Matahari pagi mulai merangkak naik, mengusir sisa-sisa kabut dingin yang sempat menyelimuti wilayah tengah Padepokan Nagendra. Dari atas balkon aula utama, Pandya Nagendra berdiri sembari menyandarkan kedua tangannya pada pagar pembatas batu. Jubah kebesaran putih dengan sulaman benang emas di sepanjang lengannya berkibar pelan ditiup angin sepoi-sepoi.Di bawah sana, sejauh mata memandang, pemandangan kesibukan yang luar biasa terhampar luas. Ribuan orang bekerja bahu-membahu. Suara dentingan palu yang beradu dengan paku, deburan kayu-kayu besar yang dipindahkan, serta teriakan penuh semangat dari para pekerja bangunan bergema saling bersahutan."Satu minggu yang lalu, tempat ini hampir rata dengan tanah karena perang," gumam Pandya pelan, pandangannya tertuju pada sebuah gerbang rahasia tiruan yang sedang dibangun ulang oleh para ahli bangunan. "Sekarang, melihat mereka bekerja tanpa memedulikan asal kasta atau ajaran lagi... rasanya masih seperti mimpi."“Jika ini mimpi, aku bersum
Read more