"Ya, karena Aryo lebih sayang padaku." "Hahaha." Arina tertawa geli. "Dengar baik-baik, Davina. Aku nggak ada perasaan sama Aryo. Jadi, ambil saja sepuasmu sana. Jika sebelumnya aku terlihat berharap sama dia, itu hanya karena aku ingin mempertahankan pernikahan dan ingin dia berubah. Tapi, nyatanya sama saja. Jadi, buat apa aku mengharapkannya. Justru aku muak dan ingin segera bercerai."Davina mengepalkan tangan. "Oh beneran mau cerai ya? Sepertinya kamu serius sekali. Tapi, apa kamu nggak mikir? Orang sepertimu memang ada yang mau?" tertawanya mengejek.Arina menahan diri. "Mau ada yang suka atau nggak. Itu bukan masalah besar. Toh, aku lebih suka mencintai diriku sendiri." Dia mendekat ke arah Davina lalu mengibaskan tangan di pundak wanita itu. “Saranku lebih baik kamu temuin cara buat ambil hati ibunya Aryo. Tahu sendiri, kan? Ibunya Aryo membencimu."Arina tersenyum mengejek, membuat wajah Davina merah karena emosi berlebihan. "Arina! Kamu keterlaluan!" "Pulang sana! Aku mua
Dernière mise à jour : 2026-07-13 Read More