Suasana ruang rapat pagi itu terasa begitu berat. Di atas meja kayu panjang, berkas-berkas proposal proyek iklan properti Baskara Group tertata rapi. Pak Rizal, sebagai kepala tim, duduk dengan wajah serius, sesekali mengetuk-ngetukkan pulpen ke tabletnya. Di sisi lain meja, Vior duduk terdiam, matanya menatap kosong pada layar monitor. Ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak melirik ke arah Elian yang duduk di ujung meja sebagai pemimpin rapat."Pak Elian," suara Pak Rizal memecah kesunyian yang kental. "Kami sudah melakukan riset mendalam. Jika kita berbicara soal angka, profesionalisme, dan dampak pasar, Nathasa adalah pilihan mutlak. Popularitasnya sedang di puncak, dan agensinya menawarkan syarat yang sangat masuk akal bagi perusahaan. Mengganti model sekarang hanya akan membuat kita membuang waktu dan anggaran."Elian menyilangkan tangan di dada. Matanya tidak beralih dari satu titik di dinding, namun rahangnya mengeras. "Saya sudah bilang, cari opsi lain.""Dengan segala hormat,
Read more