LOGIN“Mmpphh… ngghh…”Desahan Liana tertelan di dalam ciuman Satria. Angin pagi yang sejuk di balkon seketika terasa jauh, seolah dunia di luar tembok kaca Himawan Tower tidak lagi ada. Satria memperdalam ciuman, lidahnya menyusup pelan namun tegas, mengeksplorasi mulut istrinya dengan kesabaran yang penuh rasa lapar. Satu tangannya menahan pinggang Liana, menarik tubuh molek itu semakin rapat ke dadanya, sementara tangan lainnya naik ke tengkuk, jari-jari kokoh menyusup di antara helai rambut hitam yang masih berantakan karena angin helikopter tadi.Liana merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya hasrat biasa. Ada getaran hangat yang mengalir dari dada Satria—tepat di lokasi tato naga emas—langsung menembus kain kemeja kasual dan meresap ke kulitnya. Energi itu terasa padat, murni, dan sangat kuat. Seperti aliran sungai emas yang mencari muara.Satria melepaskan ciuman sejenak, dahi bersandar di dahi Liana. Napas mereka saling bertubrukan. Mata hitam pekatnya kini memiliki pendar keemas
Helikopter pribadi Himawan Group mendarat kembali di helipad dermaga pelabuhan tepat saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Liana berlari keluar dari kabin helikopter tanpa peduli pada angin kencang yang mengibaskan rambutnya. Pak Hendra menyusul cepat di belakangnya dengan raut wajah penuh kewaspadaan."Sat!" jerit Liana, suaranya gemetar menahan gejolak emosi yang membuncah.Di sudut dermaga, Satria berdiri tegap menatap laut utara yang kini kembali tenang. Pendar keemasan dari tato naga emas di dadanya berdenyut sangat halus dan stabil—tampak sempurna tanpa celah sedikit pun. Di sampingnya, Vanya Cedric sedang duduk di kursi lipat tim medis, dibungkus selimut tebal sembari menyeruput teh hangat.Liana langsung menghambur ke pelukan Satria, merangkulkan kedua tangannya rapat-rapt di leher kokoh suaminya. Tubuhnya bergetar, dan Isakan kecil lolos dari bibirnya saat menghirup aroma maskulin Satria yang utuh."Kamu enggak apa-apa, kan? Tadi batin aku mendadak sesak banget waktu di
Dengan berat hati dan rasa cemas yang membakar dada, Liana akhirnya ditarik masuk oleh Pak Hendra ke dalam helikopter. Baling-baling helikopter melesat cepat membelah langit malam, membawa Liana menjauh dari kawasan pelabuhan yang kian mencekam.Sepeninggal Liana dan helikopter yang menjauh, kabut hitam di atas laut bergulung membentuk wujud sesosok iblis betina raksasa dengan sembilan kepala ular berkulit merah darah. Nyai Sangkala tidak sekadar bangkit; dia telah menyerahkan seluruh sisa umur dan jiwanya kepada Iblis Laut Utara untuk mencapai bentuk Pesugihan Sembilan Nyawa."Hahaha! Naga Murni!" jerit Nyai Sangkala, suaranya menggelegar menghancurkan ribuan kaca kontainer di sekitar dermaga. "Kamu mengirim pergi Putrimu... itu artinya kamu telah membuang penyeimbang energi *Yin* milikmu! Tanpa aura murni Putri Himawan di sisimu, energi *Yang* naga emasmu akan membakar dadamu sendiri sampai hangus!"Satria berdiri tegap di tepi dermaga. Wajahnya tetap tenang tanpa setitik pun keragu
"Pilihan yang kamu tawarkan itu tidak pernah ada, Nyai," ujar Satria datar. Suara baritonnya mengalir tenang, namun membawa getaran daya murni yang membuat udara dingin di sekeliling pelabuhan mendadak hangat kembali.Nyai Sangkala memicingkan matanya yang merah membara. "Jangan menyombong, Naga Muda! Wadah tembikar ini terikat langsung pada ikrar dagang dan darah tiga puluh tahun keluarga Himawan! Begitu tembikar ini hancur menyentuh tanah, ikatan takdir mereka runtuh!"Dengan tawa melengking yang gila, Nyai Sangkala menghempaskan wadah tembikar itu ke bawah, berniat memecahkannya di atas marmer dermaga!WUUUSSHH!Sebelum wadah tanah liat itu menyentuh marmer, gerakan Satria sudah melampaui batas penglihatan mata biasa. Tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Liana, Satria mengibaskan lengan kirinya.Bukan pendar energi kasar yang keluar, melainkan sebuah uluran arus giok naga yang sangat halus dan lentur bagai sutra. Arus cahaya keemasan itu menyambar wadah tembikar di udara, mena
"Sat!" jerit Liana pendek saat rasa dingin yang luar biasa tajam mendadak menjalar cepat dari pergelangan kakinya, menusuk hingga ke sumsum tulang.Satria berbalik dalam hitungan fraksi detik. Sepasang manik matanya yang sepekat malam berkilat tajam melihat rantai hitam berukir aksara Jawa kuno—Rantai Sangkala—yang melilit rapat pergelangan kaki istrinya. Rantai gaib itu membara dengan pendar merah kehitaman, menjalar naik seperti sulur tanaman beracun yang mengincar jantung Liana.Tanpa membuang waktu, Satria melesat seraya mengulurkan tangan. Telapak tangan kokohnya mencengkeram rantai gaib tersebut secara langsung.BZZZZTTT!Asap hitam berbau belerang membumbung tinggi saat energi naga murni dari telapak tangan Satria beradu dengan racun Sangkala. Rantai itu meledak hancur menjadi debu gaib, namun sentakan balik dari ajian kotor tersebut sempat membuat hawa dingin menjalar ke lengan Satria.Satria menarik Liana rapat ke dalam dekapannya, mendekap tubuh molek istrinya yang gemetar m
"Pusaka itu cuma umpan, Den Satria!" jerit Vanya Cedric mendadak melalui saluran komunikasi, suaranya dipenuhi nada panik yang belum pernah terdengar sebelumnya.Di atas dermaga pelabuhan Jakarta yang diterangi pendar keemasan, Satria yang baru saja menuntaskan hantaman naga gaibnya mendadak menghentikan gerakannya. Pendar keemasan dari ledakan Pusaka Raja Sangkala di udara belum sempat redup sepenuhnya ketika kesadaran batin netrakawaskitan-nya menangkap sesuatu yang sangat janggal.Serpihan cahaya merah darah yang hancur dari pusaka itu tidak menguap. Serpihan itu justru meresap masuk ke dalam air laut, bergerak cepat bagai ribuan cacing gaib yang mengikuti garis arus bawah air—bukan untuk menyerang Jakarta, melainkan berbalik ke arah timur dengan kecepatan yang tak masuk akal!"Sat... ada apa?" lirih Liana, menyadari perubahan raut wajah suaminya yang mendadak mengeras bagai batu pualam.Satria tidak langsung menjawab. Manik mata hitam pekatnya berkilat emas pekat, menembus gelomba







