เข้าสู่ระบบAku menatap wajah Ravyan cukup lama.
Tatapannya begitu tenang, tetapi penuh rasa ingin tahu.Aku tahu lelaki ini bukan sedang asal menebak. Selama beberapa hari terakhir, dia menyaksikan sendiri semua perubahan yang terjadi padaku.Aku menarik napas pelan."Entahlah." Suaraku lirih. "Aku juga bingung."Ravyan tidak langsung bertanya lagi. Ia hanya mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya."Kapan terakhir haid?"Pertanyaan ituAku pun gamang.Tapi tidak ada jalan lain. Lyra harus diperiksa dan aku harus tahu apa yang terjadi dengannya. Aku harus tahu kondisinya.Akhirnya aku setuju.Dokter menyiapkan suntikan berisi obat. Kemudian memintaku memegangi kedua kaki dan satu tangan Lyra.Tentu saja Lyra berontak dan berteriak. Tenaganya pun besar sehingga aku harus mengerahkan tenagaku juga untuk menahannya.Lyra terus berteriak. Kaki serta tangannya terus meronta. Sampai dokter berhasil menyuntik lengannya. Karena dosisnya rendah, Lyra masih terus berteriak dan histeris. Dia mengamuk di atas tempat tidur. Melempar apa yang ada di dekatnya hingga kasur itu berantakan.Lima belas menit berselang, tubuh Lyra perlahan melemah. Dia berbaring tanpa teriakan dan gerakan lagi. Tatapan matanya kembali kosong dan saat itu, dokter pun melakukan pemeriksaan dengan telaten.Dokter melepas stetoskop di daun telinganya lalu menghela napas."Mayor, istri
Hatiku berdebar hebat sekaligus nyeri. Ribuan ton batu seolah ditimpakan tanpa ampun. "Bau ini ...." Aku bergumam. Tanganku meremas selimut tersebut hingga urat-urat tampak menonjol. Sebagai lelaki, aku sangat hafal bau khas yang tertinggal di atas selimutnya. Itu ... bau sperma dari seorang lelaki. Aku lalu menatap Lyra yang terbaring lemah dan masih terpejam. "Apa yang sudah terjadi?" tanyaku dengan gemeletuk gigi yang terdengar. Setelah mencium aroma sperma yang tertinggal, pikiranku kacau. Hatiku marah. Darahku tersirap naik sampai ubun-ubun. Aku tidak bisa berpikir positif. "Siapa yang berani Lyra bawa ke kamar ini?" gumamku dengan rasa sakit yang makin mengoyak hati. Tapi satu sisi hatiku pun bertanya, kalau memang Lyra mengkhianatiku, kenapa kondisinya justru seperti ini? "Enggak mungkin...?" Air mataku tumpah ruah. Ah, terlalu
Aku berjalan lunglai menuju kamar mandi. Mendorong daun pintu yang tidak tertutup sepenuhnya. Begitu masuk, aku langsung mendengar suara gemericik air.Dan Lyra ada di sana.Di bawah kran shower yang mengalir deras.Lyra menangis.Pelan, lalu histeris.Tangannya tak diam saja. Setelah meremas rambut, kemudian ia memukul-mukul pahanya lalu mencakarnya juga."Lyra ...." Suaraku lirih memanggilnya. Namun ia seperti tidak mendengarku.Ia terus saja menangis.Tergugu sambil memeluk lututnya. Berselang detik, ia kemudian berteriak. Dan hal itu terus berulang.Aku ingin mendekat, tapi tadi saja Lyra tak bisa didekati.Akhirnya aku keluar dari kamar mandi. Kemudian menghubungi Mami meski jam di layar ponsel menunjukkan sudah setengah sebelas malam.Panggilan terhubung cukup lama sampai Mami menerimanya."Halo ...?" Suara Mami terdengar parau di ujung telpon."Mi, maaf saya me
POV RAVYAN ~Langit malam begitu pekat saat aku turun dari mobil dinas lalu berdiri di depan pagar rumah.Arloji di pergelangan tanganku menunjukkan sudah pukul sepuluh malam. Aku terlambat satu jam karena jalanan yang macet.Kuhembus napas lega karena akhirnya bisa kembali pulang setelah menyelesaikan tugas dan berjauhan satu Minggu lamanya dengan istriku.Tanpa sadar aku tersenyum melihat gerbang pagar yang tertutup rapat. Lampu teras serta halaman yang menyala hangat.Kugeret koper dan kemudian masuk.Halaman rumah tampak sedikit berantakan dari biasanya. Kemungkinan karena Lyra menginap di rumah Mami sehingga tidak mengurusnya, tapi itu bukan masalah. Besok pagi halaman ini masih bisa dibersihkan.Hatiku makin lega saat akhirnya menginjak teras rumah.Aku tidak segera masuk, melainkan menatap pintu rumah dengan penuh harap.Entah kenapa, setelah satu Minggu berjauhan dan kini akan ber
Saat sedang asyik bercermin degan memandangi penampilanku sendiri, lampu kamar utama ini tiba-tiba saja mati. Hingga ruangan menjadi gelap gulita membuatku susah melihat.Tanganku meraba-raba hingga berhasil menemukan ponsel dan menyalakan senternya.Aku menatap keadaan ruangan yang gelap lalu mengarahkan ponsel pada pintu dan keluar."Ya ampun ... jangan-jangan tokennya habis karena aku tinggal menginap," gumamku sendirian saat mengetahui seluruh ruangan dalam rumah ini dalam keadaan gelap.Sebelum meninggalkan rumah dan menginap di rumah Mami, aku benar-benar tidak mengecek token listrik hingga inilah akibatnya.Aku pun keluar dari kamar berbekal cahaya senter dari ponsel.Kemudian mulai mengisi daya token melalui aplikasi dari ponsel. Setelah nomor yang diperlukan muncul, aku pun bergegas keluar.Teras serta halaman pun gelap. Tapi rumah di depan menyala cukup terang.Aku menggeser kursi rotan di teras lalu m
~~~Tujuh hari sudah aku menginap di rumah Mami. Dan setelah kejadian Mas Arland tempo hari, aku sama sekali tidak pernah pulang. Selepas dari studio, aku langsung ke rumah Mami. Aku tidak tahu bagaimana kondisi rumah, bukan abai, tapi sebelum Ravyan pulang, aku khawatir Mas Arland masih akan terus menemui dan menggangguku.Sekarang pukul lima sore, aku sudah meninggalkan studio dan baru saja sampai di rumah Mami.Tubuhku sengaja dihempas di sofa ruang keluarga, belum ingin masuk kamar. Belum sampai satu menit aku duduk, ponsel di dalam tasku bergetar."Ravyan?" gumamku antusias melihat panggilan video dari Ravyan.Aku langsung menerimanya hingga wajah lelaki itu terpampang di layar."Hai, Sayang?" panggilnya begitu manis. Wajahnya yang tampan bercampur letih terpampang dalam layar.Aku tersenyum lebar. "Tumben video call jam segini?" tanyaku heran.Kedua sudut bibir lelaki itu tertarik. Menciptakan lengkung simetris yang menghiasi wajah lelahnya. Bukannya memberikan jawaban, ia malah
Pagi hari sekali, aku keluar dari dari gedung rumah sakit dan segera masuk ke dalam mobil. Mayor Ravyan diperbolehkan pulang dua jam lagi, sedangkan Kak Elina sudah pulang lebih dulu. Sebelum matahari terbit, ponselku tidak berhenti berbunyi dan memunculkan nama Mas Arland di layarnya. Namun, tida
Aku masih menatap laki-laki di atas ranjang itu dengan perasaan campur aduk. Namun lelaki yang mengaku sebagai seorang mayor itu justru terlihat tenang meski perban melingkar di kepalanya dan pelipisnya masih kemerahan akibat benturan tadi. Sedangkan aku? Belum selesai mencerna pengkhianatan Mas
Aku terpaku cukup lama di dalam mobil. Sampai beberapa menit terlewati dan korban yang kutabrak tak menunjukkan gerakan. “Ya Tuhan ... satu masalahku belum selesai, kenapa harus ditambah masalah baru?” gumamku panik. Akhirnya aku turun dari mobil dan mendekati seseorang yang masih terkapar di ata
DIKHIANATI MAS DOKTER, DINIKAHI PAK MAYOR ******* “Aghh, pelan-pelan, Mas. Sakit!” “Sakit ... atau enak?” Senyumku seketika lenyap setelah berdiri tepat di depan pintu ruangan praktik Mas Arland, seorang dokter pintar yang merupakan calon suamiku. Tanganku yang seharusnya mendorong gagang







