MasukPagi itu, Eva melangkah turun dari tangga. Ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya, membawa tas serta beberapa dokumen proyek yang sempat ia pelajari semalaman. Meski sisa cemas dari kejadian semalam masih mengintai, ia berusaha menepisnya dan bersiap berangkat. Namun, baru beberapa langkah menuju pintu utama, ia menghentikan langkahnya."Mau ke mana?" tanya Hendra dingin. Pria tua itu berdiri di dekat meja makan, menyesap kopinya tanpa menoleh sedikit pun.Eva menghentikan langkah, membalikkan badan dengan hembusan napas pelan. Bener, kan... pasti ada sesuatu, bisik batinnya prihatin."Mau berangkat ke proyek, Pa. Masih banyak barang yang harus diselesaikan hari ini," jawab Eva berusaha setenang mungkin.Hendra meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu menatap putrinya. "Mulai hari ini, kamu tidak usah kerja lagi."Mata Eva membelalak kaget. Ia mengambil langkah mendekat, mencoba menawar dengan logika. "Lho, kenapa, Pa? Papa sendiri yang bilang kemarin kalau kekurangan orang.""Papa s
Pintu SUV hitam itu terbuka, dan Hendra melangkah keluar. Suara tepuk tangan berturut-turut menggema di pelataran parkir proyek."Luar biasa..." ujar Hendra sambil terkekeh sinis. "Ternyata benar apa yang dibilang staf saya di lapangan. CEO besar rela turun langsung inspeksi ke proyek jam begini. Saya kira ada kebocoran struktur gedung yang darurat, ternyata cuma mau menjemput anak saya."Eva yang masih berusaha menyesuaikan matanya dari silau lampu, mencoba melepaskan diri dari dekapan David. "Papa? Papa ngapain di sini?"Hendra tidak menjawab Eva, matanya tetap mengunci David dengan pandangan meledek yang penuh kebencian. "Kalian mau ke mana malam-malam begini? Mau makan malam? Kok tidak ngajak saya?”David tetap berdiri tegap, merapikan posisi Eva di belakang tubuhnya secara halus."Selamat malam, Hendra," sapa David, suaranya tenang tanpa ada riak kepanikan. "Eva sudah selesai dengan pekerjaannya. Saya cuma bermaksud mengantarnya makan.""Tidak perlu," potong Hendra cepat, suarany
Detik berikutnya, David menarik kursi tepat di hadapan Hendra tanpa meminta izin. Ia duduk santai, lalu menyandarkan Punggungnya. Sepasang matanya menatap pria tua itu. "Aku pikir juga begitu," ujar David singkat.Hendra terkekeh sinis. "Iya... hubungan kita memang tidak bisa dibiarkan hancur begitu saja, kan?"David hanya menyunggingkan senyum tipis. Ia tidak berniat menanggapi atau memperpanjang kalimat Hendra. Pria itu justru memajukan tubuhnya pelan, mengulurkan tangan, lalu mengetuk berkas kontrak di atas meja dua kali dengan ujung jarinya.Sebuah gestur sederhana, namun penuh akan pesan tersirat bahwa nasib perusahaan dan hidup Hendra kini sepenuhnya ada di bawah ketukan jarinya.Hendra mengepalkan tangan di atas meja, menatap jari David dengan wajah mengeras. "Kamu sengaja tidak menyisakan ruang sedikit pun, David."David bersandar kembali. Tangannya tertaut tenang di atas pangkuan."Kamu yang memilih jalan ini, Hendra," bisik David datar.Hendra menarik napas berat, menatap D
David menoleh perlahan ke arah Rian. Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya. Senyuman itu sama sekali tidak mencapai sepasang matanya yang kelam."Papa sangat mengagumi dedikasi kamu, Rian," ujar David tiba-tiba dengan suara mengayun santai. "Ternyata seorang Direktur Operasional punya waktu sebanyak itu untuk mengurusi semua proyek."Rian seketika bungkam. Raut wajah polos yang tadinya ia pasang langsung luntur. Senyum di bibirnya tergantikan oleh keterkejutan yang berusaha keras ia sembunyikan. Pria muda itu mematung, tak menyangka gerakannya sore tadi sudah berlabuh begitu cepat di telinga papanya.David melangkah maju hingga ia berdiri tepat di hadapan putranya. Pria matang itu menatap Rian, memberi tekanan tanpa perlu menaikkan nada suaranya."Jangan pernah lupa, Rian..." bisik David, menekan setiap patah kata dengan penuh peringatan. "...kamu masih berada di dalam masa pengawasan Papa."David langsung melangkah tegap melintasi ruang tamu, meninggalkan Rian yang berdiri membeku
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Eva berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya. Derap langkah kakinya terdengar tergesa berpacu dengan detak jantungnya yang bergemuruh hebat. Begitu pintu kaca otomatis bergeser terbuka, Eva langsung melangkah mendekat ke tempat ayahnya berdiri, matanya menatap sang papa dengan bauran cemas dan kebingungan yang makin menumpuk. Namun, Hendra tidak menangkap apa yang Eva rasakan, pria tua itu membuang puntung rokoknya ke dalam tempat sampah, lalu berbalik jalan mendahului Eva menuju area parkir tanpa sedikit pun melirik putrinya."Pa..." panggil Eva, mempercepat langkah agar bisa berjalan beriringan dengan papanya.Hendra tetap diam. Wajahnya datar, melangkah lurus dengan pandangan terkunci ke depan seolah Eva hanya angin lalu.Sikap Hendra justru membuat rasa penasaran di dada Eva makin meledak. Ia tidak tahan lagi untuk menahan pertanyaan yang sejak tadi menyiksa pikirannya."Papa... Papa sekarang udah biasa ya ngobrol sama Rian?" tanya Eva, memasuk
Sore itu, ketika lorong lantai tiga mulai sepi, Eva dan David memanfaatkan kesempatan singkat tersebut untuk berjalan bersama. Di area yang lengang itu, mereka bisa sedikit bernapas lega tanpa perlu bersikap kaku seperti saat berada di antara para perkerja.Eva melangkah pelan di samping David sambil melipat kedua tangan di dada. "Lelah sekali hari ini. Tadi bagian elektrikal terus-terusan mengeluh karena jalurnya bertabrakan dengan pipa air."David tertawa pelan. Tangannya yang semula terbenam di dalam saku celana merangkul pinggang Eva perlahan, menarik wanita itu sedikit lebih dekat ke sisinya. "Itu hal biasa di lokasi proyek. Kamu tidak perlu menanggapi semua.""Bagaimana tidak ditanggapi? Papa mengecek semuanya dengan sangat teliti," balas Eva sambil menyenggol pelan bahu David. Ia refleks melirik ke arah lorong belakang, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka. "Lepaskan dulu tangannya, Mas. Bagaimana kalau ada pekerja yang melihat?""Tidak ada orang, mereka sudah
Mobil sedan hitam milik Rian berhenti tepat di depan pelataran rumah besar berarsitektur Eropa. Eva menatap keluar jendela dengan campur aduk. Jadi ini rumah David? Selama lima bulan berpacaran dulu, mereka hanya menghabiskan waktu di kota perantauan, tempat Eva menempuh pendidikan kuliah dan Dav
Eva berdiri mematung di depan wastafel, menatap lurus ke arah cermin besar berbingkai emas di hadapannya. Ia memperhatikan bayangan wajahnya sendiri yang tampak begitu asing dan melelahkan. Kedua tangannya mencengkram pinggiran wastafel dengan begitu erat, mencoba mencari tumpuan untuk tubuhnya ya
Eva langsung menarik napasnya, sementara jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya saat mengenali postur tubuh tegap yang sangat dihafalnya itu. Seluruh isi kepalanya mendadak berputar hebat, mencoba mencerna bagaimana mungkin David bisa berada di dalam rumahnya dan duduk berhadapan den
"Eva, lebih baik kita sampai di sini aja," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut David. Pria berusia empat puluh lima tahun itu duduk tegap di hadapan Eva, melipat kedua lengan kekarnya di depan dada sambil menatap lurus tepat ke arah sepasang mata gadis itu. Wajahnya tampak begitu dingin, se







