Aku memilih menaruh ponsel di atas mini bar. "Enggak, Kak. Aku gak mau ganggu Ravyan. Aku gak mau nambah beban pikirannya. Kalau aku laporan, pasti Ravyan gak akan fokus kerja."Kak Elina tampak menghela napasnya. "Ya udah, terserah kamu kalau gitu. Tapi kalau nanti Ravyan udah benar-benar senggang, kamu harus tetap kasih tahu dia, lho. Kalau beban pikirannya bertambah, ya itu resiko dia sebagai suami kamu. Kalau bukan dia yang mikirin kamu, siapa lagi 'kan?"Aku menatap kakak perempuanku yang masih sibuk dengan masakannya itu. Apa yang dia katakan memang ada benarnya, tapi aku tidak sepenuhnya setuju. Ravyan memang suamiku. Memang dia yang seharusnya memikirkanku. Tapi untuk persoalan Mas Arland, aku rasa itu bukan hal penting untuk kulaporkan juga. Aku bisa menghadapinya sendiri."Kak, aku masih bisa urus sendiri. Aku rasa gak perlu laporan sama Ravyan," ujarku kemudian.Kak Elina mengembus napas kasar. Melepas kain celemek di depan tubuhnya lalu cuci tangan. "Ya udah kalau kamu mau
Baca selengkapnya