Pintu batu tertutup perlahan di belakang Pandya dan rombongannya, meninggalkan mereka di dalam sebuah ruangan luas yang seolah tidak memiliki ujung. Dindingnya dipenuhi cermin dengan ukuran dan bentuk yang berbeda-beda. Tidak ada obor atau sumber cahaya lain, tetapi setiap cermin memancarkan cahaya samar yang membuat ruangan terlihat seperti berada di antara malam dan siang. Pandya berdiri paling depan bersama Attaya, sementara Tibra, Prama, Danar, Catra, Hansa, Dipta, Byakta, Faruq, Inaya, Rajendra, dan Lakshan menjaga jarak beberapa langkah di belakang mereka.Pandya mencoba melihat pantulan dirinya, tetapi tidak menemukan apa yang seharusnya ada di dalam cermin. Sebaliknya, setiap permukaan kaca memperlihatkan pemandangan yang berbeda. Ada hutan yang tidak dikenalnya, medan perang yang telah lama runtuh, padepokan yang terbakar, bahkan sebuah desa yang terasa sangat akrab. Danar segera menyadari bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan cermin biasa.“Jangan menyentuhnya,” ujar D
Read more