Pukul 06.55 mobil makin mendekati komplek Makorem.Ponselku bergetar dalam saku celana, dan saat aku mengecek, nama Mami terpampang di layar sebagai pemanggil.Panggilan tak berhenti, Mami terus menelpon tanpa sekalipun kuangkat.Sampai kemudian nama Kak Elina yang kini memanggil. Namun, aku masih tidak menerimanya. Aku senyapkan ponsel dan memasukkan kembali ke dalam saku. Mengembus napas kasar seraya menatap kaca mobil di mana udara sekitar masih berkabut.Di depan gerbang, dua wartawan dengan kamera langsung mengangkat lensanya ke arah mobil dinasku. Randy yang menyetir langsung tancap gas masuk ke dalam."Jangan turun dulu, Komandan," bisiknya.Aku mengangguk. Kaca kubuka sedikit. Di parkiran dalam, sudah ada dua mobil Provost. Artinya ini bukan panggilan biasa.Gedung utama Makorem masih sepi, tapi di lantai dua, lampu ruang Danrem sudah menyala.Aku rapikan PDL, memastikan sangkur dan baret terpasang sempu
Baca selengkapnya