Keesokan paginya, mereka berpamitan pada nenek Weitian."Jagalah dirimu, Nak," nenek Weitian memeluk Ning Yuan erat. "Dan ingat, apa pun yang terjadi, kau memiliki restuku.""Terima kasih, Nenek," Ning Yuan menangis.Weitian juga memeluk neneknya. "Nenek, kau pasti akan datang ke istana, kan?""Tentu saja. Aku akan datang untuk pernikahan cucuku," nenek Weitian tersenyum. "Tapi untuk sekarang, pergilah. Perjalananmu masih panjang."Mereka berempat pun berangkat. Ning Yuan, Weitian, Shen Ziyuan, dan Zan menunggang kuda meninggalkan desa kecil itu. Ning Yuan masih merasakan hangatnya pelukan nenek Weitian di hatinya.***Di tengah perjalanan, Weitian mendekatkan kudanya ke Ning Yuan."Sayang," katanya pelan, "tadi malam, kau dan nenek bicara apa?"Ning Yuan menoleh. "Tidak ada. Hanya ngobrol saja.""Hanya ngobrol?" Weitian mengangkat alis di balik topeng. "Nenek tidak mengatakan apa-apa tentang ibuku?""Tidak," Ning Yuan berbohong. "Hanya... cerita masa kecilmu. Tentang betapa nakalnya
Last Updated : 2026-08-30 Read more