Home / Romansa / Dua Wajah Sang Kaisar / BAB 92: Pergulatan di Aula Utama

Share

BAB 92: Pergulatan di Aula Utama

Author: Kyung Eya
last update publish date: 2026-09-14 21:00:56

Pagi hari di ibu kota disambut langit mendung tebal yang menggantung rendah. Aula Utama Istana Kebesaran yang biasanya menjadi tempat sidang kerajaan kini diubah menjadi panggung pengadilan tertinggi. Ratusan pejabat sipil, menteri tua, serta perwira militer berdiri membentuk barisan ketat di sepanjang lorong marmer.

Di atas podium utama, Pangeran Xiu Wei duduk berdampingan dengan Ibu Suri Mu Rong. Sementara itu, Pangeran Hao Yu berd

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 108: Perjalanan Menuju Puncak Canglan

    Langit di atas Pegunungan Utara tidak lagi berwarna hitam beludru. Pendar sinar rembulan yang biasanya berwarna perak lembut kini perlahan-lahan terserap oleh bayangan bumi, berganti menjadi warna merah tembaga yang mengerikan sekaligus magis. Gerhana bulan merah telah tiba di puncaknya. Sinar kemerahan itu menembus kabut tebal, memantul di atas hamparan salju perbukitan dan menyulap seluruh lanskap hutan pinus menjadi bagaikan lautan darah yang membeku.Di depan pintu pondok kayu, Dukun Suci Kekaisaran berdiri tegak dalam jubah hitam bersulam benang perak. Angin malam yang kencang mengibarkan helai rambut peraknya yang terurai, namun sosoknya tetap tak bergeming bagaikan patung batu. Di sampingnya, Nenek Cenayang Pegunungan memegang sebatang tongkat kayu pinus tua, manik mata kelabunya menatap lurus ke arah puncak tertinggi Pegunungan Canglan.

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 107: Kehangatan Sebelum Badai

    "Jangan pernah potong rambut Nian Zhi sampai usianya genap tujuh tahun."Hao Yu menghentikan jemarinya yang sedang memegang sisir kayu cendana. Di dalam kamar pondok yang remang-remang oleh pendar api perapian, ia menatap bayangan wajah Yi Fang dari balik cermin tembaga kusam di meja rias. Rambut hitam pekat milik istrinya yang halus bagaikan sutra terurai panjang hingga melewati pinggang, jatuh lembut di atas selimut kain rami."Kenapa harus menunggu sampai tujuh tahun?" bisik Hao Yu. Suara baritonnya terdengar amat pelan, bergetar menahan desakan sesak di dada yang tak kunjung surut.Yi Fang menyunggingkan senyuman paling tipis, menikmati setiap helai usapan sisir kayu yang ditarik pelan oleh Hao Yu dari pangkal kepala hingga ujung rambutnya."Di tempat asalku... atau setidaknya dari cerita-cerita tua yang pernah kubaca," tutur Yi Fang seraya memejamkan mata, meresapi kehangatan jemari suaminya, "seorang anak yang lahir di tengah badai harus dibiarkan rambutnya memanjang sebagai ben

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 106: Nyala Kecil Sebelum Gulita

    Tidak ada lagi pembicaraan mengenai tabib, obat-obatan herbal, atau pencarian mantra penyembuhan. Keputusan telah diambil, dan kini yang tersisa hanyalah kepasrahan yang manis serta duka yang teramat dalam namun dibungkus oleh rasa kasih yang meluap.Pagi itu, sinar matahari terbit memancarkan warna keemasan yang lembut menembus celah jendela. Di dalam kamar, Yi Fang duduk bersandar di tumpukan bantal wol tebal. Wajahnya masih pucat pasi dan tubuhnya makin melemah seiring berjalannya hari, namun matanya memancarkan kedamaian yang tak tergoyahkan.Di pangkuannya, terbentang selembar kain selimut bayi berbahan rami paling halus. Jemari lenturnya yang kian kurus dan dingin memegang sebatang jarum perak kecil serta benang sutra berwarna indigo dan emas. Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Yi Fang menusukkan jarum itu menembus serat kain, menganyam pola sulaman yang indah.Hao Yu melangkah masuk membawa sebuah mangkuk tanah liat berisi sup kaldu burung puyuh hangat yang ia rebus sejak su

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 105: Keputusan di Bawah Rembulan

    "Jangan berbohong padaku, Hao Yu. Tatap mataku saat kau bicara."Suara Yi Fang terdengar begitu tipis, menyerupai hembusan angin malam yang menerobos lewat celah jendela kayu. Namun, nada di balik bisikan itu memiliki keteguhan yang sanggup meruntuhkan pertahanan terbatin pria tegap di hadapannya.Hao Yu berdiri mematung di ambang pintu kamar. Langkah kakinya yang biasa begitu mantap dan kokoh kini terasa seberat bongkahan batu gunung. Pria yang baru saja kembali dari gua Puncak Pinus Merah itu menundukkan kepalanya sangat rendah. Bahunya yang lebar bergetar halus, mencoba menahan emosi dahsyat yang mencabik-cabik dadanya sejak ia melangkah turun menyusuri jalan setapak bersalju."Aku... aku hanya kelelahan," sahut Hao Yu parau. Suara baritonnya pecah. Ia menolak menaikkan p

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 104: Bisikan sang Cenayang Pegunungan

    Suasana di dalam gua batu Puncak Pinus Merah mendadak hening total. Hanya terdengar derak halus dari ranting kayu yang terbakar di perapian kecil. Asap tipis yang membawa aroma wangi akar kayu hutan dan daun mint kering membumbung pelan ke udara, memberikan sensasi hangat yang menenangkan saraf-saraf Hao Yu yang tegang.Nenek Cenayang menatap pria tegap di hadapannya dengan pandangan yang dalam. Matanya mengamati bekas luka jahitan di pipi Hao Yu, membaca garis-garis kepedihan di dahinya, serta merasakan gelora keputusasaan dahsyat yang sedang mengamuk di dalam dada sang mantan panglima."Anak muda yang perkasa," tutur Nenek Cenayang dengan suara yang sangat lembut, bagaikan belas kasih seorang ibu yang menenangkan anaknya yang sedang ketakutan. "Kau telah memenangkan banyak pertempuran berdarah dengan pedang dan taktikmu di medan pe

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 103: Jejak Petunjuk di Hutan Pinus

    Kabar mengenai kondisi Yi Fang yang tak kunjung membaik setelah pemeriksaan Tabib Shen bergerak lebih cepat daripada angin dingin yang menyapu perbukitan. Surat burung merpati darurat yang dikirimkan oleh sang tabib utama istana akhirnya tiba di meja kerja Raja Xiu Wei. Hanya butuh waktu dua hari bagi ibu kota untuk bertindak. Sebuah kereta kuda kayu cendana hitam tanpa embel-embel lambang kekaisaran tiba di kaki bukit Pegunungan Utara saat matahari berada tepat di puncak kepala.Dari dalam kereta kuda itu, melangkah keluar seorang pria berjubah hitam pekat. Kain sutra jubahnya disulam rumit dengan helai benang perak membentuk aksara-aksara kuno penjaga batas alam. Rambut peraknya terurai bebas diterpa angin dingin, memantulkan sinar matahari dengan pendar asing. Dialah Dukun Suci Kekaisaran—sosok misterius yang sangat jarang meninggalkan altar suci istana, sang penjaga rahasia keseimbangan energi spiritual seluruh tanah Canglan.Tanpa mengindahkan kepulan asap napas dari para pengawa

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 5: Pelarian ke Ujung Dunia

    Lampu-lampu kota melintas di luar jendela mobil bagaikan garis-garis cahaya yang buram dan membingungkan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mengemudikan sedan hitamku membelah jalanan protokol yang mulai lengang oleh kendaraan. Kepalaku terasa kosong, hampa, namun di saat yang sama, ada badai ya

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 4: Sayap yang Dipatahkan

    Wang Jun terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat meremehkan dan sarat akan keangkuhan, seolah pertanyaan defensif yang kuajukan adalah hal paling konyol dan naif yang pernah dia dengar dari seorang wanita paruh bangkrut."Seorang wanita yang menyandang nama belakang Marga Wang tidak perlu

  • Dua Wajah Sang Kaisar   Bab 3: Jamuan di Atas Air Mata

    Lampu kristal raksasa yang menggantung megah di langit-langit restoran fine dining hotel bintang lima itu memancarkan kilau keemasan yang menyilaukan. Cahayanya memantul di atas permukaan meja panjang dari kayu jati solid yang dipoles sempurna tanpa noda, menciptakan ilusi yang mewah. Di atas meja i

  • Dua Wajah Sang Kaisar   Bab 2: Jeruji Berbalut Emas

    Ayah menarik napasnya dengan payah, dadanya kembang kempis tak beraturan. Cengkeramannya di pergelangan tanganku mengendur, meninggalkan rasa kebas yang menjalar hingga ke ujung jari. Keheningan kembali merayap di dalam Jia’s Atelier, namun kali ini terasa jauh lebih pekat dan menakutkan daripada s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status