Masuk“Permaisuri tidak hadir bersama Kaisar.”“Itu tidak seperti biasanya, bukan?”Bisikan-bisikan lainnya tertangkap oleh telinga Cecilie. Sementara tatapannya tertuju pada Countess Dagny.Wanita itu mengenakan gaun berwarna gelap dengan sulaman perak yang sangat halus. Topeng tipis menutupi sebagian wajahnya, tetapi sikap anggun dan tenang saat melangkah membuat sosoknya mudah dikenali.Ia berjalan di sisi Kaisar seolah keberadaannya di sana merupakan sesuatu yang paling wajar di dunia.Cecilie menahan napas. Perlahan ia menoleh ke arah singgasana Permaisuri yang masih kosong.Tidak ada siapa pun di sana. Hanya satu singgasana kosong yang menunggu pemiliknya.Bisikan semakin santer terdengar di antara para bangsawan.Satu kelompok mulai berbicara dengan suara rendah. Kelompok lain segera ikut menoleh dan saling bertukar pandang. Dalam hitungan detik, suasana aula yang sebelumnya dipenuhi kegembiraan berubah menjadi penuh rasa ingin tahu.Cecilie tidak perlu mendengar semua bisikan untuk
Cecilie tertegun.“Benarkah?”Ia mengalihkan tatapannya dari Lady Caldevon ke arah menara istana yang menjulang di antara pepohonan.Lady Caldevon mengangguk sambil tersenyum. “Sulit dipercaya, bukan? Kalau saya tidak membaca surat balasannya langsung, saya akan menganggap hal itu hanya rumor.”Cecilie memahami maksud sang Marchioness. Festival Musim Gugur selama bertahun-tahun berada di bawah pengawasan Permaisuri Kekaisaran. Beliaulah yang mengatur sebagian besar rangkaian acara sebelum tanggung jawab itu akhirnya diserahkan kepada Cecilie.Sementara Selir Agung Dagny hampir tidak pernah menghadiri festival.Bukan karena kedudukannya lebih rendah. Justru sebaliknya.Semua orang di istana mengetahui bahwa hubungan antara Permaisuri dan Selir Agung telah lama berjalan di atas sebuah perjanjian tidak tertulis. Mereka tidak saling mengusik. Permaisuri mengurus wilayah kekuasaannya sendiri, sementara Dagny melakukan hal yang sama.Dan Kaisar tidak pernah memaksa keduanya berada di tempat
Cecilie langsung terkejut. “Besok?” Lord Argenton mengangguk. Cecilie menatap ayahnya dengan raut wajah keberatan. “Apa tidak terlalu cepat? Bukankah Ayah masih membantu Grand Duke menyelidiki masalah di Devonvale?” “Ayah sudah menyampaikan semua yang perlu disampaikan.” Lord Argenton melipat suratnya. Ia melirik Evander. “Grand Duke juga sudah memperhatikan semua masukan itu dengan baik.” Evander mengangguk. “Bantuan Lord Argenton sangat berguna,” ujarnya dengan tulus. “Aku bahkan baru menyadari bahwa pengalaman Anda lebih mengesankan dari yang saya kira.” Cecilie menatap ayahnya. Membayangkan harus berpisah secepat itu dengan kedua orangtuanya membuatnya agak sedih. “Kalau begitu Ayah bisa tinggal beberapa hari lagi.” Lord Argenton tersenyum, menyadari bahwa masih ada sedikit Cecilie yang dulu dalam diri putrinya. Cecilie yang manja dan sangat dekat dengan orangtua. Namun itu sudah tak lagi relevan dengan dirinya yang sekarang, sebagai Grand Duchess Silveron.
Cecilie tidak ingat bagaimana akhirnya ia bisa tidur. Yang ia ingat hanyalah dirinya berbaring membelakangi Evander sambil menarik selimut sampai ke dada. Pipinya terasa panas. Bibirnya juga terasa aneh. Padahal tidak ada yang berubah. Namun ketika mengingat apa yang baru saja terjadi, jantungnya berdebar kencang. Evander menciumnya. Benar-benar menciumnya. Bukan di pipi seperti yang ia lakukan kepadanya, tetapi di bibir. Kehangatan bibir Evander bahkan masih terasa membekas dan tak kunjung hilang. Cecilie menutup mata rapat-rapat. Ia seharusnya tidak memikirkan hal itu lagi. Terutama karena Evander sudah kembali ke meja kerjanya. Pria itu tampak begitu tenang ketika membaca laporan-laporan yang menumpuk di atas meja. Seolah mencium istrinya adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan terlalu lama. Cecilie justru yang tidak bisa berhenti memikirkannya. Apa Evander memang ingin menciumnya? Pertanyaan itu muncul begitu saja. Membuatnya langsung membuka mata lagi. Mun
Evander belum kembali ke Silven Mansion bahkan ketika waktu makan malam tiba. Cecilie sempat bertanya kepada Fawkes apakah ada kabar dari Grand Duke. Si kepala pelayan menjawab tidak ada, dengan raut wajah kakunya yang biasa. Jadi setelah makan malam selesai, ia kembali ke kamar. Greta baru saja selesai membantunya memakai gaun tidur, ketika Rakhel datang untuk menambahkan beberapa potong kayu ke dalam perapian. Cecilie duduk di sofa tunggal dekat jendela. Seharusnya ia sudah mengantuk. Namun matanya masih terasa segar. Mungkin karena sisa kegembiraan dari pertandingan memanah tadi siang. Atau mungkin karena sejak melihat Evander berjalan bersama Sylas menuju istana, banyak pertanyaan jadi memenuhi kepalanya. Apa yang sebenarnya dibicarakan mereka? Apakah Evander menemukan sesuatu? Apakah Sylas mengatakan sesuatu? Dan kenapa suaminya sampai perlu mencarinya secara langsung? Cecilie mengembuskan napas. Ia bahkan tidak sadar bahwa sejak tadi dirinya menunggu Evander pulan
Di tengah kerumunan, Lady Argenton tersenyum. Sementara Evander masih berdiri dengan kedua tangan terlipat. Cecilie bisa melihatnya dengan jelas. Sudut bibir pria itu terangkat. Lady Daisy Lowe menghampirinya dan membungkuk. “Selamat, Yang Mulia,” ujarnya. “Anda menang.” Floria melempar busurnya ke tangan seorang pelayan dan menghampiri Cecilie. Keangkuhannya yang tadi ia tunjukkan kini tidak lagi terlihat. Ia tersenyum, meski senyum itu tidak sampai ke matanya. “Saya terlalu naif mengira Anda benar-benar tidak pandai memanah,” ujarnya. “Bidikan Anda jitu sekali, Yang Mulia. Mata biru pucat sang putri berkilat tajam hanya sedetik. Namun segera kembali netral ketika ia menyadari berpuluh pasang mata sedang mengamati reaksinya. Cecilie tersenyum tenang. Ia tahu bagaimana perasaan Floria saat ini. Wanita itu bukan orang yang mudah menerima kekalahan. “Itu hanya kebetulan, Putri Floria,” sahutnya. “Mungkin karena saya hanya ingin bermain, jadi saya tidak punya beban.
“Sudah lewat waktu pemberkatan…” “Apa Putra Mahkota kali ini akan datang?” “Jangan-jangan… Yang Mulia Putra Mahkota membatalkan pernikahannya lagi.” Bisikan-bisikan itu menjalar dari satu baris ke baris lain, pelan tapi pasti, seperti api kecil di atas jerami. Para tamu telah duduk rapi di
Sehari sebelum upacara di Kuil Suci, Astoria tampak lebih sibuk dari biasanya. Rangkaian lili putih diletakkan di setiap sudut lorong, asap lilin aromatik menguar tipis dari setiap ruangan, pita-pita sutra direntangkan pelayan dari satu pilar ke pilar berikutnya. Sejak tadi Cecilie duduk diam di
Aula utama Astoria malam itu dipenuhi aroma parfum dari tubuh-tubuh yang berdesakan. Musik orkestra mengalun mengisi udara. Cecilie berdiri di sudut ruangan dengan segelas minuman yang belum diteguk. Gaun pesta biru pucat yang pagi tadi tampak cantik di depan cermin kini terasa berat seperti mena
Evander tidak berkata apa pun. Pria itu hanya berdiri di depannya, tangan terselip di belakang punggung. Mata biru yang tajam itu menyapu wajahnya dengan sorot menilai. Detik berikutnya, sebuah tawa rendah dan dingin lolos dari bibir pria itu. “Menikahimu?” Jemarinya menyisir rambut pirangnya







