Tak ada tanda-tanda kemarahan di wajah Floria seperti saat mereka terakhir kali bertemu di Taman Bougenville di istana. Justru sebaliknya, ia tampak terlalu tenang. Seolah semua emosi buruk yang pernah meledak di antara mereka sudah ia lipat, ia simpan, lalu ia ganti dengan senyum yang dipoles sempurna. Cecilie tidak berdiri menyambutnya. Ia tetap duduk, punggungnya tegak, tangan terlipat di pangkuan. Tenang di permukaan, meski perasaan di dadanya mulai berkecamuk oleh ketegangan dan antisipasi. Floria melangkah masuk lebih dulu ke area taman kaca itu, diikuti beberapa lady yang tadi masih duduk bersama Cecilie. Namun tidak ada yang berani berjalan sejajar dengannya. Semua otomatis memberi ruang. Sesuatu yang sebetulnya tidak mengherankan bagi Cecilie. Dengan sikapnya yang manis dan rapuh, Floria selalu pandai menjadikan dirinya pusat perhatian di setiap ruangan yang ia masuki. “Maafkan keterlambatan saya,” ucap Floria ringan, suaranya nyaris seperti percakapan santai. “Ada
Read more