Rian menarik napas panjang, tatapannya bergerak lambat, bergantian mengarah kepada Hendra, David, lalu kembali pada Eva. Kali ini tidak ada lagi rentetan pembelaan atau teriakan protes yang keluar dari mulutnya. Kalau memang kehancuran ini yang kalian inginkan...batin Rian, menahan penuh kepuasan di matanya.Rian menundukkan kepalanya pelan, menyembunyikan ekspresi aslinya."...ya sudah," ucap Rian."Aku nggak bisa memaksa siapa pun lagi di sini. Kalau Om Hendra dan Eva merasa ini yang terbaik, aku terima," tambahnya.Tidak ada satu pun orang di dalam ruang rawat itu yang menyahut. Hendra tetap memasang wajah keras, sementara David sama sekali tidak menggeser fokus matanya.Rian mendongak, menyunggingkan sebuah senyuman tipis, lalu mengangguk kecil seperti sedang meratapi nasibnya yang malang. Setelahnya, ia membalikkan tubuh, melangkah meninggalkan kamar rawat.Namun, begitu tubuhnya benar-benar luput dari pandangan mereka semua, transformasi drastis langsung terjadi. Senyum pasrah
閱讀更多