Home / Romansa / Sekarang, Giliranku! / blokir dan hapus

Share

blokir dan hapus

Author: Perfect Wife
last update publish date: 2026-08-27 21:40:25

Axel menatap Hazel dengan raut penuh kecemasan, kedua tangannya terangkat sedikit seolah hendak menggapai jemari wanita itu namun ragu. "Hazel, Papa memintaku kemari karena katanya kamu mau memikirkan ulang soal pembatalan pernikahan kita. Tolong... beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya."

Hazel terkekeh karena geli mendengar ucapan Axel. Tawa kecil yang renyah namun sarat akan nada sindiran meluncur mulus dari bibirnya. Padahal memang Luna dan Axel sendiri lah yang menjadi penghancur
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sekarang, Giliranku!    biar waktu dan tindakan yang buktikan

    Angin laut yang berhembus kencang di atas puncak tebing membuat ujung gaun Hazel berkibar pelan. Sebelum Hazel menjawab, Axel sepertinya mengerti jika Hazel belum menemukan jawabannya. Pria itu melihat keraguan dan benteng pertahanan yang masih berdiri kokoh di balik manik mata ash brown milik Hazel.Akhirnya Axel bangkit, menepuk-nepuk celana bagian lututnya yang kotor oleh tanah berumput. Ia lalu mengatakan pada Hazel jika ia belum bisa menjawab sekarang tidak apa-apa."Aku tidak menuntut jawabanmu detik ini juga, Hazel," ujar Axel seraya menatapnya lembut. Axel memberikan waktu bagi Hazel untuk mempertimbangkannya sembari membuktikan pada Hazel kesungguhannya. "Biar waktu dan tindakanku yang membuktikannya padamu."Karena Axel sudah bicara seperti itu, jadi Hazel pun setuju. Hazel mengangguk pelan, menyilangkan tangan di dada. Hazel juga ingin tahu bagaimana performa Axel, seberapa lama pria yang dulunya sangat arogan ini sanggup bertahan dalam mode 'pria bertobat'. Tapi Hazel j

  • Sekarang, Giliranku!    minta kesempatan terakhir

    Setelah perjalanan yang cukup lama membelah kepadatan lalu lintas kota dan menanjak menyusuri tebing-tebing curam, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Mobil sport milik Axel perlahan melambat dan berhenti sempurna di pelataran rumput liar.Hazel mendorong pintu mobil, menginjakkan kakinya ke atas tanah yang empuk, lalu berjalan perlahan menyusuri tempat itu. Pandangannya seketika dimanjakan oleh batas alam yang memukau.Hamparan rumput hijau yang luas membentang luas di sekelilingnya, menyatu harmonis dengan pemandangan laut biru yang membias pendar matahari bagaikan hamparan kristal cair.Yap, Axel membawanya ke puncak pegunungan tepat di tepi pantai.Suasana yang begitu tenang dengan hembusan angin laut yang cukup kuat menerpa wajah dan menerbangkan helai rambut ash brown-nya yang terurai alami. Aroma garam yang khas bercampur kesegaran rumput basah membuat rongga dada Hazel yang semula sesak mendadak merenggang. Hazel merasa jauh lebih relaks, seolah-olah seluruh beban tumpuka

  • Sekarang, Giliranku!    blokir dan hapus

    Axel menatap Hazel dengan raut penuh kecemasan, kedua tangannya terangkat sedikit seolah hendak menggapai jemari wanita itu namun ragu. "Hazel, Papa memintaku kemari karena katanya kamu mau memikirkan ulang soal pembatalan pernikahan kita. Tolong... beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya."Hazel terkekeh karena geli mendengar ucapan Axel. Tawa kecil yang renyah namun sarat akan nada sindiran meluncur mulus dari bibirnya. Padahal memang Luna dan Axel sendiri lah yang menjadi penghancur hubungan keduanya, tapi pria ini bertingkah seolah-olah pertunangan mereka retak akibat bencana alam yang tak disengaja."Kamu ini lucu sekali, Axel," ujar Hazel sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Hazel mengatakan jika ia memang bilang pada Om Baron kalau akan memikirkan hubungan antara dirinya dengan Axel. "Tapi bukan berarti aku mencabut pembatalan pernikahan itu. Aku hanya berjanji pada papamu untuk berpikir jernih, bukan berarti aku memaafkanmu begitu saja."Axel mengembuskan napa

  • Sekarang, Giliranku!    Terngiang-ngiang

    Sinar matahari pagi menerobos mulus melewati celah tirai kamar Hazel, membiaskan pendar keemasan yang hangat di atas sprei putih. Hazel terbangun dari tidurnya yang nyenyak, mengusap matanya perlahan sembari menguap lebar. Kebetulan hari ini adalah hari libur, jadi Hazel bisa sedikit lebih santai tanpa perlu terburu-buru berdandan rapi demi mengejar fingerprint kehadiran di kantor atau jam buka butik.Namun, mengabaikan fakta bahwa fisiknya sudah cukup beristirahat, benak Hazel justru langsung riuh. Hanya saja Hazel masih terngiang-ngiang akan kejadian dengan Arlo semalam. Bayangan tatapan mata pekat pria itu saat memegang jemarinya, kejujuran suaranya yang berat, dan hadiah kalung berlian biru langka yang kini tergeletak manis di atas meja riasnya mendadak berputar ulang tanpa permisi.Bahkan saat ini wajahnya kembali memerah ketika teringat kejadian itu. Hazel menutupi pipinya yang panas dengan kedua telapak tangan, menjatuhkan kembali kepalanya ke atas bantal."Astaga, Hazel... S

  • Sekarang, Giliranku!    ditinggal

    Axel terdiam sejenak, kepalanya kembali mencerna apa yang terjadi sebelumnya. Hembusan angin malam yang dingin di atas Bukit Berbintang seolah sedikit menusuk otaknya, meluruhkan kabut emosi yang selama ini menyumbat logikanya. Kali ini Axel sedikit sadar dan menurutnya memancing rasa cemburu Hazel dengan jalan dengan Luna bukan cara yang benar.Ia menatap sosok Luna di sampingnya. Justru jika diingat-ingat kembali dengan kepala dingin, hubungan antara dirinya dan Hazel selalu bertengkar dan lebih renggang jika bersama dengan LuLunaSetiap kali ada kemelut, keberadaan Luna bukannya menjadi penengah, melainkan minyak tanah yang menyiram kobaran api.Bahkan Axel sempat memikirkan pertanyaan Hazel sebelum hubungan mereka benar-benar sehancur ini. Suara serak Hazel yang bergetar menahan tangis malam itu mendadak bergema nyaring di dalam gendang telinganya."Kamu mengenaliku bukan cuma satu atau dua hari saja, Axel! Tapi kamu benar-benar tidak bisa melihat siapa korban sebenarnya di sini?

  • Sekarang, Giliranku!    apa isinya?

    Hazel terkejut karena saat ia menoleh ke sampingnya, Arlo sudah di sana—berdiri begitu dekat hingga hembusan napas hangat pria itu terasa merayapi kulit pipinya. Kehadiran Arlo yang tanpa suara membuat Hazel terpaku, sehingga kedua mata mereka saling bertemu. Cukup lama keduanya bertatapan mata. Manik mata Arlo yang pekat menatap Hazel dengan pendar kehangatan yang amat dalam, seolah mengunci seluruh fokus dunia hanya pada gadis di hadapannya.Di tengah keheningan yang tercipta di antara mereka, Hazel mendadak merasakan desiran aneh di dadanya. Denyut nadinya berpacu liar, jauh lebih cepat daripada saat ia dikejutkan oleh ledakan confetti tadi."A-Arlo?" batinnya gugup. Hingga akhirnya Hazel tersadar karena detak jantungnya yang tidak stabil. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke sembarang arah, mengusap leher belakangnya dengan canggung. Hazel langsung salah tingkah dibuatnya. Pipinya merona merah, dan ia pura-pura sibuk merapikan tatanan gaun manekin di dekatnya agar tidak ketah

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    2. Kesempatan Kedua

    Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status