Share

28. Topeng yang Runtuh

Author: Anna Frey
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-09 09:44:14

Si pelayan membungkuk dalam, kelegaan tampak jelas di wajahnya. “Silakan mengikuti saya, Yang Mulia.”

Greta menyusul di belakangnya ketika Cecilie melangkah mengikuti si pelayan.

“Yang Mulia, seharusnya saat ini kita sudah berkemas.” Suaranya bernada risau. “Yang Mulia Grand Duke sudah bilang kita cuma punya waktu satu jam. Bagaimana kalau... beliau marah?”

Cecilie bukannya tidak mengkhawatirkan hal itu juga. “Kita cuma akan pergi sebentar,” ujarnya tanpa menoleh.

Mereka menyusuri koridor
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   295. Yang Lebih Penting Dibicarakan

    Cecilie menatapnya dengan wajah merah padam. “Kalau Anda tidak menginginkannya, tentu saja tidak.” “Bagus.” Evander mengecup keningnya. “Kalau begitu, simpan uangmu.” Cecilie mencubit pelan lengan suaminya. “Anda ini!” Tawa rendah Evander terdengar di dekat telinganya. Ia lalu menarik Cecilie kembali ke dalam pelukannya, membiarkan perempuan itu menyembunyikan wajah di dadanya. Beberapa saat kemudian, Cecilie mendongak. “Itukah hadiah yang Anda inginkan?” “Itu baru sebagian.” Cecilie mengangkat kedua alisnya. “Lalu apa lagi?” Sorot mata Evander menatapnya, jauh lebih hangat daripada sebelumnya. “Untuk sekarang, tetaplah dalam pelukanku sebentar.” Cecilie berkedip. “Hanya itu?” “Kau akan mengetahuinya nanti malam.” Jawaban itu membuat wajah Cecilie merona, tetapi bibirnya tersenyum. Ia kembali menyandarkan kepala di dada suaminya, mendengarkan detak jantung yang terasa begitu dekat. Di luar sana, persoalan Pelabuhan Silveron masih menunggu penyelesaian. Ada upah buruh

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   294. Kubiarkan Kau Bersinar

    Evander mengamati Cecilie beberapa saat setelah istrinya selesai berbicara. “Ide yang bagus.” Cecilie tersenyum puas. Namun senyumnya perlahan memudar ketika menyadari wajah suaminya masih muram. Kemarahan yang tadi meluap di dalam kereta memang sedikit mereda, tetapi kerutan di antara alis Evander belum juga menghilang. Ia ragu sejenak sebelum bertanya, “Bagaimana perundingan dengan para wakil buruh tadi?” Evander mengembuskan napas. Kemuramannya kembali semakin jelas. Cecilie bahkan bisa merasakan emosi yang berusaha dikendalikan itu lagi. “Belum ada titik temu. Mereka tetap bersikeras dengan tuntutan mereka, sedangkan beberapa permintaan tidak bisa langsung kusetujui tanpa memeriksa dampaknya terhadap operasional pelabuhan. Kami memutuskan untuk menangguhkan perundingan selama beberapa hari.” Cecilie ikut merasa kecewa. Tadi ia melihat suaminya bersemangat ketika akan berangkat, ternyata apa yang diharapkannya tidak terwujud. “Jadi, Anda akan bertemu mereka lagi?” tanyanya h

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   293. Kemarahan Grand Duke Silveron

    Cecilie mengatupkan kedua tangannya di pangkuan. “Sebelum saya menjawab, saya harus memberitahu Anda sesuatu.” Tatapan Evander langsung tertuju kepadanya. “Apa?” “Saya bertemu dengan seorang buruh bernama Francine Todds. Dia muncul bersama anaknya yang masih kecil.” Cecilie berhenti sejenak. “Ketika saya bertanya tentang keadaan keluarganya, dia mengatakan bahwa mereka tidak pernah menerima jumlah upah yang utuh, yang seharusnya dibayarkan kepada suaminya.” Wajah Evander seketika berubah. “Apa katamu?” “Upah suaminya tidak dibayarkan secara utuh.” Cecilie mengulangi ucapannya lambat-lambat. Rahang Evander mengeras. Rona merah mulai menjalar di wajahnya, sementara tangannya yang bertumpu di atas lutut mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. “Siapa yang melakukan itu?” “Saya belum tahu." Cecilie menggeleng. Sejujurnya ia sendiri penasaran dan agak menyesal karena tidak berhasil mengorek lebih jauh. "Francine tidak berani menyebutkan nama siapa pun," ujarn

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   292. Orang-Orang di Rumah Kumuh

    Perempuan itu membuka mulut, tetapi tak segera menjawab. Tangannya justru semakin erat memeluk anaknya. Lalu akhirnya ia menggeleng. “Saya tidak tahu.” Cecilie terdiam. Ia mengerti, wanita itu bukannya tidak tahu. Ia takut memberitahu siapa orangnya. Dan Cecilie bahkan berani bertaruh, jika semua orang di sini ditanyai, pasti jawabannya juga tidak tahu. Ia menghela napas. Perjanjian yang ditandatangani Evander ternyata sia-sia. Ternyata bagi para buruh itu, kenaikan upah yang telah ditetapkan Grand Duke tidak pernah benar-benar mereka rasakan. Cecilie menegakkan punggungnya. Ia tentu akan memberitahu Evander soal ini. Namun selagi berada di tempat itu, ia ingin melihat apa lagi yang bisa dilakukan untuk membantu mereka. “Siapa namamu, nyonya?” tanyanya. “Francine Todds, Yang Mulia.” “Baiklah. Nyonya Todds, di mana rumah Anda? Tunjukkan kepada saya pemukiman tempat kalian tinggal.” Francine Todds mengangguk. “Mari ikuti saya, Yang Mulia.” Francine menggendong Ben

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   291. Sesuatu yang Tak Beres

    Cecilie terdiam sejenak. Ia ingin membantah karena ingin ikut dilibatkan dalam pembicaraan itu. Ingin belajar memahami persoalan buruh yang sering menyulitkan suaminya. Namun ia melihat wajah Evander penuh kekhawatiran. Dan Evander tidak pernah khawatir tanpa sebab. “Yang Mulia, Grand Duke benar.” Lord Rothys tiba-tiba ikut bicara. “Demi kebaikan Anda. Sebab situasi bisa tiba-tiba memanas dan memancing kericuhan. Bagaimana kalau Anda menunggu di ruang duduk saya? Saya akan menyuruh pelayan menghidangkan teh…” “Tidak perlu repot-repot, Lord Rothys,” ujar Cecilie akhirnya. “Sebaiknya saya akan melihat-lihat kawasan ini sembari menunggu. Saya ingin mengenal lingkungan di sekitar pelabuhan.” Evander menatapnya. Mencoba mencari tahu perasaan Cecilie. Ia mengira Cecilie mungkin akan merasa gusar karena dicegah untuk mengikuti perundingan itu. Namun istrinya tampak tenang. “Baik. Bawalah dua pengawal. Dan jangan pergi terlalu jauh dari gedung ini,” ujarnya menyetujui Cecilie mengang

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   290. Melawan Rumor dengan Rumor

    Evander menatap istrinya. “Kau ingin ikut ke pelabuhan?” Cecilie mengangguk tanpa ragu. “Ya. Saya ingin bertemu para buruh dan mendengar sendiri tuntutan mereka.” “Pertemuan itu mungkin tidak akan berlangsung dengan tenang.” “Saya tahu.” “Dan kau baru tiba di Silveron beberapa hari lalu.” “Karena itulah saya ingin ikut.” Cecilie teringat perkataan beberapa bangsawan pada pesta penyambutan mereka. Mereka meragukan kemampuannya bertahan di Silveron, tempat kehidupan jauh lebih keras daripada di Valestrine. Saat itu ia tidak bisa menyangkal bahwa dirinya memang belum mengenal kehidupan masyarakat wilayah ini. “Saya memang dibesarkan dalam kehidupan yang lebih nyaman daripada sebagian besar warga Silveron,” katanya. “Kalau saya ingin mendampingi Anda memimpin wilayah ini, saya harus belajar memahami kehidupan mereka secara langsung. Saya tidak bisa hanya mengandalkan laporan di atas meja.” Evander memperhatikannya sejenak. “Kau tidak perlu membuktikan apa pun kepada pa

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   6. Apakah Ini Nyata?

    “Sudah lewat waktu pemberkatan…” “Apa Putra Mahkota kali ini akan datang?” “Jangan-jangan… Yang Mulia Putra Mahkota membatalkan pernikahannya lagi.” Bisikan-bisikan itu menjalar dari satu baris ke baris lain, pelan tapi pasti, seperti api kecil di atas jerami. Para tamu telah duduk rapi di

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   5. Yang Mulia, Tolong Pertimbangkan

    Sehari sebelum upacara di Kuil Suci, Astoria tampak lebih sibuk dari biasanya. Rangkaian lili putih diletakkan di setiap sudut lorong, asap lilin aromatik menguar tipis dari setiap ruangan, pita-pita sutra direntangkan pelayan dari satu pilar ke pilar berikutnya. Sejak tadi Cecilie duduk diam di

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   4. Aku Tahu Permainanmu

    Aula utama Astoria malam itu dipenuhi aroma parfum dari tubuh-tubuh yang berdesakan. Musik orkestra mengalun mengisi udara. Cecilie berdiri di sudut ruangan dengan segelas minuman yang belum diteguk. Gaun pesta biru pucat yang pagi tadi tampak cantik di depan cermin kini terasa berat seperti mena

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   3. Sebuah Tawaran Nekad

    Evander tidak berkata apa pun. Pria itu hanya berdiri di depannya, tangan terselip di belakang punggung. Mata biru yang tajam itu menyapu wajahnya dengan sorot menilai. Detik berikutnya, sebuah tawa rendah dan dingin lolos dari bibir pria itu. “Menikahimu?” Jemarinya menyisir rambut pirangnya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status