Musim gugur perlahan melarikan diri, berganti menjadi hembusan dingin awal musim salju yang lembut. Kabut putih tebal saban pagi membungkus lembah perbukitan Utara, menyulap pepohonan pinus hijau menjadi deretan raksasa berhias kristal es tipis. Namun di dalam pondok kayu di lereng gunung itu, kehangatan tidak pernah pudar. Asap tipis membumbung pelan dari cerobong dapur setiap pagi, membawa aroma kayu bakar dan rebusan sup herbal segar.Kehidupan baru mereka berjalan dalam irama yang sangat damai. Hao Yu menjalani hari-harinya sebagai pria pegunungan sejati. Setiap pagi, ia membelah gelondongan kayu bakar dengan kapak besinya, merawat dua ekor kuda di kandang samping, atau berkeliling hutan membawa busur panah untuk berburu kelinci liar. Warga desa kecil di kaki bukit sama sekali tidak tahu bahwa pria berwajah tegas dengan bekas luka di pipi itu adalah seorang Pangeran dari Canglan. Mereka hanya mengenalnya sebagai 'Tuan Yu', seorang pemburu ulung yang tidak segan membantukan tenagan
Read more