"Astaga, wajahmu benar-benar merah, Emily! Kau seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta saja!" pekik Diana tiba-tiba, menunjuk wajah sahabatnya dari seberang meja. Emily tersentak pelan dari lamunannya, cangkir tehnya nyaris terguncang di atas tatakan. "Apa? Benarkah?" "Lihat saja sendiri kalau tidak percaya," goda Diana dengan tawa tertahan. "Rasanya uap panas hampir menguar dari kepalamu." Dengan gerakan agak panik, Emily segera membuka tas tangannya, mengeluarkan cushion, dan memantulkan wajahnya pada cermin kecil di dalamnya. Benar saja, rona merah muda yang sangat kontras dengan kulit putihnya tercetak jelas di kedua pipinya. Buru-buru Emily menepuk-nepuk pipinya dengan telapak tangan, mencoba menormalkan suhu tubuhnya. Diana hanya bisa menatap sahabatnya itu dengan sisa tawa geli. Namun, saat tawa itu mereda, di balik senyumnya jelas masih ada secercah keraguan yang berakar dalam dirinya terhadap sosok Nicholas Spencer. Ia telah melihat sahabatnya menderita dala
اقرأ المزيد