Di dalam kabin mobil yang bergerak cepat, Eva terus memberontak tanpa henti. Kedua tangannya bergerak liar, mendorong sekuat tenaga tubuh pria berbadan besar yang duduk mengapitnya. Siku kakinya menendang jok depan, sementara jemarinya terus mencakar, berusaha meraih tuas gagang pintu besi. Namun, mobil minibus itu melesat ugal-ugalan, membuat tubuh Eva beberapa kali terlempar dan kehilangan keseimbangan."Lepasin aku!" jerit Eva, suaranya melengking memenuhi ruang kabin yang sempit. "Aku bilang lepasin!"Rontaan keras Eva yang tiada henti akhirnya membuat pria yang duduk di kursi penumpang depan jengah. Pria itu perlahan menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Eva dengan sorot mata yang dingin."Lebih baik kamu jangan banyak bergerak," ucap pria di depan itu. "Sebentar lagi kamu bakal butuh tenaga besar buat tempur bersamaku."Suara pria itu terdengar teramat tenang, namun detik berikutnya, ledakan tawa dari mulutnya pecah begitu saja memenuhi kabin. Dua pria berbadan besar yang
閱讀更多