"Sha, dengerin aku." Suara Rama semakin jelas terdengar panik. "Rumah kita kebakaran."Manisha membeku di kursinya, ponsel masih menempel erat di telinga. "Apa? Rama, kamu bercanda, kan?""Aku serius, Sha! Aku baru dapat telepon dari petugas keamanan kompleks. Aku bersiap pulang sekarang.""Rama, aku ikut! Aku juga mau ke sana!""Jangan, Sha! Kamu di rumah orang tuaku aja dulu, biar aman!""Nggak, Rama! Itu rumah kita! Aku harus lihat sendiri!"Sambungan telepon terputus sebelum Rama sempat membalas. Manisha berdiri cepat, tangannya gemetar hebat memegang ponsel yang masih menyala di genggamannya."Sha, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," tanya Arumi cemas, ikut berdiri dari kursinya."Ma, rumah aku dan Rama kebakaran," ucap Manisha. Suaranya bergetar menahan tangis. "Aku harus kesana sekarang.""Astaga! Sha, tunggu, biar Ibu suruh sopir antar kamu!""Nggak sempat, Ma!"“Kalau begitu, ambil pakai mobil Mama. Ambil kuncinya di kamar Mama, di dekat lampu tidur, di atas laci meja.”Manis
Terakhir Diperbarui : 2026-08-14 Baca selengkapnya