sangat emosional.Ciuman mereka di tepi balkon berangin dingin itu mengalun tanpa ada rasa terburu-buru. Ini bukan ciuman yang dipicu oleh pelepasan energi akibat pertempuran spiritual, melainkan murni ciuman kerinduan akan ketenangan dan cinta yang telah teruji oleh berbagai badai. Lidah Satria menyesap lembut manisnya rongga mulut Liana, sementara tangan besarnya merayap menelusuri lekuk punggung mulus Liana, memanjakan setiap sentuhan di atas kain rajut tipisnya.***Sore harinya, saat kabut tebal perlahan mulai turun membungkus seluruh perbukitan dan hujan gerimis halus mulai membasahi kaca-kaca vila, udara dingin Puncak mencapai puncaknya.Di dalam kamar utama yang temaram, perapian kayu bakar menyala lembut, memancarkan cahaya jingga hangat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status