Arina memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan lembut Gavin di dadanya. Jarinya tanpa sadar mencengkeram lengan laki-laki itu sedikit lebih kuat seiring gerakan tangan Gavin yang perlahan berubah semakin berani."Gavin... pelan-pelan," bisiknya lirih, napasnya mulai tak beraturan.Gavin mengangkat wajahnya sejenak, lalu tersenyum tipis. Tatapannya dipenuhi rasa kagum yang sulit disembunyikan."Aku nggak bisa pelan, Arina," ucapnya pelan. "Kamu terlalu menggemaskan."Kalimat sederhana itu langsung membuat pipi Arina memanas. Dia menggigit bibir bawahnya sejenak, berusaha menyembunyikan rasa malu yang terus memenuhi wajahnya.Dengan ragu, Arina membuka mata dan menatap Gavin yang berada begitu dekat. Tatapan mereka bertemu cukup lama hingga akhirnya Arina memberanikan diri mendekat. Perlahan, dia mengecup bibir Gavin.Awalnya Gavin tampak sedikit terkejut. Dia tak menyangka Arina akan mengambil inisiatif lebih dulu. Namun keterkejutan itu segera berubah menjadi senyum tipis. Dia memba
Dernière mise à jour : 2026-07-25 Read More