LOGINArga memarkir mobil di depan apartemen Serena. Lampu lorong sudah menyala redup, hujan sore Jakarta masih turun tipis-tipis, membuat aspal mengkilap seperti cermin hitam yang memantulkan cahaya neon kota. Ia naik lift dengan langkah cepat tapi tenang, jaket hitamnya masih basah di bahu. Setiap detik terasa berat, seperti beban yang tak kunjung lepas sejak Reno muncul kembali dalam hidup mereka.Serena sudah menunggu di depan pintu. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di dahi. Matanya agak bengkak—bukan karena menangis, Arga tahu itu lebih karena khawatir yang ditahan lama. Wanita itu berdiri dengan lengan memeluk tubuhnya sendiri, seolah mencoba menahan dingin yang datang dari dalam.“Masuk,” kata Serena pelan, suaranya hampir hilang ditelan hujan di luar.Ruangan apartemen terasa hangat dibandingkan udara malam di luar. Aroma kopi yang tadi dibuat Serena masih tersisa, manis dan pahit sekaligus. Arga melepas jaket dan meletakkannya di kursi. Ia tidak langsung duduk. Tubuhnya
Lampu merah di perempatan Gatot Subroto.Arga mengerem, tangan kiri di setir, mata menyapu kaca depan dan dua kaca samping secara bergantian. Lalu ke spion. Kendaraan yang berjejal, warna-warni, tidak ada yang kelihatan mencurigakan dari sini.Ponselnya berdering. Serena."Arga, Reno nggak jawab. Chat-ku juga belum dibaca.""Sabar." Lampu hijau. Ia menginjak gas. "Aku baru belok ke arah Gatot Subroto. Kalau dia nurutin arahan tadi, harusnya sudah kelihatan.""Coba kamu percepat.""Lagi."Mesin menderu. Arga menyalip dua kendaraan sekaligus, matanya menyapu tiap sedan hitam dan silver yang ada di depan."Serena, dengerin. Kalau Reno tidak membalas bukan berarti dia kenapa-kenapa. Bisa aja dia lepasin baterai ponselnya sendiri biar nggak dilacak.""Kamu yakin?""Nggak. Tapi itu satu-satunya kemungkinan yang bikin aku masih bisa nyetir dengan tenang sekarang."Serena diam sebentar di ujung sana. Arga tahu itu bukan berarti ia tenang — hanya sedang memilih tidak memperburuk situasi."Aku
Tatapan Reno tidak seperti biasanya.Serena hafal betul mimik wajah mantan suaminya itu ketika butuh bantuan — sudah terlalu sering melihatnya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ada sesuatu di sana yang lebih dalam dari sekadar kepepet."Ada apa lagi?" Serena berdiri di ambang pintu, belum bergeser. "Dan kenapa kamu selalu datang ke apartemenku waktu pagi buta seperti ini?""Maafin aku sebelumnya, Ser." Reno mengusap wajahnya. "Tapi beneran, kali ini aku butuh bantuanmu."Serena menghela napas. Lalu membuka pintu lebih lebar."Yaudah, masuk dulu."Reno duduk di sofa, matanya langsung menyapu ruangan — kiri, kanan, ke arah jendela — dengan cara seseorang yang terbiasa memeriksa tempat sebelum bicara."Aku denger Bima udah resign ya? Berarti kamu penggantinya?""Entahlah. Masih tunggu keputusan direksi."Reno mengepalkan tangannya di atas lutut. Serena menatapnya."Ada apa, Ren?""Setelah kasus ini—" Reno berhenti. "Kamu masih berhubungan sama Arga?""Kami temenan. Udah, jangan ngulur wakt
Tiga hari setelah penetapan tersangka Hendra Prawiratama, dunia tetap berputar.Jakarta tidak berhenti macet. Kopi tetap harus dibuat. Artikel tetap harus diedit dan dikirim sebelum deadline. Serena masih bangun pukul enam, masih memeriksa ponselnya sebelum kaki menyentuh lantai, masih minum teh pertama sambil berdiri di dapur karena tidak sabar menunggu duduk.Artikel panjang tentang keluarga Wicaksana tayang dua hari setelah penangkapan Hendra.Dua belas ribu kata. Tiga generasi keluarga. Satu kematian yang selama ini dikubur rapi di balik diagnosis serangan jantung, dan satu anak laki-laki yang akhirnya memilih bicara bukan karena tidak takut lagi — tapi karena diamnya sudah terlalu mahal.Serena menulis semuanya dengan jujur, seperti yang ia janjikan. Termasuk bagian yang tidak nyaman: keputusan-keputusan Hendratno yang bisa diperdebatkan, pilihan bisnisnya yang tidak selalu bersih, hubungannya dengan Hendra yang pada awalnya bukan paksaan.Danu membaca draftnya tiga kali sebelum
Wisnu datang tepat waktu.Serena dan Arga sudah ada di lobi ketika mobilnya berhenti di depan gedung — Serena dengan tas yang tidak pernah ia buka semalam, Arga dengan kemeja yang sama dari kemarin tapi entah bagaimana tetap kelihatan rapi."Tidur berapa jam?" tanya Wisnu begitu mereka masuk."Cukup," jawab Serena."Dua puluh menit," jawab Arga bersamaan.Wisnu menatap keduanya bergantian. Memilih untuk tidak berkomentar.Di dalam mobil, Wisnu menjelaskan susunan hari itu. Danu Wicaksana akan datang pukul sembilan dengan pengacaranya. Bima sudah diantar Revan ke lokasi yang aman sejak semalam dan siap memberikan keterangan tertulis. Dokumen kontrak dan email internal sudah ada di tangan penyidik KPK yang Wisnu percaya — orang yang sama yang pernah bekerja sama dengan Pak Rahmat bertahun-tahun lalu."Revan?" tanya Serena."Sudah di sana.""Dia mau bersaksi juga?""Revan tidak bersaksi secara resmi. Dia hanya... memastikan semua pihak yang perlu hadir, hadir." Wisnu menggerakkan tangann
Sebuah pesan diterima Serena. Dari Danu Wicaksana."Saya mau bicara. Tapi bukan lewat pesan. Bisa ketemu malam ini?"Serena membaca pesan itu dua kali. "Bisa. Di mana?"Balasannya cepat. Sebuah nama kafe dan alamat — tiga blok dari kantor polisi tempat Hendra baru saja masuk sebagai saksi."Ada apa?" Arga membaca ekspresi Serena sebelum ia sempat bicara."Danu mau ketemu. Malam ini.""Saya ikut.""Arga—""Saya ikut, Serena."Nada itu tidak menyisakan ruang untuk debat. Serena menutup ponselnya."Oke."Danu Wicaksana tidak semuda yang Serena bayangkan.Ia duduk di sudut kafe dengan cangkir teh yang tidak ia sentuh, rambut beruban di pelipis meski usianya mungkin akhir 30 tahunan. Ada kantung di bawah matanya — jenis yang tidak datang dari satu malam tidak tidur, tapi dari berbulan-bulan menyimpan sesuatu yang berat."Serena ya?" Ia berdiri ketika mereka masuk, lalu matanya bergerak ke Arga. "Dan ini?""Rekan saya. Arga Mahendra."Danu menatap Arga sebentar — dengan cara seseorang yang
Kopi Serena datang dalam cangkir putih polos.Di seberangnya, Arga sudah membuka laptopnya kembali—tapi layarnya menghadap sudut yang tidak memungkinkan Serena melihat isinya. "Clara Anindita," katanya. Melanjutkan dari tadi, tanpa transisi. "Kalau dia memang punya hubungan dengan Revan—kenapa dit
Rabu. Pukul enam dua puluh pagi.Serena mematikan mesin mobilnya dua rumah dari alamat yang Harmoko berikan. Jalan di kawasan Menteng Dalam ini sempit dan sepi—deretan rumah tua dengan pagar rendah, pohon mangga yang akarnya sudah mengangkat trotoar, satu warung rokok yang belum buka. Cahaya masih
Gedung tua Gatot Subroto terlihat lebih kusam di siang hari.Serena parkir dua blok dari gedung—kebiasaan lama, tidak pernah ia pikirkan secara sadar. Ia berjalan dengan langkah yang tidak terburu-buru tapi tidak pelan, blazer hitam tipis di atas kemeja putih yang tucked-in rapi, rambut dikuncir re
Nama itu muncul dua hari setelah telepon Wisnu.Revan Arkana. Direktur Operasional Minerva Advisory. Bima meletakkan fotonya di meja Serena pagi itu—pintu ditutup, tirai ditarik setengah, kebiasaan baru sejak kasus ini masuk ke meja mereka. Rahang tegas, senyum kamera, berdiri di depan gedung kaca







