LOGINSetelah Thomas pergi, Evander berbalik menuju ruang kerjanya.Dua hari lagi, Emberfall akan dipenuhi keluarga kekaisaran dan para bangsawan dari berbagai wilayah.Namun sebelum semua orang datang, ia ingin memastikan bahwa istri dan keluarga istrinya dapat menikmati waktu bersama tanpa merasa sedang berada di tengah urusan politik.Setidaknya, untuk beberapa hari ini, ia ingin Cecilie merasakan bahwa Emberfall bukan hanya kediaman seorang Grand Duke. Tempat itu juga rumah bagi orang-orang yang disayanginya.Sayangnya, ia tidak bisa mengatur semua orang agar bersikap sama baiknya.Terutama Sylas.Evander mengenal keponakannya itu terlalu baik untuk berharap bahwa undangan ke Emberfall akan diterima tanpa gejolak. Namun ia tidak berniat membiarkan perasaan Sylas mengusik keluarganya. Itu sebabnya ia telah memerintahkan pengawalan tambahan di Aula Agung.Para pengawal yang ditugaskan di sana menerima instruksi untuk mengamati setiap orang yang berusaha menemui Sylas di luar jadwal kunju
Wajah Cecilie menghangat. “Ibu…” Viscountess Argenton tertawa kecil. “Apa? Ibu tidak boleh merasa bahagia?” “Tentu boleh.” Cecilie ikut tertawa, lalu memeluk ibunya sekali lagi. Di belakang mereka, Lord Argenton memperhatikan keduanya dengan senyum tipis. Ia membiarkan istri dan putrinya menikmati momen itu sebelum akhirnya mendekat. “Apakah Ayah tidak mendapatkan pelukan juga?” Cecilie langsung menoleh. “Ayah!” Ia menghampiri Julian dan memeluknya. Julian membalas pelukan putrinya dengan kedua tangan. Telapak tangannya menepuk punggung Cecilie pelan sebelum ia mundur untuk melihat wajahnya. “Kau terlihat lebih sehat daripada saat terakhir kali kami bertemu.” “Dokter Monroy memastikan saya makan dan beristirahat dengan cukup.” “Bagus.” Julian mengangguk puas. “Kalau tidak, Ayah mungkin harus tinggal di sini untuk mengawasi sendiri.” “Kalau begitu, saya akan meminta dokter Monroy memberi Ayah jadwal pemeriksaan juga.” Julian terdiam sesaat, lalu tertawa. “Kau semakin p
Dua hari sebelum pesta, ruang kerja Cecilie dipenuhi daftar tamu, surat konfirmasi kehadiran, dan catatan mengenai persiapan Emberfall. Serena Halloway berdiri di depan meja dengan sebuah buku besar di tangan, sementara Thomas memeriksa daftar kamar yang telah disiapkan untuk para tamu. Di samping meja Cecilie, Tilly berdiri. Siap untuk ikut mendengarkan laporan dan mencatatnya jika diperlukan. “Berapa banyak bangsawan yang sudah mengonfirmasi kehadiran mereka?” tanya Cecilie. “Sejauh ini, ada tiga puluh tujuh keluarga, Yang Mulia,” jawab Thomas. “Beberapa di antaranya tinggal cukup jauh dari Emberfall. Mereka diperkirakan tiba mulai hari ini.” Cecilie mengangguk sambil memeriksa daftar di hadapannya. “Kalau begitu, kita harus memastikan akomodasi mereka sudah siap sebelum kereta pertama tiba. Bagaimana pembagian kamar yang kita bicarakan kemarin?” Serena segera membuka buku catatannya. “Untuk keluarga kekaisaran, kami telah menyiapkan Sayap Tamu Agung di kastel utama.
Anak itu akan menjadi bagian dari keluarga Silveron. Jika laki-laki, ia kelak akan mewarisi gelar Grand Duke. Jika perempuan pun, keberadaannya tetap akan mengikat Cecilie semakin kuat kepada Evander. Dan yang paling membuat Sylas murka adalah kenyataan bahwa Cecilie tampaknya benar-benar menerima kehidupan barunya. Ia akan mengadakan pesta. Ia akan menyambut ucapan selamat dari para bangsawan. Ia akan menjadi seorang ibu bagi anak Evander. Sementara Sylas hanya bisa membaca kabar itu dari surat undangan yang dikirimkan kepadanya. Ia menarik napas panjang. Tidak. Ia tidak akan membiarkan kemarahan menguasainya. Sejak kecil, ia telah dilatih mengendalikan ekspresi dan emosinya. Seorang Putra Mahkota tidak boleh menunjukkan kelemahan hanya karena sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya. Jika ia berhasil menjatuhkan Evander dan mendapatkan kembali Cecilie, urusan anak itu bisa dipikirkan kemudian. Untuk saat ini, ia harus menyelesaikan persoalan yang lebih besar. Ia telah m
Permaisuri meletakkan cangkir tehnya dengan sedikit lebih keras daripada sebelumnya. “Yang kukhawatirkan adalah pengaruh Evander. Semakin besar kekuatannya, semakin banyak pihak yang mungkin memilih berdiri di belakangnya. Dan jika suatu hari dia memutuskan untuk mendukung orang yang menjadi sainganmu, kau akan menghadapi lawan yang jauh lebih sulit daripada yang kau bayangkan.” Sylas hendak menyanggah, tetapi ibunya mengangkat tangan untuk menghentikannya. “Kau tahu Alastor sudah kembali ke Valestrine. Dia berkunjung ke mana-mana, mendapat berbagai undangan dari bangsawan-bangsawan ibu kota. Dan anak itu tampaknya tidak punya rencana untuk meninggalkan Valestrine lagi.” Nama itu membuat Sylas terdiam. Elara memperhatikan perubahan kecil pada wajah putranya. “Apa kau tidak merasa cemas?” Sylas tidak segera menjawab. Permaisuri melanjutkan dengan nada yang semakin dingin. “Aku sudah mendesak ayahmu untuk segera mengadakan upacara penobatan resmi yang menetapkanmu sebagai pewar
Sylas menatapnya beberapa saat. Tentu saja ibunya tidak akan memanggilnya tanpa alasan. Terlebih setelah menerima undangan dari Silveron, ia bisa menebak bahwa pembicaraan mereka tidak akan menyenangkan. “Baik. Katakan kepadanya aku akan segera datang.” Lady Ravenor membungkuk sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan. Sylas merapikan mansetnya, kemudian mengambil mantel yang tersampir di sandaran kursi. Ia tidak menyukai panggilan mendadak seperti ini. Namun, menolak permintaan Permaisuri bukanlah pilihan yang bisa diambilnya begitu saja. Terutama ketika ibunya sendiri mulai ikut campur dalam urusannya. Permaisuri Elara sedang berada di taman pribadinya ketika Sylas tiba. Taman itu merupakan hadiah Floria untuknya. Sang putri menghabiskan cukup banyak waktu dan biaya untuk mengumpulkan berbagai tanaman berbunga, lalu mengatur penanamannya sendiri dengan bantuan para tukang kebun istana. Hasilnya, menurut Sylas, justru menyerupai halaman tempat penjualan tanaman. Mawar merah
Sehari sebelum upacara di Kuil Suci, Astoria tampak lebih sibuk dari biasanya. Rangkaian lili putih diletakkan di setiap sudut lorong, asap lilin aromatik menguar tipis dari setiap ruangan, pita-pita sutra direntangkan pelayan dari satu pilar ke pilar berikutnya. Sejak tadi Cecilie duduk diam di
Aula utama Astoria malam itu dipenuhi aroma parfum dari tubuh-tubuh yang berdesakan. Musik orkestra mengalun mengisi udara. Cecilie berdiri di sudut ruangan dengan segelas minuman yang belum diteguk. Gaun pesta biru pucat yang pagi tadi tampak cantik di depan cermin kini terasa berat seperti mena
“Sudah lewat waktu pemberkatan…” “Apa Putra Mahkota kali ini akan datang?” “Jangan-jangan… Yang Mulia Putra Mahkota membatalkan pernikahannya lagi.” Bisikan-bisikan itu menjalar dari satu baris ke baris lain, pelan tapi pasti, seperti api kecil di atas jerami. Para tamu telah duduk rapi di
Malam itu, Cecilie akhirnya berhasil meniduri sang Grand Duke. Bukan dengan jebakan, bukan dengan paksaan, tapi karena keinginan mereka sendiri. Dan tidak seperti kata orang-orang, alih-alih dingin, pria itu menunjukkan kelembutan memabukkan, dengan gairah yang begitu membara. Sesuatu yang







