Malam itu, setelah para pelayan akhirnya meninggalkannya sendirian, Cecilie sempat berdiri cukup lama di depan pintu penghubung menuju ruang depan kamar mereka. Ia tak mendengar suara langkah kaki atau gerak apa pun, sehingga rasa penasaran membuatnya mendorong pintu itu sedikit. Ruang depan hanya diterangi cahaya redup dari perapian. Dan di atas sofa panjang dekat jendela, Evander sudah tertidur. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Cecilie melihat pria itu benar-benar beristirahat tanpa setumpuk dokumen di tangannya. Tidak ada laporan militer, surat-surat dari Silveron, maupun peta perbatasan yang biasanya memenuhi mejanya. Dalam tidur, garis-garis tegas di wajah Evander seolah menghilang. Membuatnya kelihatan lebih muda dan manusiawi. Napasnya terdengar pelan dan teratur di tengah derak kayu dari perapian. Baru sekarang Cecilie menyadari bahwa mungkin orang yang paling berhak merasa lelah malam ini bukanlah dirinya. Sejak mereka tiba di Greymont, Evander menjalankan per
Read more