Orang-orang di sekitar mereka terdiam. Kerut tipis di dahi Lady Zita menunjukkan ketidaknyamanan atas pertanyaan itu. Beberapa bangsawan yang tadi hendak berpencar spontan kembali menoleh. Pertanyaan itu terdengar seperti ungkapan simpati, tetapi tentu saja mereka tidak bodoh. Demikian juga bagi Cecilie. Pertanyaan itu seperti sebilah pisau yang diselipkan di balik sutra. Namun, semakin lama, ia semakin terbiasa menghadapi cara Floria berbicara. “Saya tidak tahu, Putri,” jawabnya, seraya menjaga raut wajahnya tetap datar. Karena emosi apa pun hanya akan menjadi bahan pembicaraan baru setelah hari ini. "Saya selalu berusaha memperlakukan semua orang dengan baik." Ia tersenyum tipis. “Namun saya juga belajar bahwa niat baik seseorang tidak selalu dibalas dengan kebaikan yang sama." Tak seorang pun bicara. Beberapa lady saling berpandangan. Kalimat itu terdengar sangat sederhana. Namun hampir semua orang yang ada di sana mengetahui kisah pertunangan Cecilie dengan Putra Mahkota
Read more