Melihat perhatian seluruh pengunjung dan staf restoran kini tertuju penuh ke mejanya, wajah Hazel memerah padam, bukan karena malu, melainkan karena amarah yang ditahannya setengah mati. "Ikut aku!" perintah Hazel. Tanpa membuang waktu, Hazel langsung menyambar pergelangan tangan Arlo dan lengan jas Axel sekaligus, lalu menarik kedua pria bertubuh tegap itu keluar secara paksa dari area restoran. Yaya mengikuti dari belakang dengan langkah terburu-buru dan napas memburu, panik setengah mati melihat situasi yang makin lepas kendali.Setelah melangkah cukup jauh dari area pintu masuk restoran berhenti di sudut pelataran parkir yang agak remang dan sepi, Hazel melepaskan cengkeramannya dengan sentakan keras. Ia memutar tubuhnya, menatap Axel dengan sorot mata yang sarat akan kilatan amarah. "Apa-apaan kamu, Axel?!" bentak Hazel, suarasa bergetar menahan luapan emosi. "Kenapa kamu tiba-tiba membabi buta mengamuk seperti orang kesetanan di tempat umum?! Apa kamu tidak malu, ha?!"Axel,
Leer más