Share

sandiwara gagal

Penulis: Perfect Wife
last update Tanggal publikasi: 2026-08-31 20:17:14

Langkah kaki Hazel terhenti tepat di batas karpet bulu ruang keluarga. Suara isakan Luna yang mendayu-dayu berpadu dengan usapan penuh drama dari Rona menciptakan panggung pertunjukan yang sangat familiar.

John, yang duduk di sofa utama dengan segelas air dingin di genggamannya, seketika menoleh begitu mendengar derap langkah Hazel. Matanya menyalang penuh amarah.

"Bagus! Akhirnya kamu pulang juga, Hazel!" bentak John keras, langsung berdiri hingga air di gelasnya berguncang. "Kamu puas sekara
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sekarang, Giliranku!    sandiwara gagal

    Langkah kaki Hazel terhenti tepat di batas karpet bulu ruang keluarga. Suara isakan Luna yang mendayu-dayu berpadu dengan usapan penuh drama dari Rona menciptakan panggung pertunjukan yang sangat familiar. John, yang duduk di sofa utama dengan segelas air dingin di genggamannya, seketika menoleh begitu mendengar derap langkah Hazel. Matanya menyalang penuh amarah."Bagus! Akhirnya kamu pulang juga, Hazel!" bentak John keras, langsung berdiri hingga air di gelasnya berguncang. "Kamu puas sekarang?! Lihat apa yang sudah kamu perbuat pada adikmu!"Hazel menghentikan usahanya untuk memutar bola mata. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, berdiri tegak dengan sikap tenang yang teramat kontras dibanding ketegangan di ruangan itu. Bumbu komedi hadir dari raut wajah Hazel yang justru terlihat sangat mengantuk ketimbang panik, seperti seseorang yang dipaksa menonton siaran ulang sinetron episodenya sudah ia hafal luar kepala."Ada apa lagi, Pa?" tanya Hazel datar, tanpa nada ketakutan sed

  • Sekarang, Giliranku!    biar waktu dan tindakan yang buktikan

    Angin laut yang berhembus kencang di atas puncak tebing membuat ujung gaun Hazel berkibar pelan. Sebelum Hazel menjawab, Axel sepertinya mengerti jika Hazel belum menemukan jawabannya. Pria itu melihat keraguan dan benteng pertahanan yang masih berdiri kokoh di balik manik mata ash brown milik Hazel.Akhirnya Axel bangkit, menepuk-nepuk celana bagian lututnya yang kotor oleh tanah berumput. Ia lalu mengatakan pada Hazel jika ia belum bisa menjawab sekarang tidak apa-apa."Aku tidak menuntut jawabanmu detik ini juga, Hazel," ujar Axel seraya menatapnya lembut. Axel memberikan waktu bagi Hazel untuk mempertimbangkannya sembari membuktikan pada Hazel kesungguhannya. "Biar waktu dan tindakanku yang membuktikannya padamu."Karena Axel sudah bicara seperti itu, jadi Hazel pun setuju. Hazel mengangguk pelan, menyilangkan tangan di dada. Hazel juga ingin tahu bagaimana performa Axel, seberapa lama pria yang dulunya sangat arogan ini sanggup bertahan dalam mode 'pria bertobat'. Tapi Hazel j

  • Sekarang, Giliranku!    minta kesempatan terakhir

    Setelah perjalanan yang cukup lama membelah kepadatan lalu lintas kota dan menanjak menyusuri tebing-tebing curam, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Mobil sport milik Axel perlahan melambat dan berhenti sempurna di pelataran rumput liar.Hazel mendorong pintu mobil, menginjakkan kakinya ke atas tanah yang empuk, lalu berjalan perlahan menyusuri tempat itu. Pandangannya seketika dimanjakan oleh batas alam yang memukau.Hamparan rumput hijau yang luas membentang luas di sekelilingnya, menyatu harmonis dengan pemandangan laut biru yang membias pendar matahari bagaikan hamparan kristal cair.Yap, Axel membawanya ke puncak pegunungan tepat di tepi pantai.Suasana yang begitu tenang dengan hembusan angin laut yang cukup kuat menerpa wajah dan menerbangkan helai rambut ash brown-nya yang terurai alami. Aroma garam yang khas bercampur kesegaran rumput basah membuat rongga dada Hazel yang semula sesak mendadak merenggang. Hazel merasa jauh lebih relaks, seolah-olah seluruh beban tumpuka

  • Sekarang, Giliranku!    blokir dan hapus

    Axel menatap Hazel dengan raut penuh kecemasan, kedua tangannya terangkat sedikit seolah hendak menggapai jemari wanita itu namun ragu. "Hazel, Papa memintaku kemari karena katanya kamu mau memikirkan ulang soal pembatalan pernikahan kita. Tolong... beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya."Hazel terkekeh karena geli mendengar ucapan Axel. Tawa kecil yang renyah namun sarat akan nada sindiran meluncur mulus dari bibirnya. Padahal memang Luna dan Axel sendiri lah yang menjadi penghancur hubungan keduanya, tapi pria ini bertingkah seolah-olah pertunangan mereka retak akibat bencana alam yang tak disengaja."Kamu ini lucu sekali, Axel," ujar Hazel sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Hazel mengatakan jika ia memang bilang pada Om Baron kalau akan memikirkan hubungan antara dirinya dengan Axel. "Tapi bukan berarti aku mencabut pembatalan pernikahan itu. Aku hanya berjanji pada papamu untuk berpikir jernih, bukan berarti aku memaafkanmu begitu saja."Axel mengembuskan napa

  • Sekarang, Giliranku!    Terngiang-ngiang

    Sinar matahari pagi menerobos mulus melewati celah tirai kamar Hazel, membiaskan pendar keemasan yang hangat di atas sprei putih. Hazel terbangun dari tidurnya yang nyenyak, mengusap matanya perlahan sembari menguap lebar. Kebetulan hari ini adalah hari libur, jadi Hazel bisa sedikit lebih santai tanpa perlu terburu-buru berdandan rapi demi mengejar fingerprint kehadiran di kantor atau jam buka butik.Namun, mengabaikan fakta bahwa fisiknya sudah cukup beristirahat, benak Hazel justru langsung riuh. Hanya saja Hazel masih terngiang-ngiang akan kejadian dengan Arlo semalam. Bayangan tatapan mata pekat pria itu saat memegang jemarinya, kejujuran suaranya yang berat, dan hadiah kalung berlian biru langka yang kini tergeletak manis di atas meja riasnya mendadak berputar ulang tanpa permisi.Bahkan saat ini wajahnya kembali memerah ketika teringat kejadian itu. Hazel menutupi pipinya yang panas dengan kedua telapak tangan, menjatuhkan kembali kepalanya ke atas bantal."Astaga, Hazel... S

  • Sekarang, Giliranku!    ditinggal

    Axel terdiam sejenak, kepalanya kembali mencerna apa yang terjadi sebelumnya. Hembusan angin malam yang dingin di atas Bukit Berbintang seolah sedikit menusuk otaknya, meluruhkan kabut emosi yang selama ini menyumbat logikanya. Kali ini Axel sedikit sadar dan menurutnya memancing rasa cemburu Hazel dengan jalan dengan Luna bukan cara yang benar.Ia menatap sosok Luna di sampingnya. Justru jika diingat-ingat kembali dengan kepala dingin, hubungan antara dirinya dan Hazel selalu bertengkar dan lebih renggang jika bersama dengan LuLunaSetiap kali ada kemelut, keberadaan Luna bukannya menjadi penengah, melainkan minyak tanah yang menyiram kobaran api.Bahkan Axel sempat memikirkan pertanyaan Hazel sebelum hubungan mereka benar-benar sehancur ini. Suara serak Hazel yang bergetar menahan tangis malam itu mendadak bergema nyaring di dalam gendang telinganya."Kamu mengenaliku bukan cuma satu atau dua hari saja, Axel! Tapi kamu benar-benar tidak bisa melihat siapa korban sebenarnya di sini?

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status