Amukan Luna meledak begitu pintu kamarnya terkatup rapat. Gadis itu melemparkan bantal, membalikkan tempat pensil di atas meja rias, hingga vas bunga kecil yang berada di sudut meja hancur berkeping-keping menghantam lantai marmer. Napasnya memburu, mukanya merah padam dipenuhi amarah yang membakar."Kurang ajar! Kak Axel benar-benar kurang ajar!" jerit Luna histeris seraya menghentakkan kakinya ke lantai.Rona yang bergegas mengekor di belakangnya langsung mengunci pintu kamar. Pria paruh baya di luar, John, masih sibuk menetralkan rasa syoknya di ruang keluarga, sementara Rona harus meredam ledakan emosi putri kesayangannya ini."Luna, tenang dulu, Sayang! Jangan teriak-teriak seperti ini! Jangan buang-buang energimu, Sayang!" bisik Rona panik sembari memegang kedua bahu Luna yang gemetaran."Aku tidak peduli, Mama!" rengek Luna melengking, air matanya kembali menetes deras, kali ini bukan air mata buatan, melainkan murni luapan amarah dan rasa tidak terima. "Mama lihat sendiri kan
Leer más