Kesunyian di Silven Mansion berbeda dengan kesunyian istana. Itu yang dirasakan Cecilie ketika menyusuri koridor menuju kamar pribadinya, bersama Greta. Istana penuh dengan aura yang mencekam, seolah ada banyak mata mengintip di tiap sudut. Namun di Silven Mansion, hanya ada aura dingin. Bahkan tatapan kaku para pelayan Silven masih lebih tertahankan dibanding tatapan tajam para pelayan istana. “Sebaiknya Anda beristirahat, Yang Mulia,” ujar Greta. “Saya akan membawakan teh hangat dan kue-kue kecil untuk Anda.” Cecilie hanya mengangguk. Lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Greta,” panggilnya sebelum pelayannya mencapai pintu. “Mulai sekarang kau harus meminta pelayan lain membantumu.” “Saya sudah pernah melakukannya, Yang Mulia,” kata Greta. “Tapi mereka pura-pura bodoh.” Cecilie menghela napas. “Minta sekali lagi, Greta. Katakan itu perintahku. Mereka sudah mendengar Grand Duke memberiku otoritas domestik di rumah ini.” Greta membungkuk. “Baik, Yang Mulia. Saya akan katakan itu ke
Read more